
Dekorasi kamar pengantin yang indah itu kini sudah sempurna. Cahayanya sudah temaram. Aku sudah mematikan lampu di langit-langit kamar sebelum keluar menemui Mas Ilham, dan sebaliknya, lampu-lampu hias yang bergelantungan di langit-langit kamar itu sudah menyala dengan indahnya. Kamar yang kini didominasi oleh kain-kain putih yang berjuntai di sekeliling dinding dan juga bunga-bunga hias di kepala ranjang pengantin kami, menambah kesan romantis dan indahnya malam pengantin ini, malam pertama kami sebagai pasangan suami istri yang sah -- yang halal dan saling mencintai. Dan, selain menambah kesan romantis dan memperindah suasana, dekorasi itu juga membuat suasana terasa hangat, juga manis. Sangat sesuai untuk sepasang pengantin baru untuk melewati malam impian dengan sejuta kesan dan kenangan. Tetapi, yang lebih penting dari itu semua hanya satu: keikhlasan. Karena percayalah, hatimu tak akan merasakan apa pun kecuali rasa sakit apabila dirimu tidak ikhlas atas apa yang akan engkau jalani. Dan, sungguh, keikhlasan itu bukanlah sesuatu yang bisa engkau paksakan.
Malam ini, setibanya kami di dalam kamar, Mas Ilham menurunkan aku dari gendongannya, persis di samping ranjang pengantin kami. Sambil berdiri di hadapanku dan menatap lekat kedua mataku, ia menaruh telapak tangan kanannya di atas kepalaku, kemudian ia memejamkan mata. Aku tidak tahu apa, tapi sepertinya ia berdoa. Dan setelah membuka matanya, ia meraih tanganku dan mengajakku duduk di tepi tempat tidur berseprai putih itu. Sambil kembali menatap kedua mataku dalam-dalam, Mas Ilham bertanya, "Zahra," katanya, "kamu sadar apa yang akan kita lakukan di kamar ini? Kamu ikhlas memberikan dirimu seutuhnya kepadaku?"
Hmm... lagi-lagi dia ingin memastikan perasaanku.
Kusunggingkan senyuman tulus kepadanya dan aku mengangguk. "Aku ikhlas. Aku mencintai Mas Ilham. Demi Allah, tidak ada sedikit pun keraguan di hatiku atas pernikahan kita." Dan aku menangis. "Tolong, jangan ragukan aku?"
Mas Ilham menggeleng. "Bukan seperti itu, Zahra," ujarnya. "Hanya saja, seseorang di luar sana yang mencintaimu sejak lama, dia masih--"
"Aku sudah tidak mencintainya, Mas."
"Ssst... tenang. Dengarkan aku dulu, bisa?"
"Ya." Aku mengangguk.
Mas Ilham mengusap air mataku, lalu ia menangkup wajahku. "Dengarkan aku, Zahra," ulangnya. "Penting bagiku untuk tahu keikhlasanmu. Sebab, setelah ini, setelah aku menyentuhmu dan kita berdua menyatu, demi Allah, aku tidak akan pernah melepaskanmu walau apa pun yang akan terjadi. Meski langit di atas sana terbelah dua, bahkan jika langit runtuh sekalipun, selamanya -- kamu -- Salsabila Azzahra binti Muhammad Siddiq, selamanya kamu akan menjadi istriku dan kita hanya akan terpisah oleh kematian. Kamu yakin tidak akan menyesali apa pun setelah ini?"
Kepanjangan... rengekku dalam hati. Semua ini gara-gara fitnah itu. Berengsek sekali pelakunya. Gara-gara dia aku mesti kena getahnya. Hiks! Sebal! Kepingin rasanya menarik kerah baju kokonya Mas Ilham dan membuatnya jatuh menindihku. Tapi aku tetap sabar, daripada membuatnya illfeel terhadapku. Aku mesti lemah lembut dan tetap pada fitrahku sebagai perempuan. Keep calm, Zahra....
Tapi dia lama sekali....
