Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Romantisme Yang Tertunda


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, cengiran edan di wajah Mas Ilham tak henti mengembang. Dia membuatku ngeri-ngeri sedap. Tentu saja, dibilang ngeri, itu sesuatu yang menyenangkan dan patut untuk dinantikan. Tapi, dibilang menyenangkan, dia membuatku ngeri kalau-kalau aku tak mampu menanggung luapan hasratnya yang menggila, yang bisa membuatku ikut meledak bersamanya.


"Alhamdulillah, sampai...," kata Mas Ilham sambil terkekeh-kekeh saat kami tiba di depan rumah.


Aku tak menggubrisnya. Kutahan diriku supaya tidak ikut edan seperti Mas Ilham.


"Nah, buka pintunya dan tunggulah aku di dalam," ujarnya seraya menyerahkan kunci rumah kepadaku.


Uh, Zahra... salahmu sendiri kenapa meminta lelaki perkasa model begini untuk menjadi jodohmu. Sekarang... tanggunglah nikmatnya sendiri. Enak, bukan?


Aduh... aku bergidik. Susah, ya, jadi aku? Aku tidak mungkin menolaknya. Jadi, aku berpikir bagaimana merangkai kata-kata supaya kami bisa bercinta dengan kadar normal -- baik dari segi kekuatan, ritme, dan durasinya, dan supaya dia tidak tersinggung tentunya.


Ah, andaikan waktu jedah istirahatku lebih lama, pasti aku siap kok mau diajak bercinta semaksimal mungkin. Aku hanya takut masih akan terasa sakit. Maklumi dong, kan aku perawan yang baru diunboxing. Sakitnya masih terasa, tahu...! Masih rapet. Aku kudu piye iki?


"Sayang... kamu di mana?" lengking Mas Ilham dari ruang dapur.


Aku ngumpet, Mas... takut....


Huh! Aku sedang bersih-bersih di kamar mandi. Kebelet pipis.


"Kenapa, Mas?" tanyaku, setelah membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar.


Mas Ilham masih cengar-cengir. "Nggak," katanya. Lalu ia pun menyelinap ke kamar mandi.


Ah, aman kupikir. Aku pun melenggangkan kaki ke tumpukan belanjaan yang ditaruh Mas Ilham di dekat kulkas. Aku langsung mengambil kantung yang berisi ayam dan ikan, dan meletakkannya di dekat wastafel. Lalu, ketika aku hendak menyusun sayur-sayuran dan buah-buahan ke dalam kulkas, pintu kamar mandi di ujung sana terbuka. Wajah tampan suamiku pun nampak cemerlang di ambang pintu. Tapi, kali ini bukan sekadar karena brewok dan cengiran edannya, tapi juga karena dada bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu terpampang nyata di depan mata.


Zahra terpana, ya, Allah....


"Masih dua jam lagi nunggu jumatan," kata Mas Ilham sembari menghampiriku.


Ih, senyumnya nakal....


"Terus, kenapa? Kan tidak ada salahnya mandi sekarang," kataku. Aku memalingkan wajah, membuka kulkas dan mengambil air putih.


Ya Tuhan... dalam keadaan seperti ini kekuatan tanganku hilang. Aku tak kuat walau sekadar untuk memutar -- membuka penutup botol air mineral di tanganku.


"Sini, biar kubukakan," kata Mas Ilham. Bukannya langsung mengambil alih botol itu dari tanganku, dia malah melingkarkan tangannya di sekeliling tubuhku dan barulah mengambil botol itu.


Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa mesti melingkarkan tangan di sekelilingku begini?" tanyaku. "Kan bisa--"


"Jangan cerewet," katanya seraya menyerahkan air mineral yang sudah terbuka tutupnya. "Minumlah ini."


Walau merasa geli dengan kelakuan konyolnya, aku menyambut botol itu dari tangan Mas Ilham. Dan, mulut botol itu baru saja hendak menyentuh bibirku ketika Mas Ilham menghalangi.


"Sebentar," katanya, ia mencabut jarum pentul yang menahan jilbab di bawah daguku. "Kamu kan tidak terbiasa memakai jilbab kalau di rumah. Pasti gerah."


Ih, modus....


"Nah," kata Mas Ilham lagi setelah melepaskan jilbabku dari kepala. "Minumlah."

__ADS_1


Hmm... modusnya nggak ketulungan.


Dia jahil sekali. Bahkan air putih itu baru dan -- sedang mengalir di tenggorokanku, dengan jahilnya Mas Ilham membenamkan gigi-giginya di tengkuk leherku. Aku bergidik. "Mas...," protesku. "Aku kan lagi minum. Kalau aku tersedak bagaimana?"


Ya Tuhan....


"Eummmmm...."


Aku tahu itu nikmat, tapi....


"Kamu membuat rasa hausku juga hilang. Seakan-akan aku juga ikut minum melalui mulutmu."


Ckckck!


Kata-katanya tidak terdengar romantis, justru membuatku geli dan terkekeh. Nggak banget, tahu!


Ah, sudahlah, pikirku. Tanpa menanggapi celotehannya yang garing, kututup kembali botol air mineralku dan menyimpannya kembali ke dalam kulkas.


"Kamu mandi, gih. Aku mau susun belanjaan ini, terus mau masak."


Jurus tuli kembali ia pertunjukkan, dan, tangannya langsung memutarku menghadapnya. Lalu, seketika itu pula ia menurunkan ritsleting dress yang kukenakan. Hmm... dasar Mas Ilham.


"Mas... kamu kan--"


Oh, pandai sekali dia membungkam mulutku. Aku terkejut, dengan mudahnya Mas Ilham menghimpitkan tubuhku ke kulkas dan membuatku tidak bisa bergerak. Lalu, seketika aku pun menyadari telapak tanganku menekan dadanya, di atas bulu-bulu halus yang menghiasi dada bidang itu.


Ah, seksi sekali dia.


Uuuh... maksudnya yang habis subuhan tadi. Sepelan tadi.


"Please? Berikan dirimu padaku?"


"Tapi aku kan mesti menyusun--"


"Bisa nanti, Zahra."


"Aku juga mesti masak, Mas."


"Bisa nanti. Please?"


"Em, oke. Asal kamu jangan protes--"


"Tidak akan."


"Baiklah. Aku milikmu."


Ah, Mas Ilham, senyum manisnya mengembang sempurna. "Terima kasih, Sayang." Maka dalam detik itu aku sudah berpindah ke dalam gendongannya.


"Mau ke mana?"

__ADS_1


"Ke sofa."


"Oke. Tapi janji jangan membuat aku kelelahan."


"Tenang saja, Nyonya. Janjiku janji seorang pria sejati."


Jiaaaaah... Mas Ilham membuatku cekikikan.


"Well, Sayangku." Dia membaringkanku di sofa dan langsung menindihku tanpa aba-aba. "Kau benar-benar membuatku kecanduan, Zahra."


Dan...


Suara bel berbunyi.


"Assalamu'alaikum...."


Suara Mbak Indah yang sudah akrab di telingaku terdengar lantang dari teras depan.


"Ah, Mbak Indah rese. Tidak tepat waktu sekali, sih, bertamunya."


Nah, lo... untuk pertama kalinya aku mendengar Mas Ilham menggerutu.


Dengan buru-buru Mas Ilham bangkit dari atasku. Wajah masamnya yang seperti ABG labil sontak membuatku tak sengaja menertawainya.


"Maaf, Anda belum beruntung," ledekku.


Aku pun beranjak, meraih jilbabku yang tersampir di sandaran kursi makan, mengenakannya kembali dan lekas-lekas ke pintu depan.


"Wa'alaikumussalam," sahutku. "Eh, ada Bu Nyai... eh, maaf-maaf, maksud Bila, Umi. Aduh, maaf, Umi. Bila...."


Bu Nyai yang sekarang sudah menjadi ibu mertuaku dan kupanggil umi, dia tersenyum semringah. "Ndak apa-apa, Nduk. Nanti lama-lama pasti terbiasa, kok."


Aku mengangguk, mencium tangannya lalu kami bercipika-cipiki alias cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Pun antara aku dan Mbak Indah. Aku sudah lumayan akrab dengan kakak iparku itu. Mereka juga datang bersama dengan Mas Muslim, suaminya Mbak Indah.


"Habis ngeborong, Mbak? Eh, maaf, ayo masuk dulu," kataku.


Aku salah tingkah....


"Iya, ini buat kalian, Dik."


Eh?


Ya ampun... aku terpelongo. Ternganga dibuatnya. Belanjaan sepikap full itu untuk kami? Tahu begitu tadi kami tidak usah belanja... hmm....


"Ilham mana?" tanya Umi.


Eit dah, aku cengar-cengir. Ingatanku kembali pada Mas Ilham yang pasti masih dalam keadaan "tegangan tinggi" di belakang sana. Gara-gara romantisme kami yang mesti tertunda.


"Mungkin Mas Ilham lagi di kamar mandi, Umi," sahutku.

__ADS_1


Duuuuuh... kasihan sekali dia mesti meredam gairah itu sendiri. Sabar, ya....


__ADS_2