
Siang menjelang petang pada hari ke dua di rumah sakit, semua hasil pemeriksaanku sudah selesai. Tidak ada cidera dalam yang fatal di bagian kepalaku, aku bahkan sudah bisa memakai jilbab instan untuk menutupi rambutku kendati perbanku masih terpasang. Badanku juga sudah tak lemas lagi, aku sudah bisa duduk, slang infus dan oksigenku pun sudah dilepas. Hanya saja, luka di lenganku masih belum sembuh, dan selain luka, lenganku juga terkilir. Sehingga dokter menempatkannya dalam gendongan tangan. Berhubung aku tak terbiasa menggunakan satu tangan apalagi hanya menggunakan tangan kiriku, jadi aku mesti menggunakan jasa orang-orang di sekitarku dalam melakukan banyak hal untukku. Sesuatu yang menyenangkan ketika menerima banyak perhatian, terlebih ada banyak orang yang membesukku, termasuk kedua orang tua Mas Ilham, adik lelakinya, dan kakak perempuannya beserta suaminya, kakak ipar Mas Ilham. Tak terkecuali Mas Imam, dia juga datang untuk memastikan bagaimana keadaanku, sekaligus untuk meminta maaf. Dia juga khawatir dan cemas bukan main katanya sewaktu aku dilarikan ke UGD, tapi Abi memintanya untuk tidak berada di sana, sebab itu ia pulang demi tak menimbulkan kekisruhan.
"Kecelakaan itu bukan salahmu," kataku. "Kesalahanmu hanya satu, kamu mencoba memelukku. Tapi sudahlah, aku tidak ingin mempermasalahkannya lagi. Sekarang lebih baik kamu pulang. Terima kasih sudah membesukku."
Dia mengangguk. "Tapi hubungan kita baik-baik saja, kan?"
Aku terkejut pertanyaan itu terlontar darinya. Aku mengangguk seraya menatap Mas Ilham yang duduk di sofa. Aku sadar ia berusaha keras tidak menatap Mas Imam. "Ya, hubungan kita baik-baik saja," kataku. "Tetapi hanya sebatas teman. Tidak lebih."
"Bila--"
"Maaf, Mas, aku mau istirahat."
"Sebentar dulu, Bil...."
"Aku akan menikah dengan Mas Ilham. Aku harap kamu bisa menerima itu."
Sorot mata kecewa jelas terpancar dari mata hitamnya. Aku tahu, aku telah menyakiti hatinya. "Bukankah kita sudah berjanji untuk sama-sama berjuang, Bila?"
"Maaf, aku tidak bisa menunaikan janjiku."
"Tapi kita masih bisa berjuang, Bil."
"Aku tidak ingin menikah tanpa restu."
"Aku tahu...."
"Aku sudah dikhitbah. Kamu paham itu? Tolong, pulanglah." Aku menoleh ke Mas Ilham. "Tolong, Mas. Aku ingin istirahat."
Mas Ilham mengerti. Namun, walau ia berusaha bicara baik-baik dengan Mas Imam untuk meminta pengertiannya, sikap asli Mas Imam yang tempramen akhirnya muncul jua hingga keributan tak bisa terelakkan.
Ya Tuhan... meski Mam Ilham menguasai ilmu beladiri dan bisa dengan mudah menaklukkan lawannya, tapi tetap saja kejadian ini memalukan, membuat banyak orang berkerubung mendekat ke ruang rawatku. Bahkan, pihak rumah sakit pun sampai menegur. Mas Imam pun akhirnya pergi dengan amarah yang tak tuntas ia lampiaskan. Dan aku menangis. Sekali lagi aku membuat kedua orang tuaku mesti menanggung malu.
__ADS_1
Maafkan aku, Umi... Abi....
"Maaf, ya?" kata Mas Ilham, ia menyodorkan bal tisu kepadaku. "Tidak seharusnya terjadi keributan seperti ini."
Aku mengambil tisu itu darinya. "Terima kasih tisunya. Dan soal keributan tadi, itu bukan salahmu. Aku yang minta maaf, Mas."
"Tidak apa-apa. Sudah, ya, nangisnya. Aku tidak bisa melihatmu sedih seperti ini."
Kamu terlalu baik, Mas. "Aku sedih karena aku... aku lagi-lagi membuat Umi dan Abi malu. Umi pasti akan tahu soal keributan tadi."
