
》 Sudah satu bulan, Bila. Aku masih di sini menunggumu.
Auto delete!
"Cieee... yang diingatkan mantan satu bulan pernikahan...," ledek Mas Ilham yang lebih dulu membaca whatsapp itu.
Fix! Aku merengut. "Apa, sih...?" sungutku dengan mode manja. "Daripada meledek begitu, mending kamu memberiku kejutan. Ada faedahnya. Daripada ngeledek."
"Oooh... oke. Mau kejutan?" Dengan cengiran edannya, Mas Ilham langsung menarikku ke ranjang.
Hah! Tidak romantis. Dia langsung menindihku dan terus saja cengar-cengir.
"Mau apa?" tanyaku.
Hari ini minggu, masih pagi, dan kukira Mas Ilham akan berangkat ke pesantren untuk mengajar.
"Kok masih nanya? Mau apa lagi memangnya kalau sudah begini? Hmm?"
"Kan kamu mesti mengajar. Sudah jam tujuh. Sudah mandi juga. Nanti kamu telat, lo."
"Jangan khawatir, Sayang...," ujarnya. "Hari ini aku akan meliburkan diri khusus untukmu. Jadi...."
Ritsletingku terbuka, dress-ku terlepas, berikut semua kain yang menempel di tubuhku beterbangan lalu mendarat ke lantai.
Hmm... pantas saja sedari tadi Mas Ilham tak mengenakan apa pun selain celana panjang butut yang tinggal ditarik turun langsung membuatnya polos tak terbungkus walau hanya dengan sehelai benang.
"Mau merayakan satu bulan pernikahan? Hmm? Tidak perlu dengan acara mewah. Aku lebih suka dengan cara seperti ini," katanya. Lalu ia menciumku dengan lembut.
Hanya awalnya... setelah satu kali ciuman lembut itu... dia nyengir lebar lalu ia segera menyerangku dengan ciuman kasar.
"Aku ingin menyiksamu dengan kenikmatan, Zahra."
Ckckck! Ngeri....
Ya ampun... suamiku edan. Dia menggila. Setelah ciumannya yang super nakal pada bibir dan lidahku, kenakalannya berlanjut ke leherku.
__ADS_1
"Ya Tuhan...! Mas...!" aku menjerit. Kebuasan Mas Ilham pada leherku seolah menyedot darahku, seperti vampir yang haus akan darah segar dari sosok seorang wanita.
Lalu, dia tak melupakan bagian dadaku. Dengan jemarinya yang nakal, beserta mulutnya yang manis itu, dia membuatku kewalahan dalam *rangan tak tertahan. Napasku tersengal. Belum lagi...
Oooh... otot-otot pahaku mengencang saat ia menggilaiku di bawah sana. Membuat kedua tumitku menekan kuat ke permukaan ranjang.
"Babak yang sebenarnya baru akan dimulai, Zahra," bisik Mas Ilham yang kini sudah sejajar di atasku. Dengan lihai, Mas Ilham mengangkat kaki kiriku yang ia taruh di atas paha kirinya, sementara kaki kananku ada di antara kedua kakinya. Dengan perlahan, ia menyelinap masuk.
Aku jadi cekikikan. Belajar dari mana, sih, dia? Dari youtube?
Memang nikmat, sih...! Eh?
Ssst... praktik saja sendiri.
Duuuh... Tuhan... nano-nano...! Posisi bercinta seperti ini membuat Mas Ilham bisa menguasai seluruh bagian tubuhku dengan leluasa. Bagian depan dan belakang tubuhku bisa ia nikmati semua, semudah membolak-balik daging di atas panggangan.
Dan, di saat-saat terakhir, barulah ia menaruh kembali kaki kiriku di atas paha kanannya. Ia menjatuhkan diri di atasku dengan napasnya yang terengah.
"Selamat satu bulan pernikahan, Sayang," bisiknya. Dia tersenyum puas sambil menekanku kuat-kuat. "Kekuatanku masih sama, bukan?"
Uuuh... pertanyaan apa, sih, itu...? Dia membuatku tersipu malu.
Pecah. Aku tidak bisa menahan tawaku atas pujian konyolku itu.
"Harus. Kan aku punya istri yang fantasinya luar biasa tinggi," sahutnya. Mas Ilham meraih celananya di sisi ranjang. "Jadi aku mesti pintar menyenangkannya. Seperti ini." Dari saku celananya, Mas Ilham mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Cincin berlian.
Ya Tuhan... sumpah demi apa -- aku terperangah. Norak memang. Aku tidak pernah melihat berlian, apalagi memilikinya. Tapi... sekarang aku malah bisa menyentuhnya. Benda itu disematkan Mas Ilham di jari manisku.
"Jaga baik-baik," pintanya. "Ini untuk investasi masa depan kita."
Ini mimpi, bukan, sih?
"Mas, ini kan mahal...."
Tapi Mas Ilham tertunduk. "Ini hasil perkebunan bunga, Zahra," katanya. "Aku... aku tidak bisa memakainya untuk hal lain. Tapi, ini, aku tahu kalau ini juga tidak boleh disia-siakan." Lalu ia berdeham. "Aku ingin menceritakan semuanya padamu. Kalau kamu mau kubagi beban yang kurasakan."
__ADS_1
Aku mengangguk. "Tentu saja, Mas. Aku bisa menjadi pendengar yang baik. Kamu bisa berbagi apa pun, dan bisa menceritakan apa pun padaku," kataku -- berusaha meyakinkannya.
"Sejujurnya," kata Mas Ilham kemudian, "seperti yang sudah kujelaskan waktu itu, sejak kepergian almarhumah Mia, aku merasa bersalah untuk menerima hasil jerih payahnya dalam menyukseskan perkebunan ini. Tapi, aku juga tidak bisa bersikap tidak bijak atas apa yang Allah titipkan kepadaku. Jadinya, setelah aku berdiskusi dengan Abi dan Umi, mereka menyarankan supaya aku tetap mengambil tujuh puluh lima persen keuntungan bersih perkebunan ini, karena itu memang hakku, dan bentuk rasa syukur atas rizki yang Allah titipkan kepadaku. Tapi tetap, aku tidak bisa menggunakannnya untuk sesuatu yang bisa mengalir di dalam darahku. Jadi... kugunakan uang itu untuk membangun rumah ini, dan sekarang... berlian ini. Aku ingin kamu menyimpannya."
Aku mengangguk paham. Namun jujur, di dalam kepalaku terpikir tentang dua puluh lima persen keuntungan perkebunan itu. Apakah...? Kau mengerti, kan, maksudku?
Tanya, tidak, tanya, tidak, tanya, tidak. Kalau tidak kutanya, aku penasaran. Aku pun berdeham. Kuputuskan untuk bertanya, "Boleh aku tahu, dua puluh lima persennya ke mana? Tapi kamu jangan salah paham. Aku hanya ingin tahu, apa...?"
"Hanya sepuluh persen, Zahra. Sepuluh persen untuk anak almarhumah Mia," tutur Mas Ilham yang mengerti maksud pertanyaanku. "Kata Umi, kalau lebih dari itu, dia khawatir kalau kelak istriku akan keberatan. Sebab itu... eh, kamu tidak keberatan, bukan? Aku juga sudah memberitahukan soal ini sebelumnya, ya kan?"
Aku mengangguk lagi. Walaupun waktu itu Mas Ilham tidak menyebutkan jumlah persennya, tapi aku tidak terkejut. Jalan pikiran Umi memang bijak, pikirku. Barangkali saja, kan, kalau lebih dari itu bisa jadi pikiran Umi benar, mungkin saja -- istrinya Mas Ilham, yang saat ini takdirnya adalah aku, mungkin saja aku akan keberatan. Siapa yang tahu? Bisa saja itu terjadi. Hanya Tuhan yang tahu aku akan keberatan atau tidak soal besarnya bagian yang Mas Ilham berikan kepada anak almarhumah kekasihnya yang dulu -- kalau bagian persennya itu cukup besar.
Tapi nyatanya hanya sepuluh persen, betapa egoisnya aku kalau aku keberatan. Memangnya siapa aku -- selain statusku sebagai istrinya Mas Ilham? Toh, aku tidak punya andil apa pun atas kesuksesan perkebunan itu.
"Aku tidak keberatan, kok, Mas. Tapi, apa aku boleh tahu lagi soal... lima belas persennya?"
Mas Ilham menjawil pipiku. "Cieeeee... yang kepo."
Ya salam... pria ini....
"Sisanya kusumbangkan," katanya. "Untuk kaum fakir dan anak-anak yatim, panti jompo dan panti asuhan, dan bangunan-bangunan untuk ibadah umat islam. Tidak masalah, kan? Untuk jembatan kita menuju surga. Sedangkan... untukmu dan anak-anak kita, besarnya tujuh puluh lima persen. Kalau sudah sebesar itu istriku masih tidak bisa ikhlas, aku cari istri lain saja."
Plak!
"Sembarangan ngomongnya," singitku sambil mencubit perutnya. "Jangan bercanda ih, kata-kata kan doa. Nanti kamu benaran poligami, bagaimana? Aku potong, lo, anumu."
Mas Ilham cekikikan, walaupun sempat meringis karena tepakan tanganku yang refleks pada bahunya, plus cubitanku pada perutnya, dia tetap tidak bisa menahan tawanya.
"Iya, iya... aku hanya bercanda. Sekali lagi... selamat satu bulan pernikahan, ya, Sayang. Tapi bulan depan jangan menagih hadiah, lo. Jangan diwajibkan. Karena ini bukan keharusan. Paham?"
Hehe. Aku nyengir. Biasa deh Mas Ilham menegurku di awal. "Iya, Mas. Terima kasih. Aku akan menjaga cincin ini baik-baik." Aku tersenyum bahagia dan memeluknya. "Terima kasih juga untuk satu bulan yang indah."
"Hu'um. Kamu benar. Satu bulan yang indah." Lalu ia berbisik, "Setiap hari tanpa absen."
Euwwwww...! Dasaaaaar...!
__ADS_1
"Terima kasih untuk pelayanan istriku yang rutin dan memuaskan. Zahra-ku yang terbaik." Mas Ilham cekikikan dan kembali menyambarku -- menindihku lagi. "Lagi, yuk? Gaspol terus sampai jadi."
Praktis keningku mengerut. "Jadi? Jadi anak maksudnya? Eh, apa mungkin sudah jadi, ya, Mas? Kok sebulan ini aku nggak menstruasi? Iya, kan?"