Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Sambutan Pagi


__ADS_3

Di pagi buta keesokan harinya, sensasi geli dari bulu-bulu halus di rahang Mas Ilham menggelitik seputar leherku dan menarikku kembali ke alam sadarku. Aku terbangun, menatap wajah tampan itu dengan seulas senyumnya yang menawan dan amat sangat bahagia.


"Selamat pagi, Sayang."


Aku balas tersenyum. "Selamat pagi, Mas," kataku, lalu aku mengusap-usap mataku.


Lampu di kamar pengantin itu sudah terang benderang oleh cahaya lampu utama di langit-langit kamar. Setelahnya, seperti kebiasaanku, sambil menguap, aku meregangkan tubuh. Tetapi...


"Auw...." Aku meringis.


"Kenapa?" tanya Mas Ilham khawatir.


"Kakiku kaku...."


"Rileks, nanti segera hilang," ujarnya. Kekhawatiran yang tadi kulihat bernaung di wajahnya, kini berganti cengiran yang edan.


Dan aku baru saja hendak menyahut ketika tangan kokoh suamiku itu menyelinap ke bawah selimut, bertahta di atas pahaku.


"Mau apa?" tanyaku.


Dia menggeleng, namun cengiran di wajahnya bertambah lebar. Lalu, kusadari tangan kokoh itu menelusur ke atas, menangkup dadaku dan sensasi menegang terasa di sana.


Aku tahu betul apa yang ia inginkan. Sambil menggeleng-geleng, aku tidak bisa menahan senyum yang hendak mengembang menghiasi wajahku. Lalu...


"Oh...!"


Kepalaku tersentak ke belakang dengan mata terpejam. Napasku tercekat di rongga dada tatkala Mas Ilham dengan sengaja menyalurkan kekuatan dari jemarinya yang nakal.


"Aku menginginkanmu lagi," ujarnya seraya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku, lalu mendorong turun celana panjangnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Dan aku menyadari bahwa priaku itu terpaku menatap keindahan dadaku. Dia tersenyum nyaris melankolis. "Persik ranum yang sempurna," pujinya.


Dia membuatku memerah. Dengan malu-malu, aku bergerak untuk menyembunyikan diri darinya. Tapi, seketika, tangan Mas Ilham mencegatku untuk melakukan itu.


"Jangan, Zahra," bisiknya. "Aku menginginkan setiap inci tubuhmu. Semuanya, tanpa terkecuali."

__ADS_1


Dengan senyuman dan anggukan kecil, aku mengiyakan permintaannya dan merentangkan kembali tubuhku.


"Kau milikku."


Dengan tubuhnya, Mas Ilham menindihku, mengurung tubuhku di bawah tubuhnya yang kekar, menunduk untuk mencium apa yang sudah menjadi haknya, lidahnya mencari-cari puncak saharaku dan menariknya ke dalam mulut, sampai aku melengkungkan tubuh dan memekik di puncak kenikmatan.


"Eummmmm...!"


Dia menggigitku dengan lembut, *engisapnya hingga kehangatan gairah yang asing itu kembali mengalir turun melewati perut dan di antara kedua kakiku.


Ya Tuhan. Aku tak pernah tahu... meski seringkali memimpikan hal seperti ini, ini siksaan yang begitu indah. Mas Ilham menyurukkan wajahnya dan bergerilya dengan ranum persik yang ia puja, sementara satu tangannya menyelinap turun dan membelai lekukan indah di perutku.


"Sempurna," bisiknya. "Begitu indah, begitu manis dirimu, Zahra." Dia membuka tangannya dan tetap membelai tubuhku, sampai satu jarinya menyelinap ke dalam lekukan selembut sutra itu. Sesuatu yang lembab dan licin. Dan, persis di saat itulah aku menyadari keadaanku yang...


Ah, kau mengerti maksudku. Sedari malam tadi aku tidak sadarkan diri, boro-boro aku sempat membersihkan diri dari sesi bercinta kami yang pertama itu.


"Mas," kataku.


"Itu... aku... aku mau ke kamar mandi dulu. Please... aku tidak nyaman...."


Mas Ilham mengerti, dia mengangguk dan bangkit dari atasku. "Bisa berdiri?" tanyanya sambil nyengir seperti orang gila.


Aku menggeleng. "Gendong...," rengekku.


Ah, suamiku yang kekar. Kekuatannya mesti kumanfaatkan dengan maksimal. Dengan kekuatan otot-otot lengannya yang kekar, Mas Ilham menggendongku seolah aku seringan kapas. Aku terkikik. Umi tak salah mencarikan pria dewasa yang perkasa ini untukku.


Karena malu, kuminta Mas Ilham keluar dari kamar mandi dan meninggalkanku sendiri. "Aku tidak akan lama," kataku. Dia pun menurut.


