Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Mesranya....


__ADS_3

Hiks! Aku sangat mengantuk, tapi hari ini aku sudah wajib kembali aktif mengajar. Jadi, mau tidak mau rasa kantuk itu mesti kutahan. Namun parahnya, kepalaku, tepatnya di sekitar pelipis, jadi terasa sakit akibat menahan rasa kantuk yang melandaku tanpa kenal ampun.


"Kenapa?" tanya Mas Ilham seraya menghampiriku. Pagi itu dia sempat melihatku memijat pelipis di saat aku tengah duduk di kursi meja riasku, aku baru saja selesai menyisir rambut. Di dinding, jarum jam baru menunjukkan waktu pukul enam pagi kurang sepuluh menit.


Sambil menahan sakit di kepala, kujelaskan kepadanya kalau aku butuh tidur. Yeah, kalau saja aku tahu kami mesti bangun sahur, aku ingin tidur lebih cepat tadi malam, dan bukannya tidur jam setengah sebelas karena menonton tayangan televisi bersama Mas Ilham.


"Kepalamu sakit? Mau batal puasa saja? Minum obat, ya?"


Duuuh... Mas Ilham. Kendati merasa sakit, kugelengkan kepalaku dengan yakin. "Aku butuh tidur, Mas," kataku. "Sebentar saja, biar kantukku hilang. Nanti rasa sakitnya pasti hilang juga, kok."


"Bukannya kamu hari ini ada jam mengajar pagi? Mau kuabsenkan biar kamu libur dulu hari ini?"


Aku menolak. "Tidak usah," kataku. "Aku butuh tidur saja sebentar. Lagipula hari ini senin. Ada upacara bendera dulu. Jam delapan aku baru mengajar. Tidak apa-apa, ya, aku tidur dulu? Aku juga sudah mandi, tinggal pakai seragam plus dandan sedikit."


Mas Ilham mengangguk, lalu, dengan perhatiannya -- meski aku bilang tidak usah -- ia menggendongku dan membiarkanku tidur bahkan hingga satu setengah jam. Tepat pukul setengah delapan, ia baru membangunkan aku. Yeah, betapa bahagianya, Mas Ilham benar-benar pandai memanjakan istri.


"Bagaimana?" tanya Mas Ilham yang kini duduk di sampingku. "Kepalamu masih sakit, tidak? Kalau masih sakit, mengajarnya libur dulu saja, ya? Nanti aku hubungi pihak sekolah."


Aku tidak langsung merespons, kufokuskan diriku merasakan keadaanku, dan, tidak. Kepalaku sudah tidak sakit. "Sudah lebih baik, Mas," sahutku. "Masih sedikit mengantuk saja." Lalu aku terfokus pada penampilan Mas Ilham. Aku baru sadar kalau dia sudah siap dengan pakaian mengajarnya, hanya setelan baju koko berlengan panjang, plus peci. Dia tidak berseragam dinas selayaknya guru sekolah umum sepertiku. "Sebentar, ya. Aku siap-siap dulu."


Sambil beringsut duduk lalu bangun, aku memerhatikan Mas Ilham, dan berpikir: nanti dia pakai sepatu apa, ya? Atau memakai sandal?


Kurang kerjaan memang. Zahra mulai ketularan konyol seperti Mas Ilham.


Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai berganti pakaian dan sedikit berdandan dengan super kilatnya, Mas Ilham yang tadi keluar dari kamar, kini sudah berdiri di ambang pintu. "Sudah siap belum, Sayang?" tanyanya.


"Iya, sudah...."


"Ayo, nanti kamu telat."


"Tuh, kan, repot jadinya. Coba kalau aku bawa motor sendiri, kan--"


"Sayangnya lagi puasa. Coba kalau tidak, sudah kucium mulutmu yang bawel itu."


Hehe, aku nyengir. "Maaf, Mas."


"Pokoknya jangan bawel. Selagi aku bisa dan dalam keadaan sehat, aku akan mengantar dan menjemputmu setiap hari. Tanpa absen."


Aku mengangguk. "Iya, terima kasih banyak, dan aku akan bersyukur atas anugerah itu." Kuraih tasku dari atas meja dan menyambut tangan Mas Ilham yang terulur kepadaku. Seraya bergandengan tangan, kami menuruni anak tangga dengan langkah seirama.


"Omong-omong, kita pakai motor saja, ya. Biar bisa cepat dan bisa menyalip. Aku takut kalau kamu sampai telat."


Yeah, kurasa itu benar. Aku pun mengangguk. "Tapi benar, ya, kamu bisa bawa motor," kataku. "Nanti malah...."


"Apa? Naik kamu saja aku bisa, Sayang. Apalagi sekadar naik motor."


Ah, dia benar-benar, ya....


"Jangan bahas soal itu...."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Lagi puasa. Nanti...."


Mas Ilham terkikik. "Pikiranmu yang kotor. Isinya bercinta terus," ledeknya.


Capcay! Padahal dia yang mengarahkan. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku berjalan cepat keluar dari rumah duluan, dan, memaksakan diri untuk tidak menyahuti omongan Mas Ilham yang menyerempet ke arah sana. Dan, di depan rumah, kulihat motornya sudah siap sedia.