Gairah asmaraku sudah meronta-ronta, tahu...!
"Aku ikhlas. Inshaallah, tidak akan ada satu hal apa pun yang akan kusesali. Karena demi Allah, Mas, aku ingin sepenuhnya menjadi ladang pahala untukmu. Aku ikhlas," tekanku.
Mas Ilham menunduk, lalu ia mengembuskan napas lega sambil mengangguk. "Alhamdulillah," ucapnya.
Lagi, kukembangkan senyum super manis yang tulus ikhlas dari dalam hatiku. "Aku ikhlas," ucapku pelan di depan wajahnya, nyaris berbisik. "Ajak aku menggapai ridha-Nya dan mencari pahala bersamamu. Demi Allah, aku mencintaimu, Ilham Akbar Ibnu Rahman."
Hah!
Kan... kan... aku jadi nekat....
Mas Ilham jadi tersipu lantaran menerima signal tak sabar dariku.
__ADS_1
Lama sih....
Masih saja mempertanyakan keikhlasanku. Aku sudah ikhlas 100% dan tidak kurang sama sekali. Yakin deh!
Tapi... ternyata kenekatan dan keberanianku luntur juga tatkala Mas Ilham mulai beraksi.
"Bismillahirrahmaanirrahiim...." Dia mencium bibirku. Hanya ciuman sesaat, sesebentar ia mengatupkan kedua bibirnya pada bibir bawahku. Lalu ia menatapku lagi sambil tersenyum.
Ya Tuhan... berdegup-degup jantungku. Rona merah di pipiku kembali menyala.
"Omong-omong, gaun tidurmu cantik," puji Mas Ilham.
Aku mengangguk. "Terima kasih," ucapku. "Ini hadiah dari kakak ipar. Mbak Indah yang kasih. Kurasa ini memang cocok untukku, ya kan? Aku suka."
"Iya, pas, cantik. Kamu kelihatan lebih anggun dengan gaun itu."
Aku tersipu. "Terima kasih atas pujiannya."
"Em, sama-sama. Tapi, kamu pasti lebih cantik kalau tanpa apa pun."
Ya salam... aku terkikik dibuatnya.
Srettt....
Dia mulai menurunkan gaunku.
"Kamu milikku."
Oh Tuhan... rasa-rasanya, di dalam dadaku, hati dan jantungku berlomba-lomba dengan debaran dan detakannya masing-masing. Aku gemetar. Dan sudah kuduga, aku hanya tertunduk malu tatkala Mas Ilham menatap takjub keindahan yang ia lihat di balik pakaian yang sudah terlepas dari tubuhku. Polos tanpa apa pun.
Lalu...
Dengan perlahan, Mas Ilham membaringkanku. Dan sepertinya ia sengaja ingin berlama-lama bermain-main dengan hasratku yang mulai terpancing. Sembari mata hitamnya menelisik lekuk tubuhku, tangannya dan jemarinya pun ikut membelai dan menjelajahi setiap inci yang sudah halal untuk ia sentuh. Sementara aku, pipiku teramat panas, jiwaku sudah terbakar hebat dari dalam karena tatapan Mas Ilham -- yang seakan tak bisa lepas dan tak mampu lagi berkedip.
"Demi Allah, Zahra, di mataku, kau lebih indah dari apa pun yang ada di dunia ini. Sungguh, aku sangat memujamu."
__ADS_1
Aku mengulum senyum. Tak bisa berkata-kata lagi, walau sekadar untuk menyahuti kata-kata manis dan gombalnya suamiku.
"Emm... omong-omong... aku butuh bantuan."
"Apa?" tanyaku dengan kening mengerut.
"Ini," katanya. Mas Ilham meraih tanganku, dan membimbingnya menelusuri kancing demi kancing pakaiannya. "Bisa tolong...?"
Hmm... pria ini. Dia membuatku yang berada di bawah kungkungan tubuh besarnya ini semakin merona saja. Sumpah, dalam keadaan seperti ini, sulit sekali membuka kancing-kