Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Ciuman Pertama


__ADS_3

"Salsabila Azzahra binti Muhammad Siddiq, terima kasih karena kamu sudah bersedia menjadi penyempurna imanku. Mulai hari ini, aku mengambil alih semua tanggung jawab Abi atas dirimu. Dan, aku bersumpah demi Allah dan rasul-Nya, aku akan menjagamu, membahagiakanmu, dan akan selalu bersamamu. Aku akan mencintaimu dengan segenap hatiku, dan memuliakanmu dengan kesetiaan yang hanya akan kutujukan kepadamu. Terima kasih, Zahra, Istriku Sayang." Lalu ia tersenyum manis. "Boleh aku memelukmu?"


Ya Tuhan, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa mengangguk dalam senyuman. Lalu...


Mas Ilham memelukku, dan aku jadi semakin gemetar. Begini rasanya dipeluk Mas Ilham, luar biasa nyaman dan menenangkan. Ini, pelukan pertamanya sebagai suamiku. Pelukan yang begitu erat, dan begitu hangat. Sungguh, betapa manis dan romantisnya suasana ini. Dan, aku tak ragu membalas pelukannya.


Oh, akhirnya, betapa bahagianya bisa memeluk tubuh yang begitu kudambakan. Tubuh hangat suamiku.


"Zahra?"


"Emm? Apa?"


"Boleh aku menciummu?"


Uuuh... Mas Ilham... dia terus saja membuat pipiku merona. Sambil tersipu malu, aku melepaskan pelukanku dari tubuhnya, pun ia yang juga melepaskan pelukannya dariku. Aku tahu, bahwa dia tahu kalau aku akan tersipu bila ia seperti itu. Dia sengaja mendramatisir suasana, dan dia behasil.


"Tidak perlu meminta izin," kataku. "Aku kan istrimu, dan kamu berhak untuk itu."


Sambil memandangiku dengan senyumannya, ia berkata, "Ini untuk pertama kali. Sebab itu aku perlu izinmu. Khawatir kalau kamu belum siap."


"Kenapa begitu? Kenapa kamu mikirnya--"


"Jadi sudah siap? Hmm?"


"Ih, kamu...."


Mas Ilham cekikikan melihat ekspresiku yang lagi-lagi tersipu. Asli, sengaja sekali dia. Lama-lama bibir dan rahangku bisa keram gara-gara terus-terusan tersenyum di sepanjang siang sampai sore ini. Semua karena Mas Ilham, karena dirinya, dan karena cintanya yang luar biasa membuatku tergila-gila.


Karena malu, kututup wajahku dengan telapak tangan plus mukena yang masih kupakai. "Sudah dong, Mas...," rengekku. "Jangan menggodaku terus. Aku malu...."


Dengan anggukan, Mas Ilham meredam tawanya lalu memintaku untuk duduk di pangkuannya, di atas kakinya yang bersilah. Dengan patuh, dan kikuk, aku menurut padanya dan ia langsung melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhku. "Aku bahagia sekali. Semuanya terasa sempurna," kata Mas Ilham seraya mendekapku erat-erat. "Semua karenamu, Zahra."


Dan aku masih saja seperti tadi, dengan senyum yang tak bisa berhenti mengembang. "Aku juga merasa sempurna karena kamu, Mas. Terima kasih karena kamu bersedia menjadikanku sebagai istrimu. Padahal, kamu tahu bagaimana kepribadianku. Aku pasti sangat memperberat tanggung jawabmu sebagai seorang lelaki."


"O ya? Menurutku tidak, kok. Bukankah setiap orang akan rela melakukan apa pun demi cinta?"

__ADS_1


Eh?


Keningku mengerut. "Apa maksudnya itu?"


"Maksudnya... aku yakin kamu akan berubah sepenuhnya. Kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi istri yang salehah, lebih salehah daripada kamu yang sekarang ini. Karena apa? Karena kamu mencintaiku."


Ya ampun... senyumku kembali mengembang sempurna. "Inshaallah, Mas. Aku akan berusaha dengan baik. Aku akan menjadi istri yang lebih salehah untukmu, Suamiku."


Dan... cling!


Mas Ilham menatapku begitu lekat, lalu... wajahnya semakin dekat kepadaku. Perlahan tapi pasti, bibirnya menempel di keningku, penuh dan hangat. Lalu, ia kembali menatapku. "Aku sangat mencintaimu, Zahra."


Deg!


Dia menciumku....


