Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Pemuda Yang Manis


__ADS_3

"Alhamdulillah, Bidadari di sampingku sudah ceria lagi."


Aku tercengang. Wah, pikirku, dia seperti pria yang sudah telaten menggombali perempuan. Tapi masa iya seorang ustadz seperti itu?


"Kamu gombal sekali, ya. Aku perempuan ke berapa yang sudah kamu gombali? Hmm?"


Ia melirikku, sebelah tangannya menggaruk pelipis yang aku yakin sebenarnya sama sekali tidak gatal. "Bukan gombal...."


"Terus...?"


"Berkata manis yang apa adanya. Anggap saja seperti pujian."


"Baiklah, baiklah. Jadi aku orang ke berapa yang kamu puji seperti ini? Hmm? Jujur, lo, ya!"


"Emm... sejujurnya sih orang ke dua. Tapi kamu jangan tanya, ya, siapa yang pertama."


"Ok, I see...," sahutku. Kemudian, aku tersadar dengan bahasa yang kugunakan. "Eh, maaf, maaf. Maksudku... aku mengerti."


Dia mengangguk. "It's ok, Zahra. Kamu mau ngomong bahasa Indonesia, bahasa Jawa, atau bahasa Inggris, terserah kamu. Mau bahasa Arab juga boleh. No problem. Just relax."


Nah, ini pria cerdas! Hatiku bersorak senang. "Oke, apa saja, ya. Trims, lo, kamu bukan sosok yang suka mengharamkan bahasa asing."


"Yah, karena aku sama sepertimu. Aku bukan pribadi yang berpikiran sempit. Dalam pandanganku, tidak ada ilmu yang haram asal ia tidak mengajarkan untuk mendustakan dan menduakan Allah. Sesimpel itu."


Dan aku suka cara pandangmu. Aku bertambah kagum padanya. "Omong-omong, sori, aku sudah lupa pelajaran bahasa Arab," akuku. "Aku hanya mengenyam pendidikan di pesantren itu sewaktu di Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Sewaktu di tingkat Aliyah, aku hanya sampai satu semester. Setelahnya, aku minta pindah ke SMA."


"Dan Abi mengizinkan?"


Aku menoleh ke luar jendela, tertampar masa lalu. "Sebenarnya tidak. Abi justru menolak. Tapi aku mengancam, aku tidak akan mau sekolah kalau Abi tidak memindahkan aku. Ya... dari awal semester satu sebenarnya, tetapi karena sudah terlambat, Abi membujukku, tunggu sampai semester genap katanya. Dan... aku tahu, kalau dia berharap aku akan lupa dan tidak akan minta pindah sekolah lagi setelah satu semester itu. Tapi dia seakan tidak mengenalku, aku bisa lebih keras dari apa yang dia bayangkan. Aku... aku bahkan sampai sekarang masih ingat saat Abi memukuliku dengan rotan, berharap aku menyerah pada aturannya. Tapi akhirnya dia menyesal sendiri karena sudah begitu keras terhadapku. Aku sampai jatuh sakit, tapi tetap keukeuh mau pindah ke sekolah umum. Well, akhirnya dia mengalah, dia memindahkan aku ke sekolah umum, dan... setelahnya dia mengizinkan aku kuliah di jurusan umum." Aku menoleh ke Ustadz Ilham. "Sekarang kamu tahu, kan, betapa pembangkangnya aku dan seberapa keras kepalanya aku? Aku bahkan bisa mempertahankan egoku sampai mati."


"Lalu, apa masalahnya kalau aku tahu?" Dia hanya tersenyum, dan tetap santai.


Heran. Jangan-jangan dia sudah tahu, pikirku. "Kamu mau menikahi perempuan sekeras aku?"


"Kamu keras karena ada sebabnya, Zahra. Dan aku yakin, terhadapku, kamu akan terus menjadi gadis yang lembut."

__ADS_1


Eh? Percaya diri sekali....


"Bilang aamiin?"


"Hah? Oh, ya, ya, aamiin."


"Aamiin. Semoga Allah mengabulkan."


Deg!


Hanya kata yang sederhana, tapi aku merasakan makna yang terlalu dalam. Dia berusaha sekali untuk menyentuh hatiku.


"Omong-omong, tadi matamu berkaca."


"Oh, itu, itu hanya... ya begitulah. Aku cuma merasa asing dengan sikap manisnya Abi."


"Memangnya tidak pernah sebelumnya?" tanya Ustadz Ilham agak sangsi. "Atau... kamu sebenarnya yang menjaga jarak dengan Abi?"


