Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Keji!


__ADS_3

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang datang menerpanya.


Kurasa istilah itu juga cocok dipakai untuk menggambarkan hubunganku dan Mas Ilham yang selalu diterpa ujian. Semakin kuat cinta kami, semakin gencar pula fitnah yang datang menguji cinta di antara kami.


Yap. Lagi-lagi fitnah. Belum genap satu minggu puasa Ramadhan di tahun itu, pun gosip yang beredar tentang kehamilanku belum sepenuhnya meredup, aku sudah kembali difitnah oleh seseorang dengan cara yang lebih keji lagi.


Hari itu hari jumat, ayah mertuaku, Abi Rahman, beliau sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri suatu acara, di mana beliau diminta untuk menjadi penceramahnya. Acaranya itu cukup besar, dengan berbagai rangkaian kegiatan yang digelar selama satu minggu. Jadi, ketiadaan Abi di rumahnya membuat Umi kepingin menginap di rumah kami. Well, akhirnya, setelah asar pada jumat sore itu, Mas Ilham pun pergi untuk menjemput Umi. Sebab, hari itu Ikram pun tidak ada di rumah. Adik iparku itu sedang menemani Abi Rahman keluar kota, karena memang itulah dunianya Ikram. Dia si bungsu, seorang anak yang mengikuti jejak-jejak dakwah sang ayah.


Kurang dari satu jam kemudian, suara bel pun berbunyi. Mas Ilham dan Umi datang di saat aku tengah sibuk dengan menu berbuka yang masih berada di atas kompor. Demi tidak kelupaan pada masakanku, aku pun mematikan kompor lebih dulu dan lekas bergegas ke ruang depan untuk membuka pintu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Nduk. Kamu sehat?" tanya Umi padaku yang membukakan pintu.


"Wa'alaikumussalam, Umi. Alhamdulillah, Bila sehat." Aku pun menghampiri beliau lebih dekat lalu mencium tangannya. "Umi sendiri bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah," sahutnya. "Seperti yang kamu lihat. Umi juga sehat. Apalagi mau bertambah cucu, harus selalu sehat, dong...! Nenek tangguh."


"Alhamdulillah. Sini Bila bantu bawa tasnya," kataku yang sudah menjulurkan tangan untuk meraih tas besar yang baru saja dikeluarkan Mas Ilham dari mobil, sementara ia sendiri kembali melanjutkan tugas lainnya: membongkar muatan di belakang mobil, lalu mengeluarkan keranjang sayur dari dalam sana.


Ah, Umi terlalu baik. Cuma satu tas berisi pakaian pun beliau sudah sebegitunya terhadapku.

__ADS_1


Aku dan Mas Ilham hanya melempar pandang sambil tersenyum kepada satu sama lain. "Iya, Sayang. Biar aku saja," kata Mas Ilham. "Sana, gih. Masuk."


"Baiklah." Aku mengangguk, lalu berbalik mengekori ibu mertuaku yang sudah berjalan lebih dulu. Dan, setibanya di dalam, Umi pun langsung menaruh tas tangannya di atas kursi ruang tamu. Tetapi...


Jantungku terasa berhenti berdetak tatkala melihat celana *alam lelaki dan sebungkus *ondom bekas pakai terkapar di atas kursi ruang tamu, bahkan lengkap dengan cairan putih di dalamnya.


"Leh, kalian puasa, kan?" tanya Umi menyelidik kepada anak lelakinya yang baru saja masuk dan ikut mematung di belakangku.


Demi Tuhan, aku ketar-ketir. Mungkin wajahku pun jadi pucat pasi. Aku menggeleng-geleng dengan mulut terbungkam, memohon di dalam hati kepada Mas Ilham supaya ia tidak berpikiran yang aneh-aneh tentangku sepeninggalnya tadi, dan tetap percaya kepadaku sepenuhnya. Jelas, saat ini aku sangat ketakutan.

__ADS_1


Tolonglah aku, Tuhan. Tolong aku....


__ADS_2