
Aku ingat, tempat pertama yang kami kunjungi dalam agenda jalan-jalan ini adalah ke Golden Gate Park. Kami menghamparkan mantel-mantel kami di dekat kebun-kebun botani dan bersantai-santai di sana, lengkap dengan camilan yang mengenyangkan. Kau tahu, Mas Ilham itu tipe lelaki pemakan segala. Dia tidak pilih-pilih makanan. Apa pun akan ia makan asalkan sehat, higienis, dan halal.
Besoknya, aku dan Mas Ilham menghabiskan waktu dengan melihat-lihat berbagai objek turis. Dengan mobil pinjaman dari tetangga yang selalu kami repotkan itu, kami bermobil di jalanan yang berkelok-kelok, melihat-lihat pemandangan dari Coit Tower, dan makan udang dengan saus merah yang diwadahi corong dari kardus di Fisherman's Wharf. Sesudah makan siang, kami pergi ke Steinhart Aquarium dan menghabiskan sisa siang di sana. Mas Ilham sangat suka berada di sana. Dia tidak mau beranjak sebelum melihat semuanya: mulai dari kodok beracun, batu koral hidup, bintang laut, penguin, lumba-lumba, bahkan ikan buntal. Selama di San Francisco, kami sudah dua kali pergi ke sana.
Pada hari berikutnya, Mas Ilham mengajakku ke City Lights Bookstore. Sebenarnya, aku sangat suka toko buku. Tapi, di sini aku kesulitan memilih buku. Sebabnya, aku tidak suka buku berbahasa Inggris. Dalam percakapan, bahasa Inggris-ku lumayan. Aku cukup mampu dalam menangkap makna ketika seseorang bicara dalam bahasa Inggris, dan cukup mahir dalam bercakap. Namun, ketika membaca teks bahasa Inggris, aku malas. Sebab, aku butuh menterjemahkannya dulu ke bahasa Indonesia untuk menangkap makna dalam teks tersebut. Jadinya malas. Hmm... harap maklum. Bahasa Inggris-ku kan sekadar lumayan. Bukan best of the best. Alhasil, aku tidak membeli satu buku pun dari sana. Hehe.
Dan, tempat yang paling sering kami kunjungi adalah Chinatown. Mas Ilham membelikanku jubah sutra warna merah muda.
"Tapi jangan sering dipakai, ya. Sekali-kali saja pas momen khusus," katanya.
Iyuuuuuh... apa coba?
Selain untuk belanja, alasan kedua kami sering datang ke sini yaitu untuk makan siang. Ada sebuah restoran bernama Nan King yang menjual makanan dengan rasa wow, enak sekali. Se-wow alasan lainnya kenapa kami sering sekali ke sini.
Ckckck! Mau tahu?
__ADS_1
Di sekitar sana ada toko-toko yang menjual mainan *eks. Awalnya Mas Ilham penasaran dengan mainan apa yang dimaksud. Jadinya, dia mengajakku masuk ke toko itu. Ini membuatku merasa malu, sebabnya, aku berhijab. Aku merasa agak risih ketika orang-orang melihatku berada di toko yang menjual berbagai jenis mainan berbau *eks.
"Mas, kamu kan ustadz. Kok masuk ke toko beginian?"
Dia hanya tertawa kecil. "Kenapa memangnya? Ingat, lo, kita berdua suami istri, pasangan halal, dan kita manusia biasa."
"Ya, tapi kan...."
"Ssst...."
"Mas...."
Euuuuuw... borgol, say....
Kami terkikik-kikik. Benar-benar geli aku melihat kelakuan suamiku.
__ADS_1
"Jangan beli itu...," kataku setengah memekik. "Aku tidak mau diborgol!"
Dasar edan!
"Harus maulah. Kamu kan istriku, kamu harus menurut padaku dan tidak boleh membantah." Dia nyengir lebar, lalu mengambil setoples cat tubuh berbahan cokelat. "Kombinasi sempurna, Sayang. Bayangkan saja."
Aaaaah... ngeri-ngeri sedap. Otakku langsung travelling: memikirkan apa yang akan ia lakukan padaku saat dia memborgol tanganku dan mengoles cat cokelat itu ke tubuhku.
Eummmmm... enak kali, ya? Pasti geli. Hahaha!
"Aku edan, ya?" tanya Mas Ilham.
"Hu'um."
"Aku begini untukmu, Zahra. Hanya untukmu."
__ADS_1
Aduuuuuh... kelojotan aku, maaaaak....
Bahagia sekali. Selain karena sikap manis dan romantis Mas Ilham kepadaku, memang nyatanya di Francisco aku merasa damai. Khususnya di sini, tetangga-tetangga kami di Mill Valley ini bukanlah tetangga-tetangga yang julid. Di sini kami bebas dari fitnah dan omongan tetangga. Terlebih, bertetangga dengan Mbak Fitria, aku seakan punya seorang kakak perempuan. Dia tidak pernah sungkan menasihatiku, dia mengajariku memasak makanan barat, juga mengajariku mengurus bayi. Rasa-rasanya aku ingin tinggal di sini lebih lama. Sungguh, San Francisco membuatku bahagia. Ini liburan terbaik.