Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Kepercayaan


__ADS_3

Sebelum kami pulang, Mas Ilham mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang aku tahu itu berisi uang. Dia menyerahkan amplop itu kepadaku untuk diberikan kepada Umi Windari, dia juga membisikkan nominalnya sekaligus meminta izinku untuk memberikan uang itu. Kalau aku mengizinkan, dia memintaku untuk memberikan amplop itu langsung dengan tanganku.


"Bilang saja THR untuk Mia," katanya.


"Ya, Mas," kataku.


"Kamu ikhlas, kan?"


Tentu saja aku ikhlas. Bagaimana mungkin aku akan melarangnya? Aku justru bangga karena Mas Ilham tetap menjalankan apa yang seakan sudah jatuh ke pundaknya -- tanggung jawab yang sama sekali tidak wajib, namun tetap ia lakoni.


"Aku ikhlas. Bukan sekadar pada materi yang kamu berikan, tapi juga dengan kasih sayang Mas Ilham kepada Mia. Aku ikhlas, kok. Tapi hanya sebatas materi dan kasih sayang, ya. Kamu paham, kan, maksudku?"


Mas Ilham tersenyum. "Iya, Sayang. Aku sangat paham. Dan aku tidak pernah punya niatan untuk hal itu. Jangan khawatir."


"Ya, terima kasih atas pengertiannya."


Aku istri yang baik, bukan? Lapang dadaku besar untuk hal ini, tapi tidak berarti aku akan rela kalau Mas Ilham ingin mengadopsinya suatu hari nanti. Dan semoga saja tidak, supaya tidak ada sedikit pun perselisihan paham di antara kami. Jangan pernah ada.

__ADS_1


Sepulang dari rumah Umi Windari, kami singgah ke pondok makan Mbak Indah untuk mengisi perut, santap siang sampai kenyang, maksudku... Mas Ilham menjejaliku dengan makanan yang banyak. Katakanlah sedikit memaksa, untuk rasa syukur karena kami bisa kembali makan makanan enak dan nikmat lagi setelah beberapa hari di rumah sakit, di mana kami selalu makan makanan yang rasanya nyaris hambar. Setelahnya, kami pun salat zuhur. Mbak Indah dan Mas Muslim yang sudah salat duluan meminjami kami ruangan pribadi mereka atas permintaan Mas Ilham. Aku curiga, ada sesuatu lagi. Kalau tidak, kenapa ia tidak mengajakku langsung pulang saja? Aku sudah sangat merindukan rumah kami.


Dan ternyata benar.


Di dalam ruang istirahat itu, aku bertanya kepada Mas Ilham, "Ada apa? Ada yang mesti dibahas lagi?" tanyaku. Aku menunduk, memandangi wajah Mas Ilham yang bersimpuh di depanku. Aku duduk di ujung tempat tidur Mbak Indah seraya membelai mesra rambut Mas Ilham. "Atau kamu cuma mau balas bersimpuh di depanku seperti yang kulakukan tadi, hmm?"


"Em, aku cuma mau memastikan kepercayaanmu kepadaku, benarkah sudah utuh? Kamu akan mempercayaiku sepenuhnya?" tanyanya.


Aku mengangguk, meski di hati kembali terselip kerisauan.


Aku tersenyum. "Aku akan tetap percaya kepada suamiku. Aku tidak akan percaya kepada gosip itu," kataku. "Sungguh."


"Yakin?"


"Mmm-hmm... aku yakin."


"Bagaimana kalau ada gosip bahwa aku berselingkuh dengan temanmu? Hmm?"

__ADS_1


Aku kembali tersenyum. "Dengan siapa?" tanyaku. "Yunita? Ya aku tidak akan percaya, Mas. Aku akan percaya kepadamu."


"Kalau dengan Puspita?"


"Aku tetap tidak akan percaya."


"Dan itu gosip yang sedang beredar sekarang, Zahra."


Hah?


Aku terdiam. Sekarang seperti ada bongkahan besar yang tersangkut di tenggorokanku. Aku tidak ingin percaya dan ingin menganggap bahwa Mas Ilham hanya ingin mengetesku saja. Tapi dia nampak serius....


"Ya, Zahra. Gosip itu sedang berembus walau belum menyebar luas. Aku dituduh berselingkuh dengan temanmu, dan aku dituduh menghamilinya."


Kuteguk salivaku sendiri -- dengan susah payah. Aku bingung. "Gosip? Bagaimana bisa ada gosip seperti itu, Mas? Kenapa? Kok...?"


"Kenapa, Zahra? Kamu meragukan aku lagi? Hmm? Jujur padaku, katakan yang sebenarnya, Zahra."

__ADS_1


__ADS_2