Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Tragedi Pilu


__ADS_3

"Hayo... ngapain?"


Mas Farid datang dan mengagetkan aku dan Mas Ilham yang sedang berdua sambil cekikikan. Masih geli dengan guyonan yang tadi.


"Memangnya kami lagi apa?" tanyaku balik.


Mas Farid mencermati, dengan kepala sedikit dimiringkan ia menyipitkan mata lalu terkekeh. "Bibir kalian berdua basah, sih...! Makanya aku jadi curiga."


"Sembarangan. Sudah, ah. Jangan bercanda seperti itu di depan anak kecil." Aku pun berpaling kepada Laila. "Pacarmu sudah kamu putusin?"


Dia mengangguk. "Sudah," katanya. "Tapi bukan berarti memutuskan komunikasi, ya. Laila boleh, kan, sesekali pinjam handphone Mbak untuk menelepon Joko? Please...?"


Aku balas mengangguk. "Tapi ndak boleh pacaran, ya?"


Kali ini Laila nyengir. "Ndak, kok. Tapi tadi Joko janji kalau dia akan menjemput Laila setelah dia sukses nanti."


"Aamiin...," ucapku, kompak dengan yang lain.


Tetapi, aku tulus, dan hanya mengaminkan. Sedangkan Mas Ilham dan Mas Farid malah mengaminkan sambil cekikikan.


"Hei, jangan terlalu berharap, ya!" tegur Mas Farid, masih cekikikan. "Omongan lelaki jangan terlalu dipercaya. Nanti nasibmu malah kayak seseorang, lo. Diempani janji terus. Mending kalau ditepati, kalau ndak? Mau digantung kayak jemuran?"


Ih, menyebalkan!


"Mas Farid menyindir aku, ya?"


"Lo? Kamu tersindir, Bil?"


"Ndak, kok."


"Ya sudah kalau begitu."


"Tapi Mas benaran menyindir aku, kan?"


"Sensi amat... jangan baperan, dong...!"


Menyebalkan, ah! Mas Ilham juga ikut cekikikan.


"Lagipula si Joko ndak begitu," sela Laila.


"Iya, iya. Tapi tetap, jangan percaya seratus persen. Omongan lelaki kebanyakan ndak bisa dipegang."


"Iya... Mas Jomblo...," ledek Laila. "Dasar cerewet...! Omongan kan memang ndak bisa dipegang. Omongan itu didengar dan diingat, ya kan?"

__ADS_1


Ck! Kami semua terpingkal. Laila sangat pintar dan cerdik. Dia punya celah untuk menyekak omongannya Mas Farid.


"Sudah sana," selaku. "Pamit dulu pada guru-guru kalian. Kami tunggu di parkiran, ya."


Laila dan Laili menurut. Mereka lekas-lekas ke ruang guru, dan katanya mereka juga akan ke kelas sebentar untuk berpamitan pada teman-teman sekelas mereka.


Kurang dari dua puluh menit kemudian, kira-kira selama itu, Laila dan Laili sudah kembali menemui kami di parkiran. Perjalanan kami selanjutnya ke rumah Pak Sobirin untuk mengambil barang-barang penting milik mereka, seperti seragam sekolah dan buku-bukunya.


Sesampainya kami di sana, pintu depan rumahnya tergembok. Tapi kami tetap bisa masuk, sebab, seperti kebiasaan mereka, anak kuncinya selalu ditaruh di bawah rak sepatu yang ada di dekat pintu. Kami bertiga masuk. Mas Farid dan Mas Ilham yang menunggu di luar.


Di dalam, barang-barang berserakan seperti kapal pecah. Memang seperti itu kata Laila setiap kali mereka pulang dari sekolah. Aku hanya mengangguk-angguk.


Dari ruang depan, kami langsung menuju kamar dan mengumpulkan barang-barang yang hendak dipacking ke tengah-tengah ruang kamar. Aku pun duduk di sana, menyusun buku-buku mereka ke dalam kardus yang memang sudah kami siapkan.


"Mbak?" panggil Laila.


"Emm? Kenapa?"


"Boleh minta uang? Laila mau bayar hutang ke Bu Lina untuk ongkos ke Rembang kemarin."


Oh, batinku. Bahkan untuk ongkos mereka mesti pinjam uang. Jahat sekali aku tidak tahu kalau mereka hidup sesusah itu.


"Berapa?"


"Anu...."


"Empat ratus ribu, Mbak."


