
Senyum yang berkombinasi dengan cengiran yang khas itu melambangkan kebahagiaan, juga kegilaan. Bahkan tidak hanya itu, ia juga menyiratkan hasrat yang menggebu-gebu. Mas Ilham sudah siap lahir batin untuk kebahagiaan yang telah kami tunggu-tunggu dalam penantian panjang.
"Come to me, Baby," katanya, sesaat setelah ia melepaskan kausnya, lalu celana panjangnya, sementara aku masih berdiri dengan segelas besar jus semangka di tanganku sambil meminumnya sedikit dan memerhatikan gerakan Mas Ilham yang membuatku berfantasi liar. Seksi sekali.
Uh! Sungguh menggairahkan!
"Well, I am yours, Baby."
Aku mendekat, menyorongkan gelas jus ke bibir mas Ilham, membiarkannya minum beberapa teguk, kemudian menaruh gelas itu ke lantai dalam jangkauan uluran tanganku. Dan, inilah waktunya.
Di paha seksi yang hanya terbungkus boxer ketat itu, aku duduk menyilangkan kaki, dengan kedua lutut bertekuk, kutangkup wajah tampan di depanku, wajah dengan rahang dipenuhi bulu-bulu halus dalam belaian jemariku. Aku bahagia, dan tanpa bisa kutahan, senyuman indah praktis membelah wajah.
"I love you, Zahra."
Ya Tuhan, kembang kempis dadaku. Semua rasa pahit yang berhasil kami lalui, membuat saat ini menjadi benar-benar terasa indah. Seperti momen Ilham dan Zahra yang baru saling mengenal, khitbahnya, proses menuju pernikahan, hingga masa-masa pengantin baru itu, semua terasa jelas berkelebat di dalam benakku.
Dan, saat ini, ciuman hangat di antara bibir kami, sungguh bagaikan ciuman pertama yang kembali terngiang dalam ingatanku. Ciuman pertama di dalam kamarku pada senja pertama di hari pernikahan kami dua setengah bulan yang lalu.
__ADS_1
"I love you too, Mas."
"Em, mau pemanasan dulu?"
"Hu'um. Pastinya. Yuk?"
Ya Tuhan... cengirannya semakin melebar. Dia membelai-belai rambutku, lalu menyibakkannya hingga sisi leher kiriku terekspos dan ia mengecup mesra di sana.
"Kamu cantik, dan akan selalu cantik di mataku. Karena kamu... keindahan yang tak akan pernah pudar oleh waktu."
Ah, gombal. Kata-kata manis itu terlontar sesaat sebelum ia membenamkan bibirnya dalam-dalam di tengkuk leherku. Kemudian...
"Umi?" kata kami berbarengan saat kami mendengar suara Umi dan Laila terdengar dari depan sana. Buru-buru aku beranjak dari posisiku dan menghambur ke pintu depan.
Ternyata... ponsel Umi tertinggal dan ia lupa menaruhnya di mana. Pun nada deringnya juga off.
Waduh... lengkap sudah. Pencarian pun dimulai.
__ADS_1
"Tapi tidak mungkin ada di halaman belakang, kan, Umi?" tanyaku, dan aku gugup. "Ee... kalau ada, biar Bila yang cari ke belakang. Kalian jangan ke belakang."
Umi dan Laila sontak saling melirik, lalu cekikikan. "Memangnya di belakang ada apa, sih, Mbak?" goda Laila sambil menahan bibirnya.
"Ya... ada Mas Ilham, Dik. Lagi... berenang. Kan tidak enak kalau...."
Hmm... dasar Laila. Bibirnya semakin tidak bisa menutup. "Oooh... berenang...," godanya lagi. "Berenang di kolam atau... di mana?"
"Eh, kamu." Aku mendelik namun sambil cengengesan.
Yeah, kebohongan kecil yang memang mustahil untuk berhasil kalau di depan Laila yang otaknya dipenuhi keisengan.
"Alhamdulillah ketemu...," seru Umi beberapa menit kemudian dari atas tangga. "Tadi Umi ngepel di atas. Jadinya kelupaan."
Huuuh... lega. Aku bukannya bermaksud tidak senang dengan apa yang terjadi, apalagi tidak senang dengan kehadirannya Umi, bukan. Aku juga tidak bermaksud mengusir. Tapi aku kasihan pada Mas Ilham yang ada di belakang sana. Pasti kepanasan akibat tegangan tinggi yang dia alami. Hihi, lebay....
"Sudah semua, Umi? Tidak ada lagi yang ketinggalan?" tanyaku.
__ADS_1
Umi mengangguk, dan kembali berpamitan. Aku yang mengantar mereka sampai ke pintu depan diminta langsung masuk dan mengunci pintu. Sebab, sekarang Umi jadi rada parno. Jadi, wajar kalau dia memastikan kalau aku sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu, barulah dia dan Laila akan pergi. Yap, begitu.
Selepas mendengar suara mesin motorku yang melaju pergi, aku pun lekas-lekas ke halaman belakang dan mendapati suamiku benar-benar tengah berenang, dia menyelam ke dasar kolam demi menutupi auratnya dari pandangan orang-orang yang mungkin akan ke halaman belakang. Kasihan dia.