Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
OMG Waw!


__ADS_3

"Panggilkan, Dik!" kata Mbak Indah. "Suruh bantu Mas Muslim mengangkut barang-barang ini ke dalam."


Aku mengangguk tanpa komentar. Terserah Mas Ilham saja, pikirku, nanti dia mau bicara apa kepada keluarganya ketika melihat sembako sepikap full itu. Aku mah terima saja, entah kapan habisnya semua itu mengingat kami hanya tinggal berdua. Yang pasti, yang terpikirkan olehku adalah: kapan habisnya beras dua karung dengan ukuran masing-masing 20 KG itu? Ditambah lagi yang kami beli di pasar tadi 20 KG. Sebanyak-banyaknya Mas Ilham makan, tetap saja pasti bakal lama habisnya. Dan aku tahu, bukan ranahku untuk mengatakan apa pun selain rasa syukur. Alhamdulillah aku diberi mertua dan ipar-ipar yang luar biasa baik. Toh, sembako lainnya pasti barang-barang yang awet dan masih lama masa kadaluarsanya. Pun ikan yang mereka bawakan, puji syukur dalam keadaan hidup dan bisa ditampung di dalam bak belakang. Ada dua bak kecil yang memang dikhususkan untuk memelihara ikan. Mau dibilang itu kolam ikan, ukurannya kecil sekali. Jadi, terserahlah. Katakanlah itu dua bak air untuk menampung ikan. Satu-satunya yang membuatku bingung mau diapakan dan dikemanakan, yaitu sekeranjang sayur -- Alhamdulillah hanya berukuran sedang. Isinya macam-macam, nyaris sama dengan apa saja yang kami beli di pasar tadi. Terong dan timunnya pun tak kalah segar dan tak kalah besar. Pasti dari perkebunan Abi Rahman, pikirku.


Sambil berusaha menutupi segala perasaan yang membuatku tercengang, aku pun melenggang masuk mencari Mas Ilham yang ternyata sudah menceburkan diri ke kolam renang.


Duuuuuh... pria malang.


"Benar Mbak Indah yang datang?"


"Hu'um. Sama Umi dan Mas Muslim juga," jawabku.


"Sama Mas Muslim juga?" tanyanya cepat. "Tumben ramai-ramai."


"Iya. Mereka bawa sembako sepikap, kamu diminta bantu ngangkut."


Mas Ilham menggeleng-geleng. "Ya ampun... kok tidak bilang dulu, ya? Tahu tadi kan--"


"Alhamdulillah, Mas...."


"Iya. Alhamdulillah."


"Hu'um, keluarga Mas semuanya baik. Perhatian," sanjungku.


Mas Ilham hanya tersenyum dan tidak jadi melanjutkan celotehannya lagi. Walaupun aku tahu kalau dia sebenarnya tidak bermaksud untuk mengeluhkan perhatian dari keluarganya. Itu hanya sifat manusiawinya sebagai manusia biasa.


Dengan tubuhnya yang basah, Mas Ilham pun keluar dari kolam renang. Tubuhnya yang basah itu semakin terlihat seksi saja dengan buliran-buliran bening yang membuat kulitnya lembap, dan bulu-bulu di rahang serta bulu-bulu yang menghiasi dada bidangnya terlihat lebih tipis, juga rambutnya yang disisir jari rapi ke belakang. Dia nampak sempurna. Apalagi...


Boxer pendeknya yang... aduuuuuh... fix membuatku berfantasi liar.


"Mas?"


"Apa?" tanyanya seraya mengambil handuk.


"Aku mau pegang...."


"Pegang apa?"


Sambil nyengir kuda, aku pun menghampirinya lebih dekat dan menyentuhkan tanganku ke dada bidangnya yang berbulu. Dan, aku jadi terkikik sendiri. "Kamu seksi," bisikku.

__ADS_1


"O ya?"


Kumaaaaat... lagi. Dia memojokkanku ke dinding belakang dan menjadikanku tawanan sekejap. Dengan kepala sedikit dimiringkan, dia membungkam bibirku lagi, dengan kedua tangan menangkup lekuk leherku, ciumannya semakin panas dan liar. "Aku masih terbakar, Zahra," katanya di depan wajahku, lalu dia menciumku lagi, lebih dalam dan lebih bergairah.


"Woy!" tegur Mbak Indah yang tahu-tahu muncul di ambang pintu. "Bantu Mas Muslim di depan sana...."


Dengan memberengut, Mas Ilham melepaskanku yang bertambah salah tingkah karena malu pada Mbak Indah sebab ketahuan sedang bermesraan dengan sang adik. Meskipun tidak ada yang salah, selain waktu dan situasinya.


"Kalau mau datang mbok ya ngasih kabar dulu, Mbak," celoteh Mas Ilham, ia kembali menggerutu.