Aku berdeham. Pertanyaan Ustadz Ilham agak blak-blakan juga ternyata. "Kurasa sebenarnya kamu sudah tahu. Umi pasti cerita padamu tentang bagaimana hubungan di antara aku dan Abi selama ini, ya kan?"


"Lalu, kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini?"


"Aku kan sudah mengatakan alasanku kemarin. Kamu masih ingat, kan? Aku menerima perjodohan ini demi penggenggam surga kita. Demi memuliakan mereka, ibu yang sudah melahirkan kita. Jawaban yang sama, Zahra. Tapi... sekarang aku juga ingin melakukannya demi kamu. Demi seorang Zahra."


Lagi-lagi aku terenyuh. "Demi aku, Mas? Kenapa bisa demi aku?"


Ustadz Ilham kembali menyunggingkan senyum, kemudian ia menginjak rem, dan menepikan mobil di bahu jalan. "Kamu ingin tahu kenapa?" tanyanya. Dia menatapku begitu dalam, dan serius. "Alasannya, karena kamu -- demi Allah, kamu adalah jawaban dalam istiqharahku."


What?


Aku... aku tak bisa bernapas rasanya. Dia membuatku terpaku. Dan setelah itu sunyi, Ustadz Ilham kembali bersikap seolah barusan ia tak mengatakan apa pun -- sesuatu yang sebenarnya seperti tabuhan genderang yang membuat hatiku berdebar tak karuan. Aku terlongo-longo, terdiam seribu bahasa dibuatnya.


Apa iya, aku jawaban dalam istiqharahnya? Sedangkan aku sendiri takut untuk mencari jawaban untuk diriku sendiri.


"Jangan berpikir terlalu berat, Zahra. Rileks."

__ADS_1


Aku -- tak bisa merespons.


"Oh ya, omong-omong, kamu sudah menyiapkan apa saja yang akan kita bahas, kan? Sudah kamu tulis?"


Aku masih bengong.


"Zahra... Ilham memanggil...!"


Ustadz Ilham menjentikkan jari di hadapanku hingga perhatianku kembali fokus.


"Sudah kamu tulis?"


"Apa?"


"Apa saja yang mesti kita bahas. Apa kamu sudah menuliskannya?"


Aku nyengir, aku lupa membawanya. "Tidak perlu ditulis, Mas. Tinggal membahas tentang kebiasaanku yang kira-kira bisa kamu terima atau tidak, terus... tentang hobiku. Seberapa tolerir kamu pada hobi dan kebiasaanku sehari-hari. Hanya itu saja."


"Dan sebenarnya kamu ingin aku menerima semuanya, kan?"


Tentu saja. Dan jawabanmu akan menjadi pertimbangan untukku. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Aku akan memberikan jawaban yang jujur menurut pandanganku. Tanpa harus sengaja berpura-pura menerimanya padahal itu bertentangan dengan cara pandangku. Aku janji tidak akan seperti itu. Oke? Kita harus saling terbuka dan saling menghargai di awal, bukan begitu, Zahra?"


Aku mengangguk. "Tentu saja. Aku mengharapkan jawaban yang jujur. Aku juga tidak mau kalau kamu berpura-pura. Apalagi kalau kamu hanya terpaksa. Jangan, ya?"


"Ok, deal. Tapi nanti, ya, kita membahasnya. Setelah kita sampai. Sebentar lagi."


Benar saja. Hanya beberapa meter, di depan sana, plang sebuah kedai kecil sudah terlihat dan Ustadz Ilham berbelok masuk ke parkiran. Itu hanya sebuah kedai kecil yang menjual beberapa jenis makanan. Aku tak ingin repot-repot memilih, jadi aku hanya memesan bakso daging dan es dawet. Begitu juga Ustadz Ilham. Dan kali ini, sepertinya dia yang sengaja menyamai pesananku.


"Oh, ya," katanya memulai obrolan setelah pelayan menjauh dari meja kami, "maaf, ya, aku mengajakmu ke sini. Aku tidak punya maksud apa-apa. Serius, aku hanya khawatir nanti kamu tidak luwes mengungkapkan isi hatimu kalau kita mengobrolnya di rumah. Apalagi kalau Abi dan Umi sampai mendengar. Tidak apa-apa, kan?"


Bukannya menjawab, aku malah bertindak jahil. "Cieee... yang sekarang ngomongnya aku-kamu...."


Dia mencebik. Lucu sekali.

__ADS_1


Thanks, kamu sudah sangat pengertian.


__ADS_2