Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Menata Hati


__ADS_3

"Alhamdulillah, Nduk, kamu sudah sadar...," suara Umi terdengar lega begitu masuk ke ruang rawatku. Ia meletakkan mukenanya ke dalam tas jinjing di bawah ranjangku, kemudian membungkuk, menyibak sejumput rambut dari wajahku dan mencium keningku.


Lima menit yang lalu, Mas Ilham baru saja meneleponnya dan mengabarkan keadaanku. Jadi, Umi yang sedari tadi berzikir di musalla rumah sakit lekas-lekas kembali ke ruang rawatku. Maksudku, ruang rawat kami. Mas Ilham juga dirawat, satu ruangan denganku. Dia mengalami cidera kaki yang cukup parah, kakinya mesti dipasang gips untuk sementara, dan katanya ia juga mengalami cidera di bahu kirinya, namun tidak terlalu parah. Hanya terasa nyeri dan mengalami luka lecet yang lumayan.


Meski pahit, kucoba untuk menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah, Umi lega. Umi takut kamu kenapa-kenapa," katanya.


Ya Tuhan... perasaan bersalah menyusup melihat kekhawatiran di wajah Umi. "Maaf, Bila membuat Umi khawatir," sesalku.


"Ssst... bukan salahmu. Ini cobaan. Harus ikhlas, ya? Yang penting kamu selamat. Umi lega, Umi bersyukur. Oh ya, apa yang kamu rasa sekarang? Ada yang sakit?" cerocosnya, seolah ia tak peduli dengan penyesalanku.


Aku tahu, dia memahamiku. Dia tidak akan menunjukkan kesedihannya di depanku -- padahal dalamnya kesedihan Umi lebih dari yang aku tahu. Tapi demi aku, dia selalu berusaha menguasai dirinya. Sama seperti kesedihannya yang dipoligami oleh Abi selama ini, setiap malam dia menangis dalam sujud, namun di depanku, kesedihan itu ia paksakan untuk segera sirna. Seperti itu juga saat ini, dia hanya memelukku beberapa saat, lalu sibuk menanyai perihal kondisi fisikku.

__ADS_1


"Sakit sih. Tapi kan ndak bisa diapa-apakan. Mesti ditahan. Tapi selebihnya ndak apa-apa. Umi jangan khawatir," kataku menenangkan.


Dia mengangguk, dan sejujurnya tak mampu menahan air mata yang buru-buru ia seka. Dan, sebenarnya kecemasan itu masih kentara, semakin membuatku merasa bersalah kepadanya. Dia pasti sama sedihnya denganku karena kehilangan calon cucu pertamanya.


"Nanti minum obat penghilang rasa nyeri. Tapi kamu mesti makan dulu, ya. Biar Umi suapi."


Namun Mas Ilham memotong, "Biar Ilham saja, Umi," katanya. "Sekalian Ilham ikut makan bareng Zahra."


"Lo, memangnya tanganmu ndak sakit, Nak?"


"Yo wis, baguslah. Tadi juga Umi lihat kamu makannya baru sedikit," ujarnya seraya mengambilkan nampan makanan kami. Makanan hambar ala rumah sakit. Dan...


Hmm... aku menghela napas dalam-dalam. Harusnya aku menduga hal itu sejak tadi. Mana mungkin Mas Ilham bisa makan sampai kenyang sementara di depan matanya aku masih terbaring bertarung nyawa.

__ADS_1


Yeah, kami pun makan berdua. Mas Ilham yang menyuapi. Tangan kanannya bisa dikatakan tidak apa-apa, walau sebenarnya juga mengalami nyeri akibat ia yang menggelinding di aspal setelah ia dan motornya terpental.


"Ehm, Mas...," kataku.


"Ya, Sayang? Ada apa?"


"Emm... anu. Bisa, tidak, apa yang kita alami ini tidak tersebar luas? Aku... aku tidak ingin ada yang mengunjungiku. Aku... aku takut tidak kuat kalau... kalau ada yang mengucapkan belasungkawa atas... anakku yang... maksudku... atas musibah ini. Aku tidak perlu mendengarkan orang lain menguatkan aku. Nanti yang ada malah rasanya bertambah sakit. Aku rasa aku akan lebih baik kalau aku tidak bertemu dengan orang-orang luar dulu. Tolong?"


Paham. Mas Ilham mengangguk. Umi yang tengah mengambilkan air putih untuk kami berdua jadi ikut mematung.


"Kalau soal tersebar, sepertinya sudah tersebar, Nduk. Tapi Umi akan usahakan supaya tidak ada yang menemuimu, ya."


Aku tahu ini salah. Tapi sungguh, aku dalam situasi yang -- mungkin -- nyaris depresi. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi orang-orang, tatapan kasihan mereka, apalagi ucapan-ucapan penguat yang justru membuatku malah akan merasa lebih hancur, dan, akan membuatku terus-terusan meratapi kepergian janinku.

__ADS_1


Menyedihkan. Sekarang aku seperti seorang pecundang.


__ADS_2