Ya Allah, mataku terpejam, jantungku berdebar liar, dan getaran hebat kembali melandaku dari dalam. Seakan ada sejuta kupu-kupu menari-nari di dalam perutku saat bibirnya menempel di bibirku. Manis sekali. Ciuman pertamaku, ciuman yang begitu berkesan dan akan abadi dalam ingatan.


Dan, akhirnya, lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk. Mati-matian kutahan senyumku, warna merah di pipiku, dan wajahku yang tersipu. Pun Mas Ilham, dia menyembunyikan wajahnya di pundakku.


Setelah beberapa saat kemudian, saat ia kembali mengangkat wajahnya, kami malah sama-sama tertawa.


Aku mengangguk-angguk. "Aku paham kok, Mas. Namanya juga... ini pertama kali kita...."


"One more."


"Hah?"


"Mmm-hmm... sekali lagi."


Lagi, aku mengangguk dan menurut kepadanya. Lucu sekali saat bibirnya mendekat, senyuman tertahan ada di sana. Dan kali ini, bibir kami menempel lebih lama. Tangan Mas Ilham menangkup bagian belakang kepalaku. Diciumnya aku lebih dalam, lebih keras, dan lebih mendamba. Ciuman yang memorakporandakan sarafku, hingga getar-getar asmara itu kembali menyetrum-nyetrum hatiku dari dalam.


Setelahnya, Mas Ilham kembali menatapku, wajahnya tersenyum, berseri-seri. Dengan jemarinya, ia membelai lembut wajahku dengan sayang.


"I am waiting for you, Zahra. Malam ini, malam indah bersamamu."

__ADS_1


Uuuh... Mas Ilham membuatku kembali menundukkan wajah. Baru berciuman seperti ini saja sebahagia ini, segerogi ini, apalagi nanti? Tak bisa kubayangkan bagaimana saat kami berpolos-polosan di hadapan satu sama lain. Sanggupkah kami untuk saling menatap?


Ah, Mas Ilham. Dunia Zahra jadi seindah taman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Indah sekali.


"Sana, gih. Bantu Umi di dapur. Dia mau kita makan malam dulu di sini. Setelah makan malam nanti, baru kita pulang. Pulang ke rumah kita." Lalu ia berbisik, "Kamar pengantin kita menunggumu, Zahra. Kamar yang indah seperti impianmu."


Ya Tuhan... jantungku melorot ke perut dibisikkan kalimat seperti itu.


"Kamar... pengantin?" tanyaku memastikan.


"Mmm-hmm...."


"Maksudnya... dengan dekorasi?"


Mas Ilham mengangguk dengan seulas senyum tipis membelah wajahnya. "Kamar impianmu."


Hmm... pasti ini bisikan-bisikan dari Umi, pikirku. Aku senang, tapi sekaligus malu. Aku saja tidak pernah mengatakan pada Mas Ilham soal itu. Tapi Umi...? Dia sangat pengertian, dan, super perhatian kepada putri semata wayangnya ini.


"Mas Ilham... tahu dari Umi?"


Lagi, dia mengangguk. "Umi sangat mencintaimu. Hormati dia selalu, ya? Juga pada ibuku. Jadi menantu yang baik. Ya, Sayang?"


Aku mengangguk. "Ya, Mas," kataku. "Inshaallah. Aku janji, aku akan menjadi anak yang baik, menantu yang baik, dan istri yang baik."


"Plus... menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti."


Aku tersenyum. "Aamiin. Inshaallah. Pasti, Mas." Nanti malam kita proses anaknya.


Wkwkwk! Pingin ngakak aku. Oh, Mas Ilham....


"Emm... aku akan ikut Abi ke masjid. Aku duluan ke bawah, tidak apa-apa, kan?"


Tentu saja. Aku mengangguk. Kuraih tangan suamiku dan kucium punggung tangannya sebelum ia pergi. "Biar aku yang bereskan sajadahnya," kataku.


Dan, huh! Akhirnya, debaran di dalam dadaku berhenti jua saat Mas Ilham keluar dari kamarku. Ah, konyol. Sambil melipat kembali sajadah dan melepas mukenaku, aku kembali tertawa mengingat kekonyolan kami tadi. Konyol, lucu, sekaligus agak romantis.

__ADS_1


Well, aku bersyukur karena memberikan sosok menantu seperti Mas Ilham untuk kedua orang tuaku. Terlebih untuk Abi. Lelaki yang tak akan berpura-pura rajin ke masjid, dan tak akan pura-pura betah berlama-lama di sana bersama Abi. Dari sebelum magrib, sampai selesai isya nanti.


Oh, beruntungnya dirimu Salsabila Azzahra.


__ADS_2