Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Suami Luar Biasa


__ADS_3

Karena perasaan bahagia itu, Mas Ilham tidak ingin melanjutkan tidurnya. Dia langsung menyiapkan air hangat untuk kami mandi, lalu menunggu waktu subuh dan salat, dengan memanjatkan syukur yang... cukup lama. Kemudian, sebelum kami beranjak dari tempat salat, ia tak lupa memelukku, lalu menangkup wajahku dan mendaratkan satu ciuman hangat di keningku.


"Abi janji, Abi akan selalu berusaha membahagiakan Umi dan anak-anak kita."


Oooh... Mas Ilham. So sweet sekali. Kalau kata anak muda zaman sekarang, uwuw-nya kebangetan. Tapi tetap saja, aku terkikik-kikik mendengar kalimatnya yang mulai lagi dengan panggilan abi dan umi. Dan itu salah satu caranya membuatku tertawa. Aku bahagia.


"Kamu mau makan apa? Biar aku buatkan. Hmm?"


Aku menggeleng, rasanya aku ingin tertawa lagi. "Aku hamil, Mas. Bukannya sedang sakit," ujarku.


"Oke, oke...."


"Em, biar aku yang masak. Kamu mau makan apa?"

__ADS_1


"Aku...." Dia nampak berpikir sejenak, lalu berkata, "Apa saja. Yang bisa dimakan bareng kamu, dan sehat untuk si dede bayi."


Well, sup ayam saja kalau begitu, lengkap dengan kentang dan wortel. Dan, selain menemaniku, Mas Ilham turut membantuku memasak. Dia ambil bagian dalam sesi potong-memotong kentang dan wortel dengan ukuran agak besar dari potongan yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan. Meski ingin tertawa, tapi aku memaklumi. Dengan kebersediaannya menemaniku saja, aku merasa beruntung. Apalagi dia bersedia membantuku. Plus, menyuapiku makan dengan sayang pada saat kami sarapan.


"Sayang."


"Emm? Apa?"


"Aku mau kamu mengingat dan membuktikan kata-kataku ini. Dengar, ya. Aku janji, aku akan terus memanjakanmu, tidak hanya pada kehamilanmu yang ini, pada kehamilanmu yang berikut-berikutnya pun aku juga akan tetap seperti ini. Aku janji. Kamu bisa pegang omonganku, dan membuktikan janjiku."


Aku mengangguk-angguk. "Termasuk nanti pada kehamilanku yang keempat? Hmm? Kamu kan maunya punya empat anak."


"Em," sahutnya, dia mengangguk. "Meski pada kehamilan yang keempat, aku akan tetap menjadi suami siaga untukmu, dan menjadi super abi untuk anak-anak kita. Aku janji."

__ADS_1


Uuuh... manis sekali suamiku. Dia membuat masa kehamilan ini menjadi masa-masa yang sangat membahagiakan bagiku. Seperti yang ia katakan, dia akan selalu siaga. Dia yang mengajakku untuk langsung cek kandungan pada siang itu. Untuk memastikan bahwa aku memang sedang hamil, kehamilan yang normal dan sehat. Melihat semangat Mas Ilham, aku pun lekas berdandan untuk pergi ke rumah sakit.


"Kamu yakin mau mengajakku cek kandungan?"


"Iya. Memangnya kenapa? Kok kamu nanya begitu?"


"Tidak apa-apa, sih...," kataku sambil cengengesan. "Tadinya... kupikir... emm... maksudku... biaya rumah sakit di sini kan mahal."


Praktis, Mas Ilham mendelik, disusul tawaku yang langsung pecah. Aku terkekeh-kekeh karena berhasil menggodanya.


"Soal kesehatan istri dan anakku, aku tidak akan perhitungan, tahu...!"


Iiiiih... gemes...! Dia menghampiriku sehingga agenda ke rumah sakit itu tertunda sebentar karena Mas Ilham mengajakku bertindih-tindihan di atas sofa. Kusut deh pakaianku. Tapi aku bahagia. Yang penting, kami tetap jadi mengecek kandunganku ke rumah sakit. Puji syukur, aku memang positif hamil. Dengan riwayatku yang pernah mengalami keguguran pasca kecelakaan, dokter meresepkan obat penguat kandungan untukku, dan sejumlah vitamin lainnya. Tak lupa pula sejumlah wejangan-wejangan baik ala dokter untuk kami berdua.

__ADS_1


Yap, aku tahu, tanpa perlu dipesankan oleh pihak-pihak lain pun, Mas Ilham sudah pasti akan membahagiakan aku dan calon anaknya ini. Jangankan menurutiku soal sesi ngidamku, dia bahkan dengan senang hati mengajakku jalan-jalan hampir setiap hari.


Dia suami terbaik. Dan aku sangat beruntung memilikinya. Dia luar biasa.


__ADS_2