"Ya mau bagaimana lagi? Sudah terjadi. Masih untung Umi lagi ke musalla. Daripada Umi melihatnya langsung, ya kan?"
Aku mengangguk, mati-matian berusaha menghentikan air mataku dan menenangkan pikiranku. "Apa kamu tidak bisa membuatku tertawa sekarang? Ngomong apa kek, gitu."
"Mau ngomong apa?" tanyanya lembut. Justru ia yang akhirnya menahan tawa. "Mau bilang cinta, kamu sudah tahu kalau aku sangat mencintaimu. Sangat sangat cinta malah. Dan saking cintanya, aku jadi tak sabar kepingin cepat-cepat menikahimu. Biar kita cepat-cepat halal, dan kamu segera menyandang status sebagai Nyonya Ilham, ya kan, Sayang?"
Uuuuuh... benar, kaaaaan... dia paling bisa membuatku tertawa.
Ah, dibilang tak tahu malu biarlah. Toh, aku juga kepingin cepat dihalalkan. Menikah untuk ibadah.
Hah! Ibadah apa hayo? Otakmu jangan berpikiran macam-macam, ya. Hihihi!
"Inshaallah, secepatnya aku akan mengajak kedua orang tuaku untuk melamarmu."
Aku mengangguk-angguk cepat sambil tersenyum-senyum. "Oke. Aku tunggu," kataku pelan -- teramat pelan.
"Yang terpenting sembuhkan dulu tanganmu. Masa pengantin pakai gendongan tangan."
Aduuuuuh... senyumnya. Otak gesrekku mengartikan lain: masa malam pertama pengantin pakai gendongan tangan. Eh?
Oh, Zahra... luruskan otakmu.
__ADS_1
Untung saja sewaktu Umi kembali dari musalla ia tak melihat senyum aneh itu di wajah kami berdua.
"Aku mau tanya, setelah kita menikah nanti, kamu akan mengajakku tinggal di mana?"
Dia paham, lalu ia menatapku penuh arti. "Aku tahu kalau sejak dulu kamu mau pergi dari lingkungan pesantren, tapi aku juga tahu kalau Umi ingin kamu tetap tinggal bersama Umi. Jadi, walaupun aku berhak membawamu pergi setelah kita menikah nanti, aku akan tetap ikut keputusanmu. Tapi ingat, walaupun kita pergi dari sana, jangan pergi tanpa keridhaan Umi. Kamu paham maksudku, kan?"
"Em, terima kasih, kamu sangat bijak dan pengertian."
Begitu pula pada keesokan harinya, setelah tiga hari di rumah sakit, akhirnya dokter sudah mengizinkanku pulang. Matahari dhuha belum bergeser dari tempatnya ketika kami keluar dari rumah sakit. Mas Ilham yang menjemput.
Pengertian sekali dia sehingga dalam perjalanan pulang ia menyetir dengan pelan, di bawah batas kecepatan, dan ia terus menerus melirik ke arahku lewat kaca spion.
"Pasien di belakang baik-baik saja," kataku. "Jangan khawatir."
Dia menahan senyum. "Maaf, aku hanya tidak ingin tanganmu sakit karena terguncang-guncang."
"Terima kasih, tapi aku baik-baik saja, kok. Jangan terlalu khawatir."
Dia mengangguk, dan menambah kecepatan laju mobilnya.
"Jadi," kata Abi mengalihkan perhatian semua orang, "kapan Nak Ilham akan membawa Abi dan Umi Nak Ilham ke rumah untuk acara lamaran?"
"Inshaallah secepatnya," sahut Mas Ilham. "Mungkin jumat nanti. Bagaimana, Bi? Kalau Abi tidak sibuk, nanti Ilham tanya juga pada Abi dan Umi di rumah."
"Jumat...." Abi nampak mengingat-ingat jadwal kesibukannya. "Setelah asar, ya, kalau bisa. Soalnya jumat siang Abi ada acara pengajian di pesantren."
Mas Ilham mengangguk dan menyetujui. "Tapi nanti kita berkabar lagi, ya, Bi. Mudah-mudahan Abi dan Umi juga tidak ada kesibukan jumat nanti."
"Inshaallah, mudah-mudahan." Lalu Abi menoleh ke belakang. "Bagaimana, Nduk?"
Bak gadis Jawa sungguhan, padahal aslinya berdarah Sumatera, Salsabila Azzahra dengan pipinya yang merona hanya bisa mengangguk dalam senyuman.
__ADS_1