
Sebenarnya rasa kepo dan penasaran itu membumbung tinggi di kepalaku. Namun aku tidak enak untuk bertanya lebih jauh tentang teman yang dimaksud oleh Mas Ilham. Lagipula dia langsung mengganti topik obrolan kami, yang menurutku itu berarti dia tidak ingin kami membahas hal itu lebih jauh. Dia bertanya apakah aku capek dan mau dipijat. Aku menolaknya. Aku tidak secapek itu hingga butuh pijatan. Jadi, sebagai gantinya, Mas Ilham menyuruhku tidur dan ia mengusap-usap kepalaku dengan sayang.
Tetapi, nyatanya aku tidak tahan. Rasa kepo itu menyiksaku dengan telak. Lalu, setelah salat isya, sewaktu aku mencium tangan Mas Ilham, kutaruh tangan lebar itu di pipiku dan menangkupkannya dengan hangat.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya yang peka.
"Ada pertanyaan di benakku, Mas," kataku.
"Apa itu?"
"Kamu mau berjanji untuk menjawabnya?"
"Memangnya apa?"
"Kalau kamu berjanji mau menjawab, aku akan bertanya. Tapi kalau tidak, aku tidak perlu menanyakannya."
Mas Ilham nampak ragu. Dia menundukkan pandangannya sejenak, lalu mengangkat kembali wajah tenang itu. "Baiklah," ujarnya. "Aku janji, aku akan menjawab pertanyaanmu. Katakan, ada apa?"
Aku pun ragu, tapi jika menimbang lagi tentang kesempatan, mungkin aku tidak punya kesempatan lain. Lagipula, aku tahu, Mas Ilham tidak akan mungkin sampai marah kepadaku hanya karena hal ini. Paling dia tidak akan menjawab, dan justru mungkin dia akan menghindar, yang berarti ia akan melanggar janjinya. Jadi, ya sudah, aku pun bertanya. Dan, karena aku tidak ingin nampak kepo tentang bisnisnya, juga tentang almarhumah teman bisnisnya, jadi aku hanya membahas tentang Islamia.
"Aku penasaran tentang Islamia," kataku.
"Em?" Mas Ilham nampak tertegun.
"Dia calon istrimu, kan, Mas?"
"Almarhumah. Dia sudah meninggal."
"Iya, aku tahu kalau dia sudah meninggal. Emm...."
"Apa yang... maksudku, kamu penasaran... kenapa? Penasaran tentang apanya?"
Aku tersenyum, ingin kuimbangi rasa gugup Mas Ilham. Aku tahu, aku telah mengorek luka di hatinya hingga wajah tenang itu nampak sedikit tidak nyaman. Tapi mau bagaimana? Aku penasaran akut.
"Jadi begini, Mas. Aku kan pernah bertanya pada Umi, kenapa di usia Mas Ilham yang sudah matang dan siap menjadi seorang imam dalam rumah tangga, kok Mas Ilham malah belum menikah? Nah, Umi bilang kalau kamu sudah pernah akan menikah. Tapi, karena... calon istrimu meninggal, jadinya... kamu masih single. Maksudku waktu itu. Jadi aku penasaran, dia... meninggalnya kenapa?"
Mas Ilham mengangguk. "Kita makan malam dulu, ya. Inshaallah, nanti aku cerita."
"Baiklah."
Dan detik itu aku berharap Mas Ilham tidak akan mengingkari perkataannya.
__ADS_1
Setelah menerima ciuman hangat di keningku, aku pun membuka mukenaku, menyampirkannya ke gantungan dan melipat sajadah, setelahnya, kusambut tangan Mas Ilham yang menggandengku keluar dari kamar, dan kami pun turun menuju ruang makan.
Yap, masih dengan tumis terong sisa tadi siang, namun ikan gorengnya sudah habis. Dan tadi sore aku sempat memanggangkan ayam untuk menu makan malam.
"Enak, tidak?" tanyaku untuk mencairkan suasana canggung di antara kami. "Jujur, ya. Bilang saja, kalau memang tidak enak, jangan bilang enak. Mas tidak perlu berbohong untuk menyenangkan hatiku."
Ah, itu hanya basa-basi saja. Dan kurasa Mas Ilham pun tahu itu. Karena... aku juga tahu, walaupun tidak enak, Mas Ilham tetap akan mengatakan bahwa masakanku itu enak.
"Iya, Sayang. Enak, kok."
"Serius?"
"Iya, serius. Lebih tepatnya masakan istri itu nikmat. Cuma suami yang tidak bersyukur yang bilang tidak enak. Apalagi kalau baru berumah tangga, suami harus maklum kalau masakan istri itu tidak seenak masakan ibunya. Tapi... walaupun begitu, dia harus maklum dan tetap harus bersyukur. Dengan begitu, pasti masakan istri akan terasa nikmat."
Aku pun tersenyum kecil. "Baiklah. Walaupun tidak enak, tapi tetap terasa nikmat. Begitu, ya?"
"Hu'um," sahut Mas Ilham.
Auto pura-pura meringis. "Berarti masakanku aslinya tidak enak? Kamu cuma berusaha menikmati? Begitu, Mas?"
"Enak, Sayang. Semua yang ada pada dirimu itu enak."
Eh? Malah digituin?
Hmm... tidak mempan. Mas Ilham malah terkekeh. "Lanjut makan, Sayang. Ingat, tidak boleh mubazir," katanya. "Dan omong-omong, masakanmu memang enak. Setidaknya ini sudah oke untuk seorang pemula. Nanti, lama-lama kamu pasti sehebat dua ibu kita. Aku percaya itu. Sekarang makan lagi, ya? Aku suapi."
Jiaaah... aku ikut terkikik. "Dasar kamu, ya, pintar merayu."
"Demi kamu, Zahra, aku bisa melakukan apa pun. Jangankan sekadar merayu, bahkan aku bisa memindahkan bulan ke pangkuanmu."
Ck! Lebay sekali....
"Masa, sih, Mas? Coba buktikan!"
"Perlu bukti?" tanyanya.
"Hu'um."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Mas Ilham pun melepaskan sendok, lalu ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah meja kecil di samping sofa. Dan, ia mengambil kalender cetak dari atas sana.
__ADS_1
"Kutaruh bulan di atas pangkuanmu," katanya sambil berjongkok lutut di sampingku dengan wajah cengengesan.
Hmm... dasar edan!
"Nah, lihat, bukan sekadar satu bulan, dua belas bulan kutaruh semua di pangkuanmu."
Kali ini auto manyun deh akunya. Dasar garing...!
"Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Sayang. I love you."
"Em."
"I love you, Sayang. Dijawab, dong...."
"Iya... I love you too so much, Mas Ilham...."
"Nah, kan enak kalau direspons. Sekarang makan lagi, ya. Biar kusuapi."
"Terima kasih... tapi tidak usah, ding!" Kutarik lagi piringku mendekat, lalu aku berbisik mesra, "Biar aku makan sendiri. Supaya tidak lama dan kita bisa segera balik ke kamar."
Praktis, senyum semringah Mas Ilham terbit dari wajah tampannya yang menenangkan. "Baiklah. Biar cepat balik ke kamar," ia balas berbisik dengan mesra, lalu kembali duduk di kursinya. "Omong-omong, kamu serius kita tidak usah pergi bulan madu?"
Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Nanti saja waktu libur semester. Kalau sekarang percuma, bukannya pergi jalan-jalan, yang ada kamu bakal kekep aku di kamar hotel."
Lah, iya... dia sedang tergila-gilanya bercinta denganku, dan sedang candu-candunya pada kenikmatan tubuhku, sampai-sampai siang malam dia mengajakku bercinta terbang ke nirwana, mencapai surga bersamanya. Jadi, untuk apa bulan madu jauh-jauh kalau ujung-ujungnya aku cuma dikekepin di dalam kamar? Mending di rumah dan di dalam kamar kami sendiri, bukan?
"Ya sudah," kata Mas Ilham yang barusan terbahak-bahak karena celotehanku. "Nanti saja waktu libur semester. Kamu maunya liburan ke mana?"
Aku mengedikkan kedua bahu. "Asal bersamamu, ke mana pun aku mau, Mas."
"Baiklah. Akan kupikirkan. Sekarang fokus makan. Aku ingin segera kembali ke kamar bersamamu."
Dan aku ingin segera menagih ceritamu.
Seperti biasa, setelah makan, aku langsung beberes meja dan mencuci perabotan makan yang kotor, dan setelah itu, aku pun bergegas kembali ke kamar. Kebetulan, waktu itu Mas Ilham sedang menerima telepon, jadi kutinggalkan ia di lantai bawah.
Aku mesti memberikan surprise untuk Mas Ilham. Jadi... sesampainya di kamar, kulepas semua pakaianku dan aku masuk ke dalam selimut, menutupi kepolosan tubuhku dari dada hingga kedua kakiku.
Mas Ilham yang beberapa menit kemudian menyusulku ke kamar langsung tersenyum super... super... semringah dengan wajahnya yang penuh semangat.
__ADS_1
Auto semangatlah. Kejutan kecil yang manis plus menyenangkan, bukan? Suami -- yang baik dan setia -- mana -- yang akan menolak?
"Cari pahala, yuk?"