Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Ujian Pertama


__ADS_3

"Cieee... yang sudah halal," goda Laila. Gadis kecil itu cekikikan sambil mengiris-iris timun untuk lalapan kami makan malam nanti.


Merasa senang, kusambut godaannya dengan tawa riang. Pun Umi, dia juga mesem-mesem sendiri di depan masakannya yang masih ada di atas kompor yang masih menyala.


"Omong-omong, ngapain saja tadi di kamar, Mbak?"


Eit dah! Nyaris saja piring-piring di tanganku terlepas karena pertanyaan yang ia lontarkan itu. "Apa sih, kamu?" kataku. "Jangan goda-goda Mbak begitu. Nanti kamu malah kepingin, lo."


"Cerita dong, Mbak. Aku penasaran, tahu...!"


"Ndak ngapa-ngapain, kok. Cuma salat berjamaah."


"Memang iya? Masa, sih, ndak cium-ciuman dulu, peluk-pelukan. First time, gitu?"


Ya Tuhan... pipiku merona lagi.


"Mau tahu saja kamu, ih!"


"Cieee... wajahnya merah. Pasti iya dong...? Hmm?"


"Iya... kan sudah halal. Masa ndak ciuman? Pastilah. Ciuman dan pelukan yang pertama."


Haha! Laila mesem-mesem. "Bagaimana rasanya, Mbak? Asyik, ya? Gerogi ndak?"


"Ssst...," sela Umi. "Kamu ndak boleh tahu. Kamu masih kecil."


Aku terkikik. "Tuh, kan... ndak boleh. Tapi betul, gerogi banget, Dik...."


"Nduk...," protes Umi. Matanya mendelik.


"Peace, Umi...." Aku nyengir.


"Bukde, mah... kan pasti seru ceritanya...."


"Kamu masih kecil...!"


"Iya deh, iya deh...." Dia mencebik. "Laila ndak tanya-tanya lagi."


Hah! Kasihan. Aku jadi cekikikan, dan di saat itu, Laili yang baru saja selesai mandi keluar dari kamar. Untunglah kami sudah selesai bercandanya. Sebab, gadis lugu itu kadang-kadang masih trauma dan bergidik ngeri kalau melihat atau mendengar suatu pembahasan yang menyerempet ke ranah dewasa.


Setelah selesai menyiapkan makan malam, selain nasi yang masih di ricecooker, ada sedikit waktu senggang yang kugunakan untuk menghabiskan waktu bersama Umi: untuk memeluknya erat-erat dan mencium pipinya dengan sayang. Hingga akhirnya suara azan magrib terdengar dari corong masjid pesantren, dan Umi mengajakku salat berjamaah bersamanya. Entah kenapa, suasana hatiku mendadak melow. Aku merasa banyak kehilangan waktu bersama Umi, dan sekarang -- sebentar lagi aku akan berpisah atap dengannya.


"Kenapa sedih? Kan ini sesuai keinginanmu, Nduk."


Kuhela napas dalam-dalam, meredam perasaan. "Bila tahu, Umi. Tapi kan wajar. Seumur hidup Bila tinggal bersama Umi. Sekarang malah mesti berpisah."


"Kan setiap hari kamu bisa mampir ke sini. Apalagi nanti kalau kamu dan Nak Ilham sudah punya anak, Umi bakal sering menginap di rumah kalian. Mau menjenguk cucu."


Euw... belum apa-apa, Umi juga sudah membahas soal anak. "Aamiin... semoga Bila cepat hamil, ya. Biar semakin terasa sempurna kehidupan Bila, yang pastinya untuk Umi dan keluarganya Mas Ilham juga."

__ADS_1


"Aamiin, Sayang. Umi akan selalu mendoakanmu."


Dan... obrolan diselubungi mukena itu terus berlanjut hingga azan isya berkumandang. Kami melanjutkan salat, dan setelahnya kami segera kembali ke dapur. Abi dan Mas Ilham sebentar lagi akan pulang.


Tetapi, aku yang saat itu tidak memakai jilbab langsung bergegas ke kamar. Sebab, tidak tahu kenapa, saat ini aku merasa malu dengan kebiasaanku yang satu itu. Aku sudah menaiki tangga ketika suara salam Abi dan Mas Ilham terdengar dari pintu depan, dan Umi bergegas membukakan pintu.


Maksud hati, setelah mengenakan jilbabku, aku hendak lekas turun, tetapi tahu-tahu Mas Ilham malah juga masuk ke kamar.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Mas." Kucium tangannya.


"Sudah salat?" tanyanya.


"Sudah," kataku. "Biar nanti pas kita sampai di rumah, akunya nggak perlu salat lagi."


Ah, aku kembali tersipu malu. Begitu juga dengan Mas Ilham. Senyum semringah mengembang di wajahnya karena celotehanku.


"Oh, ya. Tadi aku menemukan ini di depan pintu depan."


Mas Ilham mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku baju kokonya, dan memberikan amplop itu kepadaku.


Untuk Salsabila Azzahra, begitu tulisan yang tertera di atas permukaan putihnya.


