Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Melepas Penat


__ADS_3

Tak ingin membalas whatsapp Mas Ilham tentang rasa bersalahnya itu, kusimpan kembali ponselku ke dalam tas. Aku akan bicara dengannya nanti di saat yang tepat.


Di hotel, kami memesan dua kamar dengan tempat tidur ekstra. Sewaktu aku hendak mengambil dompetku, dengan sigapnya, Mas Ilham sudah lebih dulu menyodorkan kartu debitnya.


"Tidak usah. Biar pakai uangku saja," tolakku.


"Ssst...."


"Mas... aku tidak enak...."


Dia hanya menyunggingkan senyum. Perdebatan ini sudah terjadi sejak pagi. Pertama, sewaktu ia mengisi bensin, dia menolak uangku. Setelahnya, semua makanan untuk mengganjal perut kami, Mas Ilham juga yang mengeluarkan uang. Bahkan, tadi sebenarnya aku sempat mengatakan kepadanya biar aku saja yang membayar biaya penginapan kami. Dia hanya mengangguk dan iya iya saja. Tapi, nyatanya sekarang? Dia masih saja keukeuh ingin membiayai semuanya. Sungguh, dia membuatku tidak enak hati.


Setelah mendapatkan kunci kamar kami masing-masing, kami berjalan mengikuti petugas layanan kamar yang membawakan koperku, aku tak hentinya melayangkan protesku pada Mas Ilham, "Kamu sudah meluangkan waktu menemaniku. Kamu juga sudah capek nyetir. Masa yang mesti keluar uang kamu juga, sih, Mas?"


Lagi-lagi ia mengeluarkan desisan supaya aku diam. "Jangan cerewet, ya. Kamu tinggal bayar pakai senyuman yang bisa menyejukkan hatiku. Aku cinta padamu, Zahra."


Ih, dia, yaaaaa... manis sekali. Aku menoleh padanya yang berjalan di sampingku dan serasa ingin menarik brewoknya. Menggemaskan.


Untung saja lobinya sepi. Aku mesem-mesem sendiri dibuatnya.


Di sana, aku memandang sekeliling, menyukai kesan tempat itu. Ada banyak tanaman dan pohon-pohon dalam pot-pot besar tertata di lantai. Ada banyak vas bunga di meja resepsionisnya tadi. Sepasang layar televisi yang dipasang di dinding di sebelah kanan meja, dan satu di atas yang lain. Aku juga bisa melihat kolam renang melewati kaca jendela, juga di sebelah kanan meja. Mamandang takjub ke arah sana dengan harapan bisa merasakan asyiknya berenang di sana. Andainya bisa. Maklum, itu salah satu hobi yang hanya sesekali bisa terpenuhi. Well, kusimpulkan ini hotel yang cukup berkelas.


Dengan posisi kamar bersebelahan di lantai dasar, kami membuka dan masuk ke kamar masing-masing. Aku bersama Laila dan Laili, sedang Mas Ilham sekamar dengan Mas Farid. Kujentikkan tombol lampu, dan tersenyum. Kamar itu indah, bersih, wangi, dan dengan seprai putih menutupi tempat tidur yang memiliki tiang di kepala tempat tidur. Ada enam bantal dan sebuah guling di setiap tempat tidur. Lampu bergaya Tiffany terletak di meja kecil di samping tempat tidur yang menurutku terbuat dari kayu pinus. Sebuah TV berukuran 27 inch terletak di atas lemari, lengkap dengan remote dan layanan kabel. Ada beberapa foto yang dibingkai tergantung di dinding. Dan, ada sofa dan meja kecil juga, meski minimalis, tapi cukup empuk.


Aku mengintip ke kamar mandi. Kamar mandinya lengkap, mulai dari cermin panjang dan lampu hias sampai ke lantai berubin, shower, bathtub sederhana, juga berbagai keperluan mandi.

__ADS_1


"Mbak, ayo mandi. Aku bantu, ya," kata Laila, sementara sang adik yang baru saja mengeluarkan pakaian gantinya, langsung meraih koperku, menanyaiku mau memakai baju yang mana.


Yang mana sajalah, pikirku. Aku mengedikkan bahu. "Terserah, Li. Asal cocokkan warna baju dengan jilbabnya, ya."


Laili mengangguk.