Itu kesenangannya yang satu itu, sepertinya dia akan selalu begitu, ya, kalau terganggu? Oh, Mas... Mas. Tapi maklumlah, namanya juga pengantin baru. Seorang ustadz kan juga manusia, punya hati, punya rasa, juga punya hasrat yang membahana.


Eh?


Peace....


Dan, Mbak Indah pun terkikik sambil berlalu.


"Sabar... masih ada banyak waktu," kataku, lalu aku membelai brewoknya. "Yang pasti nanti malam, aku bersedia bercinta denganmu seperti orang yang sedang sakit jiwa."


Ouwh... bibir itu kembali menyambarku. "Baiklah. Nanti malam," katanya. "Aku menantikanmu, Zahra. Kita akan bercinta seperti orang yang sakit jiwa."


Ya Tuhan... aku memang memancingnya, tapi alhasil, aku bergidik ngeri. Cengiran edan di wajah tampan Mas Ilham kembali memancar dengan penuh arti. Lalu, dia meraih tanganku, menelusurkan jemariku dari dada bidangnya hingga turun ke....


"Kau...," katanya di telinga, "mesti menanggung rasa tersiksaku ini, Zahra. Aku akan membalasmu."


Ampuuuuun... dasar pria gila!


Aku gemetar mendengar bisikan sensualnya yang bagaikan tiupan angin dari surga, namun terasa panas bagaikan bara api dari neraka.


Ck! Sok tahu kamu, Bil. Memangnya kamu pernah ke surga? Atau ke neraka? Eh?


Tapi asli, hasratnya yang terbakar dan tak meredam walaupun ia sudah menyelam ke dalam air, sungguh membuatku bertanya-tanya, bagaimana nasibku nanti malam? Hmm? Aduuuh... alamat ringsek ini, mah!


Dengan handuk di tangannya, Mas Ilham menutupi area auratnya, membelitkannya menutupi pinggang hingga ke lututnya. Namun tetap saja, dada dan punggungnya sangat mempesona.


Ukh! Dia membuat Zahra benar-benar terpana, ya, Tuhan....


Kamulah makhluk Tuhan yang tercipta yang paling seksi. Cuma kamu yang bisa membuatku semakin menjerit. Auw, auw, auw.... ih, ih, ih, ih, ih....

__ADS_1


Zahra tergila-gila padamu, Mas....


"Kok kamu ndak pakai baju, Leh?" tanya Umi pada sang anak.


Mas Ilham cengengesan. "Tadi kami dari pasar, Mi. Belanja. Jadi gerah. Ya sudah, Ilham nyebur ke kolam."


"Bohong, Mi... cuma alasan," nyinyir Mbak Indah sambil cekikkan.


Oalaaah... jadi kepiting rebus aku. Fix, wajahku merah merona.


"Sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat. Pengantin baru terganggu," celetuk Mbak Indah lagi.


Umi ikut terkikik. Dia paham yang dimaksud oleh anak perempuannya. Pun Mas Muslim yang ikut cengengesan.


"O ya?" imbuhnya. "Apa kita mesti pulang dulu?"


Kali ini Mas Ilham tersipu malu karena jadi bulan-bulanan kakak dan kakak iparnya, plus Umi.


"Ya sudah," kata Umi. "Kalian ke kamar saja. Biar Mas Muslim dan Mbak Indah yang ngangkut barang-barang ini ke dapur."


Mas Ilham kumat. "Mau, nggak, Sayang? Yuk?"


Aku mendelik. "Jangan gila, dong, Mas...! Aku malu...."


"Assalamu'alaikum...."


Hmm... Mas Farid menyetop laju motorku yang ia kendarai tepat di depan rumah.


"Ini, kiriman dari Pakde dan Bude."


Ya Allah... Alhamdulillah... dua karung beras tidak tahu ukuran berapa kilo -- karena itu hasil panen sawah pesantren -- nangkring cantik di jok belakang motorku lalu diturunkan Mas Farid ke teras, plus, sekarung kecil -- karung anyaman khusus sayur -- sayur hasil panen dari kebun pesantren pun turut dikirimkan oleh kedua orang tuaku.


"Terima kasih, ya, Mas," kata Mas Ilham. "Duh... senangnya, semua orang perhatian sekali pada kami berdua."


Mas Farid yang membantu mengangkut barang-barang itu pun mengangguk-angguk dan tersenyum bersama dengan yang lainnya.


Sedangkan aku? Selain tersenyum, kuteguk salivaku sendiri melihat sayur-sayur yang sama itu.


OMG... waw! Terong lagi, timun lagi.

__ADS_1


Dan Mas Ilham pun nyengir kuda.


Zahra ngeri, Mas....


__ADS_2