"Nah," kata Mas Ilham seraya memberikan kunci rumah kepadaku. "Kamu pegang yang ini, dan aku pegang kunci cadangannya."


Well, kusambut kunci itu lalu menyimpannya ke dalam tas seraya Mas Ilham memakaikan helm ke kepalaku, kemudian ia naik ke motor, disusul olehku yang duduk di boncengannya yang sudah stay di atas motor.


"Sudah?"


"Ya, Mas."


"Tidak ada yang kelupaan?"


"Tidak. Inshaallah, mudah-mudahan tidak ada."


"Oke. Pegangan. Peluk aku yang erat."


Jiaaaaah....


"Iya. Tanpa kamu minta pun, aku pasti akan memelukmu dengan erat."


Uuuh... senyum manis Mas Ilham pun seketika mengembang sempurna sebelum kunci kontak diputar dan mesin motor menderum. "I love you, Zahra."


"Siap berangkat, ya?"


"Hu'um."


"Bismillahirrahmaanirrahiim...."


Olala... kerennya ustadz brewok satu ini. Berasa melihat almarhum Ustadz Jefry kalau dia menunggangi motor gedenya. Tapi dalam versi pria yang lebih muda, lebih berisi, dan lebih berjambang. Hahaha!


"Seruuuuu...!"


"Apanya, Sayang?"


"Naik motornya. Aku belum pernah naik motor gede, lo, Mas."


Mas Ilham terkekeh. "Aku kepingin meledek jadinya, kamu norak. Naik motor gede saja happy begitu. Apalagi naik yang punya."


Ya Tuhan... asli ini... pingin kujambak brewoknya. Sabar, Zahra... lagi puasa. Coba saja kalau kami sedang tidak puasa, aku ingin melontarkan satu pertanyaan kepadanya: kamu pingin kunaiki, ya?


Eh?


"Jangan nyerempet-nyerempet begitu, Mas. Aku kan lagi belajar puasa sunah. Otakku juga lagi masih gesrek-gesreknya bawaan pengantin baru. Nanti nilai puasaku malah tidak afdol."

__ADS_1


Belum sempat Mas Ilham menjawab, gerbang sekolah tempat aku mengajar sudah tampak di depan mata. Mas Ilham pun memperlambat laju motornya hingga berhenti tepat di depan gerbang. Aku pun turun dari motor kemudian melepaskan helm dan memberikannya kepada Mas Ilham.


"Sudah sampai. Gesrek-gesrekannya kita lanjutkan nanti setelah buka puasa. Oke, Sayang? Aku menantikan kegesrekanmu."


Duuuh... kumat lagi.


"Ya sudah. Terima kasih sudah mengantarku."


"Sama-sama, Sayang."


"Kamu suami terbaik, Mas. Selalu begini, ya?"


"Aamiin...."


"Aamiin...."


"Ingat, tunggu sampai aku datang menjemput. Kamu jangan ke mana-mana. Jangan pergi tanpa izinku. Plus... cepat kabari aku kalau ada apa-apa. Semangat mengajarnya, ya, Sayang."


Hmm... wowlah, Mas Ilham menyerocos panjang. "Iya, Mas," kataku. "Untuk semuaya, akan kujalankan perintah Mas Ilham dengan baik."


"Bagus. Kamu memang istri penurut."


"Iya, Mas...."


"Sana, gih. Masuk."


"Em. Salim dulu."


Mas Ilham memberikan tangannya, lalu aku mencium punggung tangannya itu dengan hormat. Dan kemudian...


"Keningnya, sini. Aku mau cium."


Hah?


"Kenapa melotot?"


"Malu, Mas...."


"Malu apa?"


Aku pun celingak-celinguk, menoleh kanan dan kiri. "Banyak orang, Mas. Malu kalau ada yang lihat...."


"Kamu istriku, Salsabila Azzahra," sahutnya santai, kalem, namun juga terkesan posesif. "Aku berhak. Ini halal. Dan aku menginginkannya. Patuhi aku. Penuhi setiap permintaanku. Plus, jangan membangkang. Jangan pernah membantah perkataanku. Paham, Sayang?"


Praktis aku terkikik pelan. Aku merasa seolah sudah sangat terbiasa dengan celotehan Mas Ilham yang sarat akan cinta. "Iya, Mas. Iya...," sahutku santai. "Aku minta maaf, ya? Maafkan aku." Kucium sekali lagi punggung tangannya dengan sayang, hormat, dan sepenuh perasaan. Lalu, kubiarkan ia mencium keningku.


Uuuuuh... bahagianya aku, ya Tuhan... terima kasih banyak.


"Semangat, Istriku Sayang," Mas Ilham berkata seraya menangkup pipiku dengan jemarinya yang mengelus pelan, kemudian ia berkata, "Aku sangat mencintaimu. Assalamu'alaikum, Zahra."

__ADS_1


Oh, Mas Ilham. Mesranya suamiku. So sweet... sekali. Aku semakin cinta, dan semaaaaakin sayang. Dia suami yang terbaik. Ilham dari Tuhan, belahan jiwaku, dan seorang imam yang sempurna.


__ADS_2