Kulepas jilbabku dan kutaruh di ujung tempat tidur. Kemudian, aku membiarkan Laila membantu melepaskan gendongan tanganku, lalu pakaianku. Kami pun mandi bersama.


"Terima kasih, ya, Mbak. Mbak sudah mau repot-repot membantu kami. Padahal kondisi Mbak sendiri seperti ini," kata Laila dengan rasa prihatin terhadap kondisiku.


Aku tersenyum kepadanya yang sedang menggosokkan sabun ke badanku. "Kita bersaudara, Sayang. Sudah kewajiban Mbak untuk membantu kalian berdua, ya kan? Mbak sayang pada kalian. Jadi... ndak usah merasa sungkan begitu. Oke?"


Dia mengangguk. Dan kusadari, aku bahkan lebih sayang kepada mereka berdua ketimbang pada adik-adikku dari Abi. Yeah, aku tidak membenci mereka, ataupun ibunya, istri kedua Abi. Aku hanya benci pada apa yang dilakukan oleh Abi. Poligami itu. Poligaminya yang kubenci -- benci karena hal itu telah membuat hati ibuku sakit selama berbelas-belas tahun.


Setelah mandi dan berpakaian, plus salat isya, kami keluar dari kamar hotel, waktunya mencari makan. Dan sesuai kesepakatan bersama, kami memutuskan untuk bersih-bersih dulu, salat isya, dan setelahnya baru keluar lagi untuk makan malam, supaya kami semua bisa menikmati makan malam itu dengan nyaman dan santai. Sebab, tadi siang, karena perjalanan yang benar-benar menyita waktu, kami tidak menyempatkan untuk mampir makan siang. Jadinya, kami hanya membeli pizza, burger, dan berbagai minuman dan camilan untuk mengganjal perut yang praktis dikonsumsi di dalam mobil. Oleh karena itu, Mas Ilham dan Mas Farid memutuskan untuk makan malam ini mesti benar-benar dilakukan di jam santai, supaya perut kenyang dan hati pun ikut senang.


"Mandi?" tanya Mas Ilham padaku. Seperti tadi, kami berjalan di belakang, mengintil Mas Farid dan si kembar Laila dan Laili yang berjalan di depan.


Aku tersenyum ceria. "Yeah," kataku. "Dibantu Laila. Untungnya juga ada shower, kan? Aku tidak tahan gerah."


"Syukurlah. Aku suka melihat Zahraku kembali fresh. Cantik."


Hah! Dasar ustadz gombal....


"Zahra?"

__ADS_1


"Emm?"


"Kamu tidak marah padaku, kan?"


"Soal apa? Tentang rasa bersalahnya Mas Ilham? Seperti yang Mas tuliskan di whatsapp tadi? Hmm?"


Dia mengangguk.


"Aku tidak marah. Aku percaya takdir, kok. Yah, walaupun dulu kadang kala aku tidak bisa menerima takdir dan hal-hal yang buruk. Tapi, dalam hal ini, apa pun yang terjadi, aku percaya itulah yang terbaik. Jadi... aku tidak marah pada Mas Ilham. Mas sudah berbuat baik karena Mas bersedia mengantar dan menemani kami ke sini. So, please... just relax."


Ia mengangguk. "Inshaallah. Terima kasih, ya. Aku hanya takut membuatmu kecewa."


"Kalau kecewa memangnya kenapa? Kamu takut aku membatalkan pernikahan kita? Nggaklah. Kan aku sudah jatuh cinta akut padamu, ya kan?"


Hah!


Mas Ilham menahan lengkingan tawanya, juga rasa gemasnya terhadapku. "Sayang kita belum muhrim," celetuknya.


"Kalau sudah muhrim?"


"Balik lagi ke kamar."


"Memangnya mau ngapain, Mas?"


"Main karambol! Puas?"

__ADS_1


Hahaha! Giliran aku yang cekikikan. Rasa tak sabar ingin segera dihalalkan oleh sosok Mas Ilham yang tampan dan menyenangkan itu kembali menggebu-gebu.


Sabar. Hanya kurang dari satu bulan, Zahra. Aku mengulum senyum. "Omong-omong, hotelnya bagus, ya, Mas? Cocok untuk bulan madu, ya kan?"


__ADS_2