
Huffft....
Aku tahu bagaimana kegelisahan yang dirasakan oleh Puspita. Yang kurasakan pun sama sesaknya. Dan ternyata, derai air mataku sudah membasahi pipi. Namun demi janjiku kepada Mas Ilham, aku harus mampu mengatasi emosiku. Aku harus mampu mengendalikan diriku sendiri. Air mata ini harus segera berhenti.
"Kasus ini masih diselidiki, ya, Mas?" tanyaku.
Mas Ilham mengangguk. "Masih," jawabnya.
"Dihentikan saja, Mas," pintaku. "Aku takut yang dihukum nanti bukanlah orang yang bersalah. Bukan pelaku yang sebenarnya, tapi hanya orang yang tertuduh. Sama, kan, seperti yang dialami oleh Bulik Sulastri? Polisi tidak boleh salah tangkap, pengadilan juga tidak boleh menghukum orang yang tidak bersalah. Apalagi kalau Puspita yang kena. Dia sedang hamil. Kalau dia tidak bersalah dan mesti menanggung hukuman, kitanya yang zalim, kan? Kita juga ikut berdosa. Bukan dosanya yang kutakutkan, karena aku percaya bahwa Allah itu maha pemaaf. Dia bisa mengampuni kesalahan hamba-Nya. Tapi sesama manusia, apa Puspita akan rela dan memaafkan kita? Bukan hanya pelaku yang sebenarnya yang akan ia benci dan ia salahkan, tapi kita juga. Dia pasti akan membenci kita juga, ya kan? Apalagi anak itu, yang masih di dalam kandungan. Kalau dia kenapa-kenapa, bagaimana? Kalau Puspita stres, bayi di dalam kandungannya juga akan ikut stres. Dia sudah pernah kehilangan seorang anak. Kalau hal itu terjadi lagi, belum tentu dia akan kuat. Mungkin dia akan kehilangan kewarasannya. Karena kehilangan anak itu sangat menyakitkan. Aku tahu rasanya. Aku tahu. Karena aku... anakku juga...."
Cengeng. Aku kembali menangis. Kembali teringat pada anakku yang gugur.
"Kamu tadi sudah janji tidak akan baper. Sudah, ya. Jangan menangis lagi. Besok aku akan meminta Mas Muslim untuk mencabut laporan kasus ini."
Aku mengangguk. "Terima kasih, Mas," ucapku.
"Tidak perlu berterimakasih. Aku tahu hatimu sangatlah mulia. Dan naluri keibuanmu sudah sangat terpanggil. Aku bangga padamu, Zahra."
Yah, jangan menangis, Zahra. Jangan. Hentikan air matamu.
__ADS_1
Kuseka. Kuseka air mataku hingga kering dan aku berusaha menyunggingkan senyum.
"Omong-omong...," kata Mas Ilham dengan agak keras, "jangan berpikir macam-macam, ya. Aku menuruti kemauanmu untuk mencabut laporan kasus ini bukan karena apa-apa atau ada apa-apanya. Sama sekali tidak ada. Kendalikan hati dan otakmu kalau ada pemikiran seperti itu yang menyelinap ke sana. Oke, Sayangku?"
Hehe. Aku tersenyum lepas. "Iya, Mas," kataku. "Tidak, kok. Demi Allah, aku percaya seutuhnya padamu. Sama sekali tidak ada keraguan lagi."
"Mmm-hmm... kalau begitu mari kita b o bo, b o bo, bobo. Nggak pake tumpuk."
Haha!
Lucu. Suamiku yang menggemaskan.
Ya Tuhan... cengiran edan itu. Cengirannya yang kurindukan, yang sangat aku kangeni. Sebesar rasa kangenku pada tubuhnya, dan pada masa bercinta, juga pada kemesraan di antara kami.
Sambil menahan senyum lebar yang mengembang di wajahku, aku pun membelai gemas bulu-bulu di dadanya. "Ayo, kita bobo," ajakku.
"Oh, akhirnya. Setelah sekian lama terpisah ranjang, sekarang aku bisa tidur di samping istriku lagi."
Emmmuach! Emmmuach! Emmmuach!
__ADS_1
Kecupan demi kecupan menempel di pipi dan di tengkuk leherku, lalu... di bibirku.
"Sudah, Mas... nanti kamu nggak nahan...," rengekku.
Mas Ilham malah cekikikan. "Aku kangen, tahu. Kangen pada istriku yang seksi. Istriku yang cantik. Dan kangen pada... cumbuannya yang mesra."
Ya ampun, cengiran edannya semakin jadi. Dia pun semakin jahil. Tangannya nakal, menyelinap di sana sini. Ke balik baju tidurku. "Ukh, Mas...."
"Kamu tahu apa yang lebih kurindukan? Hmm?" dia berbisik. "Aku rindu pada keahlianmu dalam menyenangkan suami."
Eit dah! Capcay!
Ingat apa yang dia katakan tadi siang, tidak?
Jangan memintaku mencumbu-cumbu dulu, ya. Apalagi malam-malam begini.
Hmm, dasar lelaki.
Tidur ah, sebelum dia semakin jadi. Dasar suamiku yang edan. Kelakuannya kembali meresahkan dan membuat hatiku jadi berdebar liar.
__ADS_1