Setelah selesai buang air kecil dan membersihkan diri, plus mengeringkan kulitku yang basah, kubungkus tubuhku dengan handuk dan aku pun membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, bermaksud mengintip seseorang yang kukira sedang menungguku di atas tempat tidur. Ternyata tidak, dia berdiri di samping pintu kamar mandi. Menungguku di sana.


"Apa?" tanyanya.


Mau tidak mau aku nyengir, malu. Kemudian, dengan perlahan kulangkahkan kakiku keluar dari kamar mandi, namun, dalam kelebat cepat, Mas Ilham menarikku dan membuatku tersandar di dinding, terhimpit tubuhnya yang kekar dan dalam kuasa lengannya yang melingkar erat di pinggangku.

__ADS_1


"Jangan membuatku menunggu lagi," bisiknya di depan wajahku seraya melepas kembali handuk yang melilit di tubuhku. Lalu, tanpa terduga, jemarinya mencengkeram rambut di belakang kepalaku dan membuatku mendongak, mengikuti gerak tangannya, dan, dengan cepat ia mencumbu tengkuk leherku. Gigi-giginya membenam, *engisapku kuat-kut di sana.


Ya Tuhan... aku bergidik. Jauh dari bayanganku, pria ini ternyata lebih beringas dan lebih ganas dari apa yang kupikirkan.


"Aku mencintaimu, Zahra." Dengan kekuatan tangannya, Mas Ilham menekan kuat dadaku ke atas dan membuat napasku kembali terasa sesak.


Ah, andai kau tahu seberapa besar kekuatannya.


Dengan geraman rendah maskulin yang tidak sabar, Mas Ilham menciumku, membungkam mulutku dengan bibirnya. Sambil memelukku erat dan kami berciuman, ia membimbingku melangkahkan kaki kembali ke ranjang dan menjatuhkan diri kami dengan kasar. Dia menindihku dengan keseluruhan bobot tubuhnya yang berat.


Usai berciuman, jemarinya menyusuri tubuhku lagi dengan sensual, membisikkan kenikmatan, lalu ibu jarinya menyentuh apa yang terasa bagaikan inti dari jiwaku.


Sungguh, rasanya tak tertahan. Begitu menguasai. Aku terkesiap samar. Di dadaku, pria dewasaku itu menggeram, suara kenikmatan intens terdengar dari dalam kerongkongannya. Dengan satu tangan, Mas Ilham menahanku, sementara ibu jarinya menyapu tempat menakjubkan itu kembali, membuatku ingin... terisak penuh kenikmatan.


"Ukh, Mas...!" Aku bernapas dalam kesesakan. Terbakar oleh rasa malu dan kenikmatan.


Tiba-tiba, ia meluncur turun di tubuhku dan menguburkan wajahnya dalam lekukan di antara tungkaiku. Kuat dan berat, tangannya menyelinap ke paha bagian dalam, merentangkan kakiku. Dengan liar, dia menghunjamkan lidahnya ke dalam kelembapan itu, mencari-cari hingga menemukan tempat yang telah disentuh oleh jemarinya hingga mengeras.


Gila! Aku memekik tertahan. Pinggulku melengkung di atas ranjang, tapi lengan kuat Mas Ilham memaksaku turun kembali. Dengan sengaja dan manis, ia menyiksaku, mencumbu dengan nakal, dengan lidah dan jemarinya.


Dengan rakus, ia mengisa*, menghirup hasratku, lidahnya kembali meluncur ke dalam kehangatan selembut beledu, membuatku menggelia* tak tertahan. Aku gila, menggumam tidak jelas, mencengkeram seprai, rambut hitamku yang kusut tergerai di atas bantal dengan semaraknya. Dalam nyala cahaya lampu, kulitku berkilau, basah dan berkeringat. Dan dengan rintihan tertahan, napasku tercekat, dan aku tahu aku hampir meledak.


Yeah. Pelepasan itu datang menguasai dengan cepat, meninggalkanku bergidik dan gemetar, tubuhku kembali kaku.


"Mas....," *rangku, tanganku meluncur di atas tubuhnya, menyentuh tenggorokan, dada, perut, dan akhirnya beristirahat di atas jemari Mas Ilham.


Sebagai balasannya, Mas Ilham bergerak naik di tubuhku dan memeluk seluruh tubuhku hingga getaran itu mereda. Dan, dia masuk.


"Ah, Zahra!" bisiknya saat ia memasukiku, cepat dan keras.


Aku terkesiap oleh serbuan itu. Dengan terlambat aku menyadari bahwa ternyata tubuhku belum siap sepenuhnya.


Aku meringis di dalam hati. Sungguh, ini masih sakit! Masih perih sekali.

__ADS_1


__ADS_2