Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
My Perfect Husband


__ADS_3

"Zahra?"


Aku tertegun, kaget karena Mas Ilham sudah berdiri di sampingku saat aku berdiri tegak, bersandar ke dinding sambil menunduk dengan mata terpejam. Aku menangis dalam keharuan, namun ternyata Mas Ilham sangat peka sehingga ia tahu akan keberadaanku yang menguping di balik dinding.


"Oh, Mas, maaf. Aku...."


"Tidak apa-apa."


"Aku... aku hanya...."


"Berterimakasihlah pada Umi karena mereka mempercayaimu, ayo?"


Ah, tentu saja. Aku langsung masuk ke ruangan itu dan bersimpuh di lantai, di depan ibuku dan di depan ibu mertuaku. Dengan sesenggukan, aku berterimakasih kepada mereka karena telah sudi mempercayaiku.


"Sudah, Nduk. Ayo bangun, ibu hamil ndak boleh sedih-sedih begini," kata Umi.


Pun ibu mertuaku, dia berkata, "Iya, ibu hamil mesti bahagia. Harus pandai jaga emosi, jaga kesehatan, supaya kandungannya juga sehat. Jaga calon cucu Umi baik-baik, ya?"


"Iya, Umi. Pasti," kataku. "Bila akan jaga kandungan Bila dengan baik."

__ADS_1


Kedua ibuku itu tersenyum, mereka mengajakku untuk menutup sesi tangis-menangis itu dan kembali ke dapur. Namun sebelum itu, aku menginterupsi, "Bila mau bicara dulu sebentar dengan Mas Ilham," kataku meminta pengertian mereka.


Yap, keduanya mengerti. Ibu dan ibu mertuaku pun mengiyakan. Mereka beranjak dari tempat duduknya dan lekas pergi ke dapur, membiarkan aku dan Mas Ilham berdua di ruang keluarga.


"Ada apa, Zahra? Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Mas Ilham.


Namun aku menggeleng. "Tidak ada," kataku. "Aku hanya mau dipeluk. Aku mau menyampaikan ucapan terima kasih. Terima kasih karena kamu sudah begitu... intinya untuk semuanya, Mas. Untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku. Terima kasih." Dan sekarang aku menyuruk ke dalam pelukannya. Masih menangis haru dengan luapan rasa bahagia. Dengan lembutnya, Mas Ilham mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.


Oh, ketakutanku lenyap sudah. Kepercayaan dan dukungan moril semua anggota keluarga intiku adalah obat mujarab bagi hati, psikis, dan mentalku. Sebaliknya, cuap-cuap tetangga tentu bisa kuabaikan setelah ini.


Dan, pada akhirnya setelah menit-menit berlalu, setelah semua hidangan tertata rapi di atas meja makan beserta alat-alat makan lainnya, waktu berbuka pun akhirnya tiba.


Lagi-lagi aku memanjatkan syukur. Hangat sekali rasanya berada di tengah-tengah keluarga besarku. Kami berbuka puasa dengan perasaan bahagia. Terutama ibu mertuaku. Beliau sangat antusias hingga terus-terusan mengisi piringku dengan makanan. Mesti dihabiskan katanya, karena itu jatah makan untuk dua orang: untuk anak mantu dan calon cucu ketiganya. Dia memperlakukanku sama seperti ia memperlakukan Mbak Indah, putri sulungnya. Begitu juga terhadap kandungan kami, kasih sayang yang adil untuk kedua calon cucunya yang ia nanti-nantikan.


Mas Ilham jadi cekikikan karena kalimat pujian yang kulontarkan itu. Kalimat pujian dari bahasa kekinian dan konyol.


"Iya, sama-sama, Sayang," katanya. "Itu memang sudah kewajibanku. Tetapi... sekarang ada yang mesti meminta maaf dengan sungguh-sungguh karena tadi dia sudah berani membantah perintahku."


Eh? Soal menguping?

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf, Mas. Maafkan aku, ya? Aku mohon?"


Mas Ilham melepaskan pelukan tanganku dari pinggangnya, lalu ia berputar menghadapku. Dengan cengkeraman kuat pada kain jilbabku di belakang leher, Mas Ilham membuatku mendongak. Kemudian...


Dia menggigit bibirku dengan sedikit keras, menghasilkan perih nan manis yang kurasakan karena gigitan itu. "Ini untuk pertama kali, jadi kumaafkan," ujarnya. "Tetapi... lain kali jangan pernah diulangi, atau aku akan menghukummu lebih dari ini."


"O ya? Apa itu?" tanyaku iseng -- menggodanya. "Sesuatu yang...?"


Lagi, Mas Ilham cekikikan. "Itu namanya bukan hukuman, Sayang. Mana ada hukuman yang enak dan bikin ketagihan."


"Lalu, apa?"


Jawabannya adalah... ia akan mengurungku seharian di dalam kamar dan akan mewajibkanku mengaji sampai aku menyerah karena punggung yang super pegal dan kaki yang kebas.


"Wah, itu penyiksaan namanya, Mas."


"Makanya jangan pernah membantahku. Jangan pernah membantah suamimu. Paham, Zahra?"


"Hehe." Aku nyengir. "Inshaallah tidak akan lagi. Terima kasih karena...."

__ADS_1


Mas Ilham berbisik, "Berterimakasihlah dengan cara yang manis, Zahra. Hmm?"


O-ow... caranya...?


__ADS_2