
Benar-benar pemandangan yang indah. Begitu aku membuka pintu beranda di kamar baruku, bunga-bunga yang berwarna-warni yang terhampar luas di belakang sana benar-benar menyejukkan mata. Udara segar memberikan kenikmatan tersendiri bagi pernapasanku yang baru merasakan keasrian lingkungan baruku ini. Dan, ditambah lagi, di bawah kamarku, di halaman belakang rumah kami, ada kolam renang yang walaupun sederhana tapi tampak begitu nyaman. Keberadaannya yang tertutup pagar dengan tembok yang super tinggi hampir setinggi beranda kamarku, membuat tempat itu klik di hatiku, sangat privasi. Aku menyukainya, bahkan rasanya aku ingin melompat langsung dari beranda kamarku ke kolam renang di bawah sana.
Dan, ditambah lagi pelukan suami yang menjanjikan kenyamanan dan kehangatan di pagi ini. Oh... nikmat apa lagi yang kudustakan? Ini sempurna.
"Jangan nakal," bisik Mas Ilham seraya melingkarkan lengan besarnya di pundakku, menutupi dada.
Alisku bertaut. "Maksudnya? Jangan nakal... apa?"
"Kita tidak hanya berdua di sini, Salsabila Azzahra. Penjaga kebun mungkin saja belum pulang, dan karyawan yang akan memetik bunga sebentar lagi akan datang. Jadi... pakai jilbabmu. Auratmu itu dosaku. Paham, Istriku Sayang?"
Aku nyengir, malu, lalu Mas Ilham memutar tubuhku menghadapnya. "Iya, maaf, Mas. Aku lupa dan aku salah," akuku.
"Dan kamu mesti mendapatkan hukuman."
Well, suamiku yang ternyata rada-rada posesif itu dengan gilanya menyambar bibirku, mendorongku masuk bersamaan dengan langkah kakinya yang mau tidak mau aku mesti melangkah mundur dengan hati-hati. Dasar edan. Dia cengar-cengir saat langkah kaki kami berhenti dan aku terhimpit di antara lemari besar dan tubuhnya yang kekar.
"Kamu membuatku takut," kataku.
"Takut apa?" tanyanya di depan wajahku.
"Ya, takut...."
"Takut aku membuka pakaianmu lagi? Seperti ini?" Dia menurunkan ritsletingku.
Ih... ampun....
__ADS_1
"Katanya mau cari sarapan...," aku merengek.
Ah, menyebalkan!
"Mau bagaimana lagi, kamu sangat menggoda," ujarnya. Sekali lagi, dia mencium bibirku, bermain-main dengan lidah dan tenggorokanku. "Kamu benar-benar manis." Cengiran edannya mengembang lagi.
Oh... lagi-lagi aku mesti pasrah saja kendati di dalam dada, jantungku ingin meledak rasanya. Kelakuan konyol Mas Ilham sungguh mengerikan.
Lalu, dengan santainya dia melangkah mundur dengan tawa kecil seperti orang sinting -- menciptakan jarak beberapa senti dari hadapanku. "Pakailah jilbabmu sekarang," katanya. "Kalau tidak, aku bisa berubah pikiran."
"Dasar edan!" ledekku. Dengan cepat aku membuka lemari, mengambil jilbabku yang masih tergantung di dalam sana dan cepat-cepat mengenakannya.
Yap, itu jilbab baru. Jilbab baru yang sudah disediakan di dalam lemari, berikut pakaiannya yang sudah kukenakan. Memang belum banyak, tetapi Mas Ilham memang tidak ingin aku membawa apa pun dari rumah orang tuaku. Selain ponsel, laptop, dan semua keperluan mengajarku, termasuk seragam-seragamku, yang lainnya tidak boleh kubawa. Tidak tahu apa alasannya. Tapi aku boleh memakainya jika aku menginap di rumah Umi, dan kamarku, di sana tetap akan seperti sedia kala, termasuk barang-barangnya. Sedangkan di rumah baru ini, semuanya serba baru dari Mas Ilham. Dan dia melarangku bertanya.
Sempat terbesit pertanyaan di benakku: kenapa, sih, dia? Dia seakan gambaran sosok suami posesif dalam karya fiksi.
Ah, Zahra. Itulah akibat kebanyakan membaca novel. Kugeleng-gelengkan kepalaku karena kehidupan baru yang masih asing ini. Tapi, setelahnya aku menyadari, pakaian baru yang ia sediakan ini: semuanya longgar dan semua jilbabnya panjang menutupi dada.
Hmm... ingin merubahku perlahan, Mas?
Baiklah, toh aku sudah menjadi istrinya, kan? Jadi aku menurut tanpa protes.
Setelah berpakaian dan mematut diri di depan cermin, aku lekas-lekas keluar dari kamar, seakan itu adalah tempat yang paling berbahaya saat ini. Ckckck!
Dengan cepat aku memilih kabur. Gara-gara kelakuan Mas Ilham, sih! Aku jadi parno. Aku baru saja mandi ulang, masa mesti mandi lagi? Iya, kan?
