Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Romantis


__ADS_3

Tetapi, Mas Ilham hanya mengulum senyum. Sambil berusaha tidak nyengir, dia menggerakkan tangan sambil mengangguk kepada Mas Farid yang berbalik persis di depan pintu masuk sebuah restoran yang ada di depan kami, gerakan tangan untuk mengiyakan "monggo masuk" ke restoran itu, restoran yang lebih mirip saung, sebab penyajian makanan dengan bakulan nasi dan lalapan sederhana. Restoran itu masih satu bagian dengan hotel tempat kami menginap. Kami pun ikut masuk dan duduk di meja di mana Mas Farid, Laila dan Laili sudah duduk di kursinya masing-masing. Mas Ilham langsung melambai-lambai memanggil pramusaji.


Seperti hotelnya, restoran itu juga oke. Interiornya dihiasi dalam warna pink pucat dan cokelat mengilap sewarna kayu, dengan sedikit warna putih di sana sini. Ada sentuhan gaya klasik di sana.


"Makan nasi, ya, supaya kita semua kenyang dan bisa tidur nyenyak. Sudah seharian kita tidak makan nasi."


Aku meringis, menunjukkan gendongan lenganku kepada Mas Ilham yang duduk di sampingku. "Tanganku kan sakit. Mana bisa aku menyendok pakai tangan kiri."


"Pilih apa yang mau kamu makan," katanya seraya menunjukkan daftar yang panjang di hadapannya. "Nanti kusuapi."


Uuuh... terharu....


Dengan semangat, aku melihat daftar menunya. "Aku mau ikan saja deh, Mas. Supaya Mas tidak susah menyuapi aku. Orak-arik tahu juga boleh."


Mas Ilham mengangguk. Ia memesan double porsi dan wedang jahe plus air putih hangat untuk kami berdua setelah pramusaji kembali menghampiri meja kami dan membawa pulpen serta alas tulis. Mas Farid mengocehkan pesanannya, berikut pesanan Laila dan Laili, dan aku bisa melihat bahwa pramusaji itu terpengaruh oleh suara merdunya, sama seperti aku saat mendengar ia mengaji atau saat ia mengumandangkan azan.


"Baik, mohon ditunggu," kata si pramusaji itu setelah mengulangi semua menu yang kami pesan.


Mas Ilham mengangguk kepadanya, lalu menyerukan terima kasih saat pramusaji itu menjauh.


"Aku sebenarnya mau menyuapi Mbak. Tapi sepertinya Mbak lebih butuh Mas Ilham yang menyuapi, ya kan?" Laila cengar-cengir.


Mas Farid yang duduk di sampingnya menggeleng-gelengkan kepala. "Anak kecil diam saja, ya...," tegurnya.


"Yeee... Laila sudah besar, tahu...! Sebentar lagi tujuh belas."


"Selama kamu masih sekolah dan butuh wali murid, itu berarti kamu masih kecil."


"Terserah Mas Farid sajalah." Lidahnya terjulur. "Pantas saja masih jomblo, cerewet sih...!"


Semua orang terkikik.


"Memangnya kamu punya pacar?"


"Punya," sahut Laili cepat.


"Apa sih, Dik?" Si kakak melotot.

__ADS_1


"Lah, itu, si Joko anak IPS, itu pacarnya Mbak, kan?"


"Nah, ketahuan kamu, ya. Pacaran itu ndak boleh. Awas, lo, di sekolah baru nanti masih pacaran. Mas laporkan ke Pakde Siddiq."


Duh, aku hanya bisa terdiam. Serasa dikuliti tatkala teringat hubunganku dan Mas Imam yang sudah berlalu. Meski tak pernah terikat oleh kata pacaran, tapi kami tahu betul bahwa kami pernah terikat oleh perasaan.


"Terus?" protes Laila, "Mbak Bila dan Mas Ilham, kok boleh?"


Si pramusaji tiba-tiba muncul, membawa nampan berisi tiga gelas wedang jahe dan lima gelas air putih hangat, disusul pramusaji lain yang membawakan bakul nasi dan lalapan, lalu meletakkan semuanya di atas meja.


"Mbakmu itu sudah dikhitbah oleh Mas Ilham," lanjut Mas Farid saat si pramusaji kembali berlalu. "Mereka akan menikah bulan depan, bukannya pacaran kayak kamu." Lalu ia memiringkan tubuh ke samping dan agak berbisik kepada Laila, "Mas Ilham takut tangan mbakmu yang satunya ikut patah kalau dia ndak ikut menemaninya ke sini. Dia mesti menjaga calon istrinya dengan ekstra. Ngerti, ndak?"


Aku tertegun, dan lantas teringat saat kemarin aku mengalami kecelakaan, bagaimana wajah tampan itu dinaungi oleh rasa khawatir dan ketakutan yang mendominasi.


"Iya, deh. Sepulang dari sekolah besok, akan Laila putuskan Joko-nya."


Tawa Mas Farid, Laili, dan aku pecah ketika melihat Laila bersedekap dan merajuk.