Ya Allah, mataku berkaca. Uang segitu cuma cukup untuk ongkos mereka berdua. Mereka pasti menahan lapar selama di perjalanan kemarin. Belum tentu mereka sarapan dari rumah, mungkin juga mereka belum makan dari malamnya, atau dari hari sebelumnya. Dengan gemetar didesak oleh rasa bersalah, dan air mata yang ingin menggenang, kuajak Laila keluar dan ke mobil. Tas dan dompetku ada di sana.


"Ada hutang lain selain itu?"


Laila menggeleng, tapi ragu.


"Bilang kalau ada."


"Hutang mingguan Bue, Mbak, di warung. Mungkin... sekitar seratus lima puluhan."


"Oke. Biar Mbak lunasi sekalian." Kukeluarkan uang tujuh ratus ribu dari dompetku. "Kalau masih ada lagi, bilang, ya."


Laila mengangguk-angguk. "Ya, Mbak. Terima kasih." Dia menyambut uang dari tanganku lalu berpamitan. Dan aku meminta Mas Farid untuk menemaninya, minta dibayarkan dulu seandainya uang dariku itu masih kurang.


Setelah menaruh kembali tasku, aku segera masuk lagi ke dalam rumah itu untuk membantu Laili. Tetapi...

__ADS_1


Laili sudah tidak ada lagi di dalam kamar itu. Kupikir ia hanya ke toilet atau ke dapur. Aku menunggunya sejenak.


Prang!


"Suara apa itu? Apa yang jatuh?" Hatiku resah. "Laili?"


Buru-buru aku keluar dari kamar. Mencari-cari, namun berhati-hari melangkah. Di dapur pecahan beling berhamburan, dan nampaknya itu bekas botol minuman keras.


"Emmmmm...."


Deg!


Suara raungan tertahan terdengar dari dalam kamar mandi.


"Li? Kamu di dalam, Dik?"


Tidak ada sahutan. Aku menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras. Aku berteriak-teriak menyerukan namanya. Tetap tak ada sahutan. Malah senyap.


"Zahra? Ada apa?" seru Mas Ilham dari pintu depan.


"Aku di dapur, Mas. Tolong...!" Aku masih saja menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Kenapa?" Mas Ilham sudah ada di belakangku. Terengah-engah. Kehabisan napas.


Sama, aku pun ngos-ngosan. "Laili tidak ada. Sepertinya di dalam. Dobrak!"


Dia mengangguk dan menyuruhku menepi. Lalu dia mendobraknya.


Ya Tuhan!


"Binataaaaang...!" teriakku pada seorang lelaki yang sudah telanjang di dalam sana. Perut buncit dan belalai panjang di antara kakinya sangat menjijikkan.


Mas Ilham menghajarnya habis-habisan lalu menyentaknya hingga ia terpental keluar dari kamar mandi. Dia terlentang, lemah dan kesakitan. Tangan dan kakinya terkapar seperti tubuhnya yang sudah tergeletak tak mampu berbuat apa-apa. Aku yang saat itu naik pitam, kesetanan, langsung menginjak-injak belalai itu dan menggilasnya dengan ujung sepatuku.


"Stop, Zahra, stop! Hentikan." Mas Ilham memegangiku yang sedang kesetanan. Tanpa sadar, ia menarik lalu merangkulku yang masih memberontak. Aku masih ingin menggilas belalai itu sampai putus dan hancur.


Laila, yang saat itu sudah kembali langsung memekik histeris melihat sosok gempal nan hitam yang tergeletak tak berdaya di lantai dapur. Teriakan itu pula yang membuat Mas Farid berlari masuk.


"Laili, Dik," kata Mas Ilham seraya menahan pandangannya, menyadarkan Laila pada kondisi adiknya. Ia pingsan di dalam kamar mandi. Bajunya sobek, dan roknya sudah terlepas. Mas Farid yang sempat refleks menoleh ke arah Laili praktis juga langsung mengalihkan pandangan.


Setelah Laila menghampiri dan menutupi tubuh Laili, Mas Farid menelungkupkan tubuh gempal lelaki biadab yang tergeletak itu, dan menyambar serbet untuk mengikat tangan dan kakinya.


"Tenang," kata Mas Ilham pelan. "Istighfar, Sayang. Kendalikan dirimu, oke?"

__ADS_1


Ternyata aku tak bisa mengendalikan diri. Dalam tangis kesalku, keinginanku hanya satu: menghabisi lelaki biadab itu melalui *emaluannya yang tak beradab.


Aku benci! Benci sekali pada lelaki penindas kaum perempuan. Mereka sungguh biadab! Sampah! Parasit yang tak bermoral.


__ADS_2