"Apa ini?" gumamku. "Surat? Kok ditaruh di depan pintu?"


"Eh, jangan-jangan...." Aku nyengir. Dengan hati-hati aku membukanya.


Jujur, saat itu aku tak percaya kalau kata Mas Ilham dia menemukan amplop itu di depan pintu. Aku malah berpikir itu merupakan surat dari Mas Ilham sendiri. Surat cinta, kejutan kecil untukku. Sebab itu aku begitu antusias. Tetapi...


Aku tercengang. Gemetar. Mungkin juga sampai pucat. Semua yang ada di tanganku terjatuh ke lantai.


"Ya Allah," gumamku.


Aku menggeleng-geleng, ketakutan. Amplop itu berisi tiket kereta api ke Jakarta, plus selembar surat dengan tulisan tangan yang tak kukenali.


Aku menunggu di stasiun. Sesuai rencana kita, Bila. Aku sudah menyiapkan tiket pesawat untuk kita terbang ke Korea. Aku akan mengajakmu tinggal di sana seperti janjiku padamu. Aku mencintaimu. Imam.


"Ada apa?" tanya Mas Ilham melihat ekspresi ketakutanku dan kertas-kertas yang berhamburan di lantai.


Aku menggeleng, mataku berkaca. Kusadari, ini fitnah yang ditujukan kepadaku. Aku takut Mas Ilham tidak akan percaya padaku. Dengan segera kupunguti lembaran-lembaran amplop dan isinya itu dan hendak menutupinya dari Mas Ilham. "Tidak ada apa-apa, Mas," kataku. Aku gugup, juga panik.


"Zahra? Ada apa? Surat dari siapa itu?"


"Ini... aku tidak tahu."


"Boleh kulihat?"


"Tidak!" lengkingku. "Em, maksudku... tidak perlu, Mas. Kamu tidak perlu melihat ini."

__ADS_1


Dan sesungguhnya ekspresi dan kata-kataku itu justru memancing kecurigaan Mas Ilham. "Aku suamimu, aku berhak untuk melihatnya, bukan?"


Aku menggeleng. "Mas...." Air mataku menetes dengan sendirinya.


"Sayang? Sini?"


"Maaf, Mas...."


"Please?"


Kuanggukkan kepalaku dengan takut. "Tapi janji, kamu percaya padaku. Ini fitnah. Demi Allah ini fitnah, Mas."


"Biarkan aku melihatnya. Aku akan percaya padamu."


Ya Tuhan... dengan takut, kuulurkan tanganku dan membiarkan Mas Ilham melihat dan membaca surat itu.


Mas Ilham terdiam, dia menatap lekat kedua mataku yang tak henti berkaca.


"Demi Allah, itu fitnah, Mas. Aku tidak melakukan itu. Aku tidak merencanakan apa pun. Tolong, percaya padaku. Aku tidak mengkhianatimu. Ini fitnah!"


Mas Ilham mengangguk. "Usap air matamu," katanya. "Jangan menangis. Aku tidak ingin Abi dan Umi melihat air matamu."


"Tapi kamu percaya padaku, kan?"


Lagi, Mas Ilham mengangguk tanpa mengiyakan. "Kita akan membahas hal ini nanti. Sekarang kita--"


"Kamu tidak percaya padaku? Jawab, Mas!" Aku menggeleng-geleng, putus asa.


Juga Mas Ilham, ia menggeleng. "Aku percaya, oke? Hapus air matamu."


Dia yang menghapusnya sendiri.


"Peluk aku? Tunjukkan kalau kamu benar-benar percaya padaku, please?"


Yeah, Mas Ilham memelukku. Diusapnya punggungku dan ia berkata di telingaku, "Aku percaya. Dan kita tidak perlu membahas hal ini sekarang. Jangan di sini, jangan di depan Abi dan Umi. Sembunyikan air matamu, Zahra."


Aku mengangguk cepat. "Aku ke kamar mandi dulu," kataku. "Mau cuci muka. Kamu... sebaiknya kamu duluan saja ke bawah. Nanti aku menyusul ke ruang makan. Tidak enak dengan yang lain kalau kita lama turunnya. Aku butuh waktu sendiri, sebentar saja."


Mas Ilham mengangguk. Dan ia lekas keluar dari kamarku. Setelahnya, entah kenapa, rasanya justru lebih sakit. Rasa takut dan cemas semakin mengecamku.


Ya Tuhan, ini baru awal. Kepercayaan Mas Ilham terhadapku sudah mulai diuji.


Aku takut dia tidak percaya kepadaku. Bagaimana dengan kelangsungan rumah tangga kami bila tidak ada kepercayaan dari seorang suami terhadap istrinya? Bagaimana ia bisa mencintaiku kalau di hatinya terselip keraguan terhadapku?


Oh Tuhan... kenapa takdirmu seperti ini? Tolong aku. Teguhkan hati Mas Ilham terhadapku. Buat hatinya selalu percaya kepadaku.


Kehidupan baru dan ujian baru telah dimulai.


Kamu harus kuat, Zahra. Harus.

__ADS_1


__ADS_2