"Omong-omong," kataku saat berpaling kepada Mas Ilham, "terima kasih karena kamu sudah begitu peduli dan mau menjagaku."


Dia mengangguk sambil tersenyum simpul. "Sudah menjadi kewajibanku, Zahra. Aku tidak mau kehilanganmu."


Pramusaji keluar dari dapur bersama nampan penuh pesanan, kemudian mengedarkan piring ketika ia sampai ke meja kami. Orak-arik tahu pesananku kelihatan enak, dan aromanya menggiurkan. Tapi, sebenarnya aku merasa tidak enak kepada Mas Farid yang diamanahkan oleh Abi dan Umi untuk mengawasi kami, tapi ia memberiku anggukan meyakinkan.


Dan ternyata, masakan itu memang lezat ketika aku menerima suapan dari tangan Mas Ilham. Aku suka dia begitu memanjakanku. Aku sampai terkikik. Betapa nikmatnya makan sepiring berdua dan dari sendok yang sama dengan dia yang kucinta. Rasanya manis, meski kami berdua terpaksa makan dengan begitu lambatnya, sehingga baru menghabiskan separuh nasi di piring kami ketika yang lain sudah melahap habis isi piring mereka.


Lalu, beberapa menit kemudian, setelah kami juga sudah mengosongkan piring kami, Mas Ilham baru saja hendak memanggil pelayan untuk menanyakan tagihan kami ketika dua orang teman Mas Ilham berjalan ke arah kami. Mas Amir dan Mas Imron.


Mas Ilham semringah. Katanya mereka bertiga dulu merupakan teman yang cukup akrab saat mereka duduk di bangku kuliah.


"Hei, Pak Ustadz! Assalamu'alaikum," kata Mas Amir sambil menepuk punggung Mas Ilham. "Lama tidak bertemu."


Kami semua menjawab salamnya.


"Apa kabar, Kawan?" tanya Mas Ilham.


Selayaknya perempuan, mereka pun saling merangkul dan menepuk punggung masing-masing.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik," keduanya menjawab kompak.


"Senang bisa bertemu di sini," kata Mas Imron menimpali.


"Yeah, ayo duduk dulu." Mas Ilham mengalihkan pandang ke arahku, kemudian ke arah Mas Farid. "Tidak apa-apa, ya?"


Aku dan Mas Farid mengangguk. Lalu Mas Ilham memperkenalkan kedua temannya kepada kami, begitu pula sebaliknya. Ia mengenalkanku secara khusus. "Salsabila Azzahra, calon istriku," tuturnya.


Sambil duduk, kedua temannya bersorak girang. "Akhirnya... selamat untuk kalian berdua. Kami doakan semoga dilancarkan semua urusan kalian sampai hari H."


"Aamiin...."


Aku pun turut mengaminkan sambil mengangguk kepada mereka.


"Yap. Inshaallah, pernikahan kami bulan depan. Undangannya menyusul. Usahakan datang, ya."


Mereka mengangguk, dan berjanji akan menyempatkan diri untuk datang ke acara pernikahan kami.


"Omong-omong, bagaimana usaha ternak dan perkebunan bungamu?" tanya Mas Imron.


Eh? Aku mengerutkan kening, bertanya-tanya tentang hal yang belum kuketahui itu.


"Alhamdulillah. Berjalan baik. Peminat bunga hias dan buket bunga juga cenderung meningkat."


Wah, jangan-jangan buket mawar kemarin itu dari perkebunannya sendiri?


Dan aku tak sabar menanyakan hal itu begitu kami hendak kembali ke kamar hotel, persis setelah kedua teman Mas Ilham berpamitan untuk pindah ke meja lain. Mereka sudah kelaparan dan tak sabar untuk memesan menu makan malam.


"Usaha sampingan, Sayang...," jawabnya pelan, menjaga suaranya dari orang-orang di sekitar kami. "Abi meminjamkan modal. Katanya lelaki itu mesti punya usaha sendiri untuk menghidupi keluarganya. Menghidupi anak dan istri supaya kelak mereka hidup berkecukupan. Kan kamu tahu sendiri, gaji sebagai tenaga pendidik itu tidak seberapa. Jadi aku mesti punya usaha sampingan untuk bisa menghidupi anak dan istriku nanti. Dan inshaallah, aku bisa menghidupimu," tandasnya.


Aku pun tersenyum. Kuanggukkan kepalaku karena paham. Tetapi...


"Kok kamu tidak pernah cerita soal usaha itu, Mas?"


"Kan kamu sendiri juga belum pernah bertanya, ya kan?"


"Ya juga, sih. Tapi aku penasaran, jangan-jangan buket mawar kemarin...?"

__ADS_1


"Ya," katanya. Dia menghentikan langkah kakinya, lalu menatapku dalam-dalam. "Itu mawar merah yang kupetik dan kurangkai sendiri, khusus untuk calon istriku. Karena demi Allah, Zahra, kamu istimewa."


__ADS_2