
Tapi aku tetap tidak bisa bobo kendati sudah ditumpuk-tumpuk oleh Mas Ilham. Dia sendiri yang akhirnya kelelahan dan langsung terlelap. Sementara aku, dengan susah payah aku berusaha untuk tipdur, namun pikiranku tetap lancang -- melanglang buana tanpa bisa aku mencegahnya.
Akhirnya, menjelang jam sebelas malam, kuputuskan untuk menghubungi Puspita dan berpura-pura memintanya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun perihal kehamilanku, dan aku beralasan bahwa aku dan Mas Ilham hendak memberikan kejutan kepada kedua orang tua kami. Jangan sampai mereka sudah tahu lebih dulu kalau aku sedang hamil. Alasan yang oke dan membuat Puspita percaya dengan apa yang kutuliskan lewat pesan whatsapp itu untuknya.
Dengan gelisah, aku menunggu jawaban whatsapp dari wanita baik yang pernah menjadi temanku menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam petak kecil kamar kost yang kami sewa bersama. Dia yang kukenal baik dan belum pernah sekali pun mengecewakanku. Dan kuharap tidak juga untuk kali ini. Tetapi...
》 Ya Allah, Bil. Maaf, aku tidak tahu soal itu. Aku tadi sudah terlanjur cerita pada Yunita perihal kabar bahagia kehamilanmu. Maaf, ya. Nanti aku segera menghubungi Yunita. Semoga dia juga belum cerita ke siapa pun. Semoga ini tetap menjadi rahasia dan kejutan manis untuk keluarga kalian. Sekali lagi aku minta maaf, Bil. Aku minta maaf sekali.
__ADS_1
Hmm... lagi-lagi aku mesti menghela napas dalam-dalam. Yunita, pasti dia. Kurasa feeling-ku terhadap gadis itu benar. Dia tidak benar-benar baik dan tidak benar-benar tulus kepadaku dalam hubungan kami yang seolah ingin ia perbaiki dengan kedatangannya ke rumahku tempo hari.
Aku yakin -- sangat yakin kalau Puspita tidak punya niat jahat terhadapku. Dia hanya ingin berbagi kabar bahagia soal kehamilanku. Sayangnya caranya tidak tepat. Tapi mau bagaimana lagi? Kurasa dia pun sama sekali tidak tahu soal perjodohan Yunita dan Mas Ilham waktu itu. Selayaknya Mas Ilham, Puspita pun pasti menceritakan apa adanya saja. Bahkan mungkin saja dia sudah mengerti soal usia kehamilan yang dihitungnya sejak hari pertama menstruasi.
Tetapi, Yunita, pasti dia yang bercerita pada Mas Imam. Dan jangan-jangan...
Ya Tuhan... dapat kuperkirakan, bahwa masalah ini bukan lagi tentang ujian kepercayaan antara aku dan Mas Ilham. Tetapi, ini tentu akan mencoreng nama baik keluarga kami. Mungkin aku tak sepenuhnya memikirkan Abi, tetapi Umi: masalah ini pasti akan membuatnya malu dan ia akan menjadi bahan gujingan warga se-Rembang raya. Dan, begitu juga dengan keluarga Kiai Rahman. Aku akan menghadapi dua hal: pertama, tentang kepercayaan mereka terhadapku, dan, kedua, hal ini akan membuat keluarga mereka malu -- malu sebab menjadi gunjingan warga: karena mereka memiliki seorang menantu sepertiku -- yang diduga sudah hamil di luar nikah. Bukan wanita baik-baik. Dan sudah tidak suci. Belum lagi, bisa saja mereka akan menganggp bahwa aku telah menjebak Mas Ilham dalam pernikahan kami -- demi menutupi kehamilanku. Bisa saja mereka berpikir seperti itu, kan?
__ADS_1
Lelah, aku menangis dalam keheningan. Apa harus sebegini beratnya cobaanku dalam -- berusaha menjadi wanita yang salehah seutuhnya?
Jika begini, aku takut aku tidak bisa lulus uji. Aku takut kembali seperti Salsabila yang semula, yang akan membenci dan hanya bisa menyalahkan. Ujian ini terlalu berat untukku.
Aku tahu aku akan kuat secara fisik. Namun, secara iman, aku takut gagal. Sebab, aku tahu, aku bukanlah seorang wanita yang penyabar. Aku termasuk gadis barbar, yang akan memberontak dan bicara sesukaku ketika aku marah. Aku tidak pandai menahan diri, aku bisa kasar, apalagi menghadapi perempuan bermuka dua seperti Yunita. Sifat asliku bisa otomatis keluar dengan mudahnya. Bagaimana mungkin aku bisa menahannya? Bahkan kebencian ini bisa menjelma -- menjadi rasa dendam yang teramat besar kepada Yunita.
Jika begini, status istri seorang ustadz yang kusandang, yang mestinya kujaga dengan baik demi kehormatan suami dan keluarga besar kami -- bisa tercoreng dengan mudahnya karena kesabaranku yang gagal uji.
__ADS_1
Aku lelah, Tuhan. Sungguh aku lelah dengan semua ujian ini. Ini terlalu berat bagiku. Terlalu berat....