__ADS_1
"Mas, ini serius, ya, nggak ada apa-apa di dapur?" tanyaku pada Mas Ilham yang baru saja menyusulku ke dapur. Dia baru saja selesai menerima telepon sepeninggalku tadi.
Dengan senyuman manisnya, Mas Ilham mengangguk. "Ini rumah kosong, Sayang...." Dia menghampiri dan memelukku dari belakang. "Ini saja perabotannya baru semua, hadiah pernikahan dari Umi dan Abi, dari Mbak Indah dan Mas Muslim juga. Masih seadanya. Nanti lambat laun kita lengkapi sendiri, ya."
Aku mengangguk-angguk. Sebenarnya, kalau dinilai dari kebutuhan dasar, perabotannya sudah lengkap. Peralatan masak di dapur sudah cukup, bahkan sudah dilengkapi dispenser, kulkas, ricecooker, dan lain sebagainya. Di belakang juga sudah ada mesin cuci. Dan, mungkin yang dimaksud Mas Ilham baru seadanya itu karena belum mencakup hal-hal yang mendetail seperti penggorengan dan panci-panci dalam berbagai ukuran dan berbagai bentuk, alat-alat pemanggang kue dan lain sebagainya. Kulihat, peralatan-peralatan modern seperti itu memang belum ada. Tapi selebihnya oke. Semua peralatan dasar sudah tersedia di dapur minimalis kami namun dengan peralatannya yang serba modern. Aku suka dengan desain terbukanya, tak ada sekat antara dapur dan ruang makan yang bersebelahan, kecuali hanya disekat oleh meja panjang yang cantik seperti meja bar di cafe-cafe modern.
"Sudah puas melihat-lihat rumah ini? Kamu suka?" Mas Ilham bertanya.
Tentu saja. Aku mengangguk. Dan bukan hanya sekadar suka karena desain interiornya yang menawan, tapi juga karena apa-apa yang ada di dalamnya mencerminkan kehidupan modern. Karena sejujurnya, di awal perkenalan, aku cukup khawatir kalau Mas Ilham adalah sosok muslim yang anti modern. Aku takut dia anti AC, kulkas, bahkan bathtub dan shower di kamar mandi. Kecuali, jika dia memang dari keluarga yang tidak mampu, aku akan maklum. Tapi kan tidak, jelas-jelas dia dari keluarga yang mampu, dan dia sendiri juga sudah mapan secara ekonomi. Sebab itu aku khawatir jika ia tergolong orang yang mampu, tapi dia menutup diri dari kehidupan dan kecanggihan tekhnologi ala modern, dan, justru menjadikan kesederhanaan sebagai adab dan cerminan kehidupan. Sebab itu juga aku begitu takut dijodohkan dengan seorang alim ulama, karena di otakku, mereka seolah sudah terpatri sebagai orang-orang yang hidup dalam kesederhanaan. Berbeda dengan ustadz-ustadz kondang yang sudah merambah dunia keartisan, mereka pengecualian bagiku, sebab mereka kaya dan jelas-jelas mesti hidup dalam dunia modern. Sekali lagi, mereka ustadz kondang.
Tetapi, bagi para alim ulama yang ada di sekitarku, aku bertanya-tanya, kira-kira, mereka mandi pakai shower, tidak? Pakai bathtub, tidak? Apakah tidurnya pakai AC? Dan banyak lagi pertanyaan lain. Dan, sebab itu pulalah, sewaktu di Surabaya, aku menyinggung-nyingggung soal kenyamanan hotel yang ada showernya. Menurutku, jika pada waktu itu Mas Ilham tidak keberatan untuk menginap di hotel berkelas yang ada shower dan AC-nya, dan kendaraannya juga yang oke meski bukan sekelas Alphard, dia juga pasti tidak menutup diri dari dunia modern. Dan sekarang semuanya terbukti, dia memberikanku kenyamanan yang kuimpikan, yang tidak kudapatkan di rumahku sendiri. Yeah, mungkin Abi tidak enak hati kalau memfasilitasi rumah kami dengan hal-hal yang demikian karena mengingat para santrinya mesti hidup sederhana di pondok. Kecuali di kamarku, aku punya AC yang kubeli sendiri dan kuancam Abi kalau dia tidak mengizinkanku memasang AC di kamarku, aku ngekost saja sendiri.
Astaghfirullah... aku beristighfar dalam hati. Kusadari, aku begitu keras selama ini terhadap Abi hanya karena kebencianku terhadap kesalahannya yang menyakiti hatiku dan hati Umi.
Ah, sudahlah. Aku sudah mendapatkan kehidupan baruku, dan Umi sudah sangat bahagia untuk semua ini. Apalagi nanti, saat aku sudah memberikannya cucu. Pasti apa yang selama ini teramat menyakitkan itu, tak akan berarti lagi bagi Umi. Aku dan anak-anakku akan menjadi obat mujarab yang membahagiakan hatinya. Kebahagiaan yang hakiki.
Aamiin.
"Jangan suka melamun," tegur Mas Ilham. "Nanti kuajak bersenang-senang lagi, mau?"
Hahaha!
Aku menyerah, Mas!
Ya ampun, suamiku itu benar-benar gila. Bercandanya sungguh terlalu. Aku takut, tahu...!
__ADS_1