Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Menghapus Keraguan


__ADS_3

Terasa kena cubit hatiku. Mas Ilham benar, dia percaya kepadaku tanpa keraguan sedikit pun, kenapa aku tidak bisa demikian?


Lalu Mas Ilham menyodorkan selembar kertas terlipat dari dalam dompetnya. Dompet yang sekali pun tidak pernah kuperiksa isinya karena aku begitu percaya kepadanya. Harusnya rasa percaya itu masih seutuh itu. Tidak seperti sekarang.

__ADS_1


Di dalam kertas itu, aku menemukan kebenarannya, bahwa: Mia kecil, anaknya mendiang Islamia, dia bukanlah darah daging Mas Ilham. Tidak ada kecocokan genetik antara Mas Ilham dan Mia kecil. Itu yang ditulis di dalam print out hasil tes DNA yang dilakukan oleh Mas Ilham di salah satu laboratorium terpercaya -- untuk membuktikan kebenaran atas dirinya -- kebersihannya dari zina.


"Aku tidak peduli apa pun gosip orang-orang atas diriku," tutur Mas Ilham. "Bukan sehari, bukan dua hari, tapi lebih dari tiga tahun, sejak Mia dinyatakan positif hamil, aku yang dituduh berzina. Bahkan sampai detik ini, aku yang dikira sebagai ayah biologis anak itu. Bahkan hasil lab ini seakan tidak berguna bagi masyarakat awam. Yeah, mungkin karena ajaran sinetron yang menyimpang, yang dipertontonkan bahwa hasil tes DNA bisa dipalsukan, bahwa pihak petugas lab bisa diajak kerja sama untuk berbuat curang, atau apa pun, seperti penukaran sampel, dan lain-lain. Padahal dalam versi dunia nyata sama sekali tidak akan bisa seperti itu. Walaupun kemungkinannya ada oknum-oknum licik yang bisa melakukan kecurangan seperti itu, tapi hanya kemungkinan kecil. Tapi itu tidak penting juga untuk dibahas, tidak penting juga masyarakat mau atau tidak mau percaya, apalagi mau sadar ilmu dan teknologi. Yang terpenting itu adalah keluarga, bagaimana mereka yakin dan mempercayai kita. Terutama kedua orang tua kita, ya kan? Apalagi sekarang, bagi kita yang sudah menikah, selain kepercayaan kedua orang tua, kepercayaan pasanganlah yang terpenting. Dan aku menginginkan kepercayaan itu darimu, kepercayaan yang utuh terhadapku. Yang utuh, Zahra. Seperti rasa percayaku kepadamu yang utuh tanpa celah. Bisa, Zahra? Apa kamu bisa mempercayaiku sebesar itu, tanpa celah?"

__ADS_1


Ya Tuhan, air mataku mengalir deras. Aku melorot ke lantai, bersimpuh di hadapan Mas Ilham. Menangis. Aku meminta maaf kepadanya atas keraguanku yang walau secuil itu. "Maafkan aku, Mas. Aku janji, aku tidak akan ragu lagi padamu, sedikit pun tidak akan ragu lagi."


Kemudian tangan Mas Ilham memegangi bahuku. Dia menarikku bangkit, kembali duduk di atas kursi di sampingnya. Setelah mengecup keningku, dan menghapus air mataku, Mas Ilham pun memelukku. Pelukan yang begitu erat.

__ADS_1


Mulai detik itu, kedua sisi pondasi utama dalam hubungan kami akan selalu berdiri kokoh. Rumah tangga kami tidak akan pernah hancur walau sebesar apa pun badai yang datang menghantam untuk memisahkan cinta suci di antara kami. Cinta kami tidak akan pernah hancur. Aku percaya itu.


Dan, seperti Mas Ilham yang selama tiga tahun ini masih tetap berdiri tegar walau sudah difitnah sebegitu kejinya, aku pun pasti bisa setegar dia. Bahkan untuk seumur hidup, aku bisa.

__ADS_1


__ADS_2