
"Boleh kukatakan sesuatu?"
"Apa?"
"Kurasa yang meneror ini bukanlah lelaki. Tidak tahu kenapa, tapi menurutku lelaki tidak suka berpikiran terlalu jauh seperti ini. Lelaki lebih suka action. Pakai tenaga."
Fix, ini membuat keningku mengerut. "Jadi, menurutmu ini...?"
"Jangan cemburu. Tapi sepertinya ada yang sedang mengejar cintaku."
Iyuuuh... percaya dirinya luar biasa.
"Jangan diambil hati, Sayang," katanya seraya merangkulkan tangan di pundakku. "Dan kamu tidak perlu khawatir. Cinta dan sayangku tetap selalu untukmu. Hanya untukmu."
Dengan satu kecupan manis di pipi, Mas Ilham meninggalkan aku yang mematung sambil manyun karena kelakuannya yang super konyol itu.
__ADS_1
Percaya dirinya itu, lo... luar biasa.
Sambil manyun, aku berjalan melewati Mas Ilham yang memarkirkan diri di atas sofa. Dia masih saja cekikikan melihat ekspresiku yang sebal pada sikapnya yang konyol.
Di dapur, aku langsung mencuci buah-buah potong itu sampai bersih, termasuk memakai si hijau, cairan khusus pembersih buah dan membilasnya berulang-ulang, kemudian mencelupkannya ke dalam air hangat. Saat aku sedang fokus dengan pekerjaanku, aku kaget mendengar suara Umi yang tahu-tahu ada di belakangku.
"Kok nyucinya sampai berulang-ulang?" tanyanya.
Duuuh... alamat mesti berbohong lagi ini, mah.
Senyum Umi mengembang, ia tertawa kecil. "Iya, Umi maklum. Namanya juga kehamilan pertama. Pasangan suami istri biasanya memang seperti itu. Waspadanya ekstra."
Ya Tuhan... kamu di mana, sih, Mas...? Masa aku mesti merangkai kata demi kata demi menutupi kebohongan ini? Ini itu ibumu, lo, yang mesti kuberi alasan-alasan yang sulit dan sangat tidak apa adanya.
"Kamu mau bikin bumbu rujaknya sekarang, Nduk?"
__ADS_1
Ya ampun, jujur saja aku malas. Kepingin cepat rebahan. "Besok saja, Umi. Sudah malam juga. Bila takut sakit perut soalnya."
Huh! Begini ni karena tidak pandai berbohong. Benar, tidak, sih, jawabanku? Atau jangan-jangan ibu mertuaku itu kepingin makan rujaknya saat itu juga? Dasar peneror sialan. Dia membuat hidupku jadi sulit bin ribet.
"Atau Umi mau merujaknya sekarang? Biar Bila buatkan bumbunya?" kataku, meralat kalimatku yang tadi.
Ibu mertuaku menggeleng... tapi jawabannya begini, "Tidak usah, Nduk. Ndak baik merepotkan ibu hamil." Lalu ia berjalan ke arah kemari es, mengambil sebutir apel dan pisau, lalu duduk di meja makan.
Nah, lo? Apa sebenarnya beliau mau makan buah-buah potong itu, tapi tidak enak kepadaku?
"Sebentar, Umi," kataku. Kutaruh buah potong yang sudah kucuci bersih dan kuwadahi nampan plastik itu ke atas meja -- terpaksa kutaruh di dekat ibu mertuaku, supaya aku tidak dianggap pelit dan tidak dianggap menyembunyikan buah-buahan itu darinya, dan, sambil berdoa di dalam hati semoga beliau tidak memakannya lebih dulu sebelum Mas Ilham yang mencoba. Toh, Mas Ilham sendiri yang ingin menjadi tester pertamanya.
Dengan bergegas, aku menghampiri Mas Ilham yang masih duduk di ruang keluarga sambil menikmati tayangan televisi.
"Buah potongnya di dapur, terpaksa kutaruh di dekat Umi. Tapi aku bukan bermaksud menjadikan Umi sebagai kelinci percobaan, lo, ya," kataku dengan penuh antisipasi.
__ADS_1
Tetapi, Mas Ilham malah cengengesan. Dia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arah dapur, lalu duduk di samping Umi. Dicicipinya buah itu, dan...