
"Bila... kenapa jadi begini, sih?"
"Maaf, Mas.Tapi aku... maaf."
"Tolong, Bil, pikirkan lagi."
Aku menggeleng. Hanya mampu menundukkan pandangan.
"Kita kawin lari, ya?"
Apa?
Kepalaku langsung tegak mendengar kalimat itu terlontar dari mulutnya.
Hinaan. Dia mencoba melucuti harga diriku dengan kata-kata itu. Merendahkanku sebagai kaum perempuan.
"Kamu mau, kan? Tidak ada jalan lain. Mungkin dengan begitu cinta kita akan direstui. Kelak orang tua kita...."
Aku menggeleng-geleng, aku tidak terima dia merendahkan martabatku sebagai seorang perempuan dengan mengajakku kawin lari. Dia bahkan tak pernah mendatangi orang tuaku. Bisa-bisanya dia mundur tanpa benar-benar menghadap ke orang tuaku lebih dulu. Aku berdiri. "Maaf, Mas. Tapi aku tidak suka dengan tindakan pengecut seperti itu. Kamu tidak menghargai martabatku sebagai seorang perempuan."
"Bil, bukan begitu." Ia turut berdiri. "Cuma mau bagaimana lagi? Kita sama-sama tahu kalau...."
Motorku sudah hampir selesai, aku menghampirinya. "Maaf, Mas. Tapi aku tidak bersedia. Permisi."
"Hei, hei, jangan begitu, Bila...."
"Mas... cukup...."
"Tolong, Bil. Ya? Kita bicarakan ini--"
"Lupakan aku, Mas. Oke? Aku permisi."
Tapi, di luar dugaanku, Mas Imam tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya. Aku yang tersentak kaget langsung berusaha menghindar. Dan, dalam kelebat bersamaan, aku mendorongnya sekuat tenaga. Tetapi...
Tum!
"Bilaaaaaaa...."
Ketidakmampuanku menjaga keseimbangan tubuh membuat diriku sendiri yang terpental dan terlempar ke bahu jalan. Dalam kelebat yang bersamaan, seorang pengendara motor yang melaju cepat menghantamku dari arah belakang.
Sakit. Kepalaku terbentur keras. Dunia seakan berputar-putar hebat. Darah keluar dari kepalaku dan merembes ke jilbab hijau muda yang kukenakan, dan, lengan kananku perih, dipenuhi luka lecet dari semen jalanan yang merobek lengan seragam dinasku.
__ADS_1
"Zahra."
"Mas Ilham?"
"Tenanglah, tenanglah," katanya, lalu ia menyerukan ke sekeliling untuk memanggilkan ambulans.
Hitungan detik kemudian, orang-orang berkerubung di sekitar kami. Ustadz Ilham memeriksa tangan dan kepalaku, dan aku melihat banyak darah di telapak tangannya. Dengan lembut, ia memalingkan wajahku ke kanan dan kiri untuk mengecek adanya luka lain. Meski berusaha begitu tenang, tapi kekhawatiran tidak terhapus dari wajahnya. Aku bahkan bisa melihat ada ketakutan mendalam yang ia rasakan.
"Bertahanlah, Zahra. Bertahanlah. Bantuan akan segera datang. Aku percaya kamu gadis yang kuat. Aku ada di sini, Zahra."
Dalam kasak-kusuknya kekacauan, suara Mas Imam juga terdengar, mungkin sedari tadi ia pun ada di dekatku, namun aku tak memperhatikan. Aku tahu, ia pun khawatir terhadapku. Mungkin juga merasa bersalah. Dan aku tahu, juga sepenuhnya menyadari bahwa ia tidak bermaksud menyakitiku. Ini terjadi lantaran aku menghindari pelukannya.
Di kejauhan aku bisa mendengar sirene. Bunyinya aneh. Keras dan menggelegar di satu sisi, tenang dan nyaris teredam di sisi lain. Kata-kata Ustadz Ilham mulai timbul-tenggelam dengan suara orang-orang di latar belakang.
Kepalaku pening. Dadaku sesak, dan rasanya... aku mulai kehilangan kesadaranku.
Umi... Abi....
Mataku terpejam -- dengan wajah kedua orang tuaku yang terakhir terbayang di ingatan.
Entah berapa lama, kali berikutnya, saat kesadaran menarikku kembali ke alam nyata, rasa sakit di kepalaku kembali terasa.
"Zahra."
"Zahra, kamu bisa mendengarku?"
Aku membuka mata perlahan. Wajahnya terlihat. Dia menghampiri lebih dekat dan berdiri di sebelahku, menatapku dengan senyuman hangat dan penuh kegembiraan.
"Kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Mau kupanggilkan dokter?"
Kata-kata itu memicu kesadaranku di mana aku berada saat ini. Dan, selang infus, alat bantu pernapasan, kemudian mesin-mesin yang berbunyi di sampingku, juga keadaanku yang terbaring lemah di ranjang pasien menegaskan bahwa aku tengah dirawat di rumah sakit.
Aku menggeleng. "Haus," kataku. Tenggorokanku sangat sakit, perih, dan aku juga merasa tak nyaman karena oksigen yang masuk ke alat pernapasanku.
"Maaf, ya," dia berkata sewaktu menurunkan penutup mulut dan hidungku yang mengalirkan oksigen, lalu mengucapkan maaf sekali lagi sebelum menyentuh kepalaku, membantuku menegakkan kepala saat ia memberiku minum.
Lega. Tenggorokanku seperti bara api yang tersiram air. Seraya merebahkan kepala ke bantal, aku berusaha mengingat apa yang terjadi sementara Ustadz Ilham kembali duduk di samping ranjangku dan membetulkan kembali posisi alat bantu pernapasan di wajahku. Dan kusadari, kepalaku yang dipasang perban ternyata tak ditutupi hijab.
"Jilbabku?"
"Kepalamu terluka. Diperban."
__ADS_1
"Tapi...."
"Tidak apa-apa. Aku...."
"Aku percaya padamu."
"Em, aku calon suamimu, kan?"
Ya ampun, aku terpaksa menahan tawaku. Bercandanya tidak melihat kondisi dan tidak tepat waktu. Tapi, yeah, kalimat itu juga bukan kalimat bercanda. "Inshaallah," kataku.
"Aamiin... lumayanlah, bisa menyelinap sedikit-sedikit ke hatimu."
Aku tersenyum, meskipun terkesan bercanda, tapi aku mengagumi kegigihannya. "Kurasa... kamu sudah menempati tempat itu seutuhnya."
"Em?" Ustadz Ilham tertegun sendiri. "Maksudnya, Zahra? Sori, maksudku... apa aku tidak salah dengar? Kamu serius, kan?"
Kuanggukkan kepala perlahan, dan menahan senyumku lagi. "Segera temui Abi dan Umi, ya. Halalkan aku."
Bahagia. Sirat penuh cinta dan senyum penuh syukur terpancar di wajahnya. "Pasti. Terima kasih, Zahra," suaranya pelan, dan serak, dan ia berbisik kepadaku, "Aku akan segera mengkhitbahmu."
Aku mengangguk.
"Nanti aku bilang pada Abi, ya. Beliau masih ada urusan, tadi sempat ke sini. Dan Umi pulang dulu, katanya mau mengambil pakaian ganti."
Lagi. Aku mengangguk. Pasti sudah takdir-Nya. Dia yang terakhir kulihat sebelum aku pingsan. Dan sekarang, di saat aku siuman, Ustadz Ilham juga yang pertama kali kulihat berada di sisiku. Menemaniku di sini.
Memang rasanya mustahil menganggap segalanya sebagai petunjuk dari yang Mahakuasa. Tetapi, aku ingin berusaha meyakini: kalau Tuhan sudah berkehendak, maka semuanya akan terjadi sesuai apa yang Ia gariskan.
Dia, pemuda yang nyaris sempurna. Bahkan sejak hari pertama aku mengenalnya, aku tak bisa melihat cela sedikit pun yang membuatku mesti menolak perjodohan ini. Rasanya... dia terlalu sempurna.
"Mas?"
"Emm? Ada apa?"
"Saranghae. Aku mencintaimu."
Ya Tuhan... dia tersenyum, dan matanya berkaca. Sebegitu harukah ia akan cinta yang manis ini?
Cinta yang istimewa. Dengan cara yang sederhana, namun memiliki segala rasa. Seperti yang sebelumnya kukatakan: lebih dari itu semua, ia memiliki rasa hormatku seutuhnya.
"Saranghae, Salsabila Azzahra," suaranya bertambah serak. "Aku mencintaimu. Dan akan segera kupinang kau dengan Bismillah. I love you. I love you so much."
__ADS_1
Dan di saat itu aku menyadari kekeliruanku selama ini, bahwa Imam hanyalah sekadar nama. Ia belum tentu mampu menjadi imam yang sesungguhnya. Dan, begitu juga sebaliknya dalam pandanganku, Ilham bukan sekadar nama. Ia Ilham yang mampu mengimami, dan imam yang mampu mengilhami. Inshaallah, aku percaya, dia -- Ilham dari Tuhan.
I love you. Terima kasih, satu cinta dalam tiga bahasa. Dan padamu, akan kulabuhkan hatiku seutuhnya.