
"Aku mau tanya sesuatu."
Seketika Mas Ilham mengangkat alis. Kami sudah berada di depan kamar hotel. Laila dan Laili sudah masuk ke dalam, pun Mas Farid juga sudah masuk ke kamar untuk ia dan Mas Ilham, dengan kedua pintu yang masing-masing masih terbuka lebar.
"Mau tanya apa?" tanya Mas Ilham.
"Anu, Mas," aku menoleh sejenak ke dalam kamar. "Aku mau tanya...."
"Emm? Tanyakan saja. Tidak apa-apa, kok. Tidak ada yang mendengar."
Well, kuhela napas dalam-dalam lalu berkata, "Setelah beberapa kali kita bertemu, aku perhatikan... kamu menjaga pandanganmu kok saat berhadapan dengan perempuan lain. Termasuk pada Laila dan Laili. Tapi padaku, kok nggak, ya?"
Mas Ilham tersenyum, masih berdiri santai di depanku dengan kedua tangan di dalam saku jaket yang ia kenakan. "Mau tahu kenapa?"
"Em, kenapa?"
"Karena kamu terlalu manis untuk dilewatkan."
"Dasar gombal...! Jawab serius, dong...! Kenapa? Karena permintaan Umi, ya?"
"Jangan menuduh...," sahutnya lembut sembari menggeleng. "Umi hanya memberitahuku bagaimana karakter anak gadisnya. Selebihnya, itu keputusanku sendiri untuk melangkah dan bagaimana aku mesti bersikap. Dan ini hanya demi meluluhkan hatimu, seorang gadis yang percaya bahwa cinta itu datang dari mata lalu turun ke hati. Jadi, jika aku tidak menatapmu, kamu pasti tidak akan klik denganku. Iya, kan?"
Oke. Aku sudah tahu dia akan menjawab seperti itu. "Terus, bukankah memang sebaiknya menjaga pandangan? Begitu, kan, cara pandangnya Mas Ilham?"
"Ya, benar. Harusnya seperti itu."
"Terus?"
"Apanya?"
"Caramu memandangku, kenapa hanya demi aku kamu rela berdosa?"
Mas Ilham tersenyum lagi, dan kali ini sambil menatapku lebih dalam. "Zahra...," katanya, "pahala dan dosa itu urusan Allah. Kecuali untuk hal yang sudah ditetapkan hukumnya, yang sudah jelas halal dan haramnya. Tapi... dalam hal memandang lawan jenis yang bukan muhrim, aku tidak tahu hukum mutlaknya. Dan kalaupun dengan memandangmu aku berdosa, maka aku rela. Karena setelah kita menikah nanti, kamu -- seutuhnya -- adalah ladang pahala untukku."
Oalaaa... napasku sesak dan jantungku berdebar-debar tak karuan. Cinta ini tak lagi sekadar dari mata dan turun ke hati. Tapi lebih dari itu, ia sudah menyebar ke setiap sel dan aliran darahku. Kakiku jadi lemas. Aku tak sanggup berdiri lebih lama lagi di hadapannya.
"Percayalah, Zahra. Di dunia ini ada banyak lelaki yang lebih baik dariku. Apalagi yang tidak baik, jauh lebih banyak lagi. Tapi, satu hal yang pasti, yang aku yakin dan harus kamu percaya, akulah satu-satunya yang terbaik untukmu. Inshaallah."
Aku menunduk, merona malu dan sebisa mungkin berusaha menahan senyuman. "Aku percaya, Mas. Inshaallah. Emm... sudah malam. Aku masuk, ya?"
Dengan senyuman terbaikku, aku melangkah masuk ke ruang kamar, kemudian menutup pintu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas. Selamat malam."
Ceklek!
Tok! Tok!
Ya ampun... pipiku sudah panas. Apa lagi yang hendak ia sampaikan? Kuhela napas dalam-dalam dan membuka kembali pintu di depanku. "Ya, Mas?"
"I love you. Aku cinta padamu, Zahra."
Umiiiii... ingin aku memekik memanggilnya supaya ia tahu bahwa saat ini aku sangat bahagia. Kukulum senyum semringah di hadapan Mas Ilham dan aku mengangguk. Kututup kembali pintu itu yang kini menghalangi pandanganku dari wajahnya, namun tak akan pernah terhalang dari ingatanku. Tak akan pernah terhalang oleh apa pun dan siapa pun. Keyakinanku bertambah besar terhadapnya. Dialah yang terbaik. Yang paling sabar dan paling bisa menghadapiku.
I love you too, Mas Ilham. Aku juga mencintaimu.
Oh... cintanya, seperti kembang api yang menggelegar dengan sejuta pesona keindahan.
Dari balik pintu, aku berjalan melintasi ruangan, menaruh ponselku di atas tempat tidur dan lekas pergi ke kamar mandi. Wajahku mesti diciprati air dingin.
"Bersyukurlah, Zahra. Kamu gadis yang beruntung." Aku tersenyum-senyum sendiri di depan cermin.
Beberapa menit setelah itu, saat aku sudah selesai dengan semua urusanku di kamar mandi dan aku baru saja keluar dari sana, ponselku berdenting. Aku pun naik ke tempat tidur sambil tersenyum. Pesan whatsapp dari Mas Ilham.
》 Ada yang ingin kubahas denganmu.
》 Bulan madu.
Eh? Apa karena aku menyinggung-nyinggung soal hotel tadi?
《 Maksudnya?
》 Kamu mau kita bulan madu ke mana?
《 Terserah. Ke mana pun boleh, asalkan bersamamu.
》 Aku serius. Aku tidak tahu mesti mengajakmu bulan madu ke mana.
Aku baru saja hendak mengetik balasan pesan, namun Mas Ilham lebih dulu menghubungiku lewat panggilan telepon.
"Ya, Mas?"
"Kemungkinan Laila dan Laili akan tinggal lama di rumahmu, kan?"
__ADS_1
"Emm... inshaallah, sepertinya begitu, Mas. Memangnya kenapa?"
"Apa kamu mau kalau kamu kuajak tinggal berdua? Kita tinggal di rumah kita sendiri?"
"Eh?" Aku tertegun. Rasa panas kembali menjalari tengkuk leher hingga ke pipi.
"Yah, di rumah kita sendiri. Hanya kita berdua. Dari... hari pertama setelah menikah. Setelah kita halal. Emm... maksudku...."
Kuseka keringat yang muncul di pori-pori. Obrolan ini begitu sensitif. Belum lagi perutku, serasa seperti diaduk-aduk.
"Begini, Zahra," lanjutnya, suaranya pelan sekali, kupikir ia tidak enak kalau obrolan kami didengar oleh Mas Farid. Dia berdeham. "Soal kamu menyinggung-nyinggung perihal hotel tadi. Tidak apa-apa kalau kamu mau kita menginap di hotel untuk... bulan madu. Tapi kalau bisa, aku ingin membawamu pulang ke rumah kita sendiri saat... kamu mengerti, kan?"
Ya Tuhan... aku berusaha semaksimal mungkin menahan tawa, juga rasa gugupku. "Maksud Mas Ilham... di malam pengantin?"
"Em, itu maksudku. Rumah kita sendiri, dan kenangan kita sendiri. Tempat yang sama yang akan kita lewati setiap tahunnya."
Aku paham. "Maksudnya... anniversary pernikahan?"
"He'em. Mau, kan?"
Jujur aku girang. "Ya," kataku antusias. "Aku mau. Eh? Maksudku...."
"Terima kasih, Zahra."
"Sama-sama, Mas. Emm... tapi, rumahnya?"
"Tidak usah dipikirkan. Yang penting kamu mau, dan nanti kamu mesti bisa memberi pengertian kepada Umi. Setidaknya selama ada si kembar, kita punya waktu untuk tinggal berdua. Hanya berdua saja. Kamu dan aku. Dunia kita sendiri sebagai pasangan pengantin baru."
Uuuh... so sweet....
"Aku memimpikan hari-hari indah itu bersamamu, Zahra."
Makin engap. Sesak napasku dibuatnya. Sungguh, betapa manisnya calon suamiku itu. Bahkan, dia membuat senyum bahagia di wajahku tak bisa lagi kutahan. "Aku... aku juga, Mas. Aku akan bicara secepatnya pada Umi."
"Alhamdulillah. Terima kasih atas pengertianmu. Aku mencintaimu, Zahra. Selamat malam."
Tut!
》 Mimpi yang indah, ya. Tentang kita. Assalamu'alaikum, Zahra. I love you.
I love you too, Mas Ilham....
__ADS_1
Kutarik selimutku lebih ke atas. Malam kelam terus merambat. Cuaca dingin menerpa, namun di dalam hatiku, tentu akan selalu terasa hangat.
Dan aku tahu, malam ini aku akan tertidur dengan lelap.