
Aman, kok. Buktinya sampai hari ini Mas Ilham masih hidup dan sehat walafiat. Berarti benar, buah itu dikirimkan kepada kami dengan tujuan hanya untuk memfitnahku. Supaya Mas Ilham mengira kalau aku benar-benar mengatakan kepada selingkuhanku bahwa aku mengidam rujak.
Hmm... dikiranya Mas Ilham sosok lelaki yang mudah terhasut.
"Lo? Kok kamu yang makan rujaknya, Leh?"
"Enak, Umi...."
"Tapi kan--"
"Yang ngidam Ilham, Umi...."
Tuh kan... si ustadz brewok itu berbohong lagi. Aku angkat tangan deh. Lebih baik aku membuka lemari es dan mengambil sebutir apel, makan itu saja plus diam di pojokan.
"Umi kira yang ngidam itu kamu, lo, Nduk...," ujar ibu mertuaku.
Demi tidak memperpanjang daftar kalimat kebohonganku, aku hanya memberikan senyuman terbaik. Aku kan sudah diam di pojokan, masih juga jadi sasaran lontaran kata-kata Umi yang mesti kutanggapi, meski hanya dengan seulas senyuman.
Ayo dong, Mas... alihkan topik pembicaraan.
Ah, andai aku tidak sungkan kepada ibu mertuaku itu, aku pasti sudah hengkang dari ruang makan dan memilih untuk berdiam diri saja di dalam kamar.
Tetapi ternyata Tuhan menyelematkan aku dari drama kebohongan ini untuk sementara. Sebabnya, beberapa saat kemudian ponselku berbunyi, Laila meneleponku.
__ADS_1
"Maaf, Umi, Bila permisi sebentar, ada telepon."
Yes, ada alasan untuk menghindari obrolan yang diselubungi kebohongan itu. Aku pun bangkit dan mengambil ponselku di atas lemari es, lalu duduk santai di ruang keluarga.
"Ada apa, Dik?" tanyaku pada Laila setelah aku menjawab ucapan salamnya.
Seperti biasa, anak gadis itu segan untuk langsung bicara. "Emm...," gumamnya. "Anu, Mbak, soal... pajak motornya Mbak."
"Oh... iya, Dik. Nanti biar Mbak yang urus, ya."
"Em, iya, Mbak. Terima kasih. Maaf, Laila ndak enak kalau mesti bilang ke Pakde."
"Iya, ndak apa-apa. Mbak mengerti." Dan bla... bla... bla. Aku memilih untuk mengobrol dengan Laila walaupun dengan pembahasan yang agak-agak tidak penting.
Oh, akhirnya....
Di dalam hati aku memohon maaf dan merasa bersalah. Aku tidak bermaksud untuk bertindak tidak sopan terhadapnya. Sungguh, aku hanya tidak nyaman untuk terus berada di dalam obrolan yang didasari dengan kebohongan.
Merasa sudah nyaman dan sudah terbebas dengan pembahasan yang sama, aku pun segera berkata kepada Laila untuk mengakhiri telepon. Setelahnya, aku kembali ke ruang makan, dan nampan buah potong itu sudah kosong tak bersisa.
"Siapa pun yang mengirim ini, terima kasih," kata Mas Ilham.
Aku hanya mengedikkan bahu, lalu aku duduk di atas pangkuannya. Sumpah aku lelah dan bosan dengan teror yang dikirimkan perusuh di balik layar itu.
__ADS_1
"Sudah malam. Ke kamar, yuk?" ajakku.
Mas Ilham mengerti. Rasa lelah yang menaungi hatiku tentu saja begitu kentara tanpa bisa benar-benar kututupi.
Dengan langkah kaki gontai, kami berjalan menuju kamar. Kulepaskan hijabku dan aku menyuruk ke dada Mas Ilham yang sudah lebih dulu naik ke atas ranjang.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tidak ada apa-apa, Mas" kataku. "Aku hanya lelah."
"Aku paham. Tapi kamu harus bisa mengatasi segalanya. Aku--"
"Hal ini akan terus menghantuiku, Mas. Dan berakhir pada pertanyaan, apa kamu akan--"
"Aku akan selalu percaya padamu walau apa pun yang terjadi. Aku tidak akan pernah meragukanmu, Zahra."
Hmm... aku menghela napas dalam-dalam. "Jika aku mengalami hal yang buruk seperti yang dialami oleh almarhumah Mia dulu, apa kamu akan tetap percaya kepadaku, Mas?"
Mas Ilham tertegun. Wajar, bukan? Kata-kata Mas Ilham tadi, yang katanya -- menurut feeling-nya bahwa pelaku teror dan fitnah ini adalah seorang perempuan yang mengejar cintanya, mau tidak mau kejadian teror yang terus-terusan terjadi ini mengaitkan kisah-kisah kami di masa lalu. Ada kemungkinan ini didalangi oleh Yunita, dan bahkan bisa jadi oleh pelaku pemerkosaan almarhumah Mia, atau bahkan juga mungkin oleh Mas Imam. Ingat, kan, waktu teror pertama, surat di hari pernikahanku yang ditemukan oleh Mas Ilham di depan pintu rumahku? Kukatakan waktu itu bahwa aku tidak mengenali tulisan tangan di dalam surat itu, padahal aku kenal betul dengan tulisan tangan Mas Imam. Dan itu sama sekali bukan. Jadi, hanya Tuhan yang tahu, siapa peneror itu? Tapi, kalau merujuk tentang isu kehamilanku, aku yakin itu karena Yunita. Kurasa dia yang menghasut Mas Imam. Tapi aku juga tidak bisa berasumsi terlalu jauh. Lagi, hanya Tuhan yang tahu. Hanya Tuhan.
"Aku akan selalu percaya padamu, Zahra. Dan...." Mas Ilham mulai merasa tidak nyaman. "Dan kalau... kalau yang terjadi pada mendiang Mia dulu itu karena ada kaitannya denganku, atas ketidaksukaan seseorang terhadapku... aku... aku minta maaf kalau itu mesti terbawa sampai sekarang. Dan... sekarang malah juga mengganggumu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk melindungimu, Zahra. Aku...."
Ya Tuhan... kasihan sekali Mas Ilham.
__ADS_1
"Sudahlah. Yang terpenting kamu akan selalu percaya kepadaku. Itu sudah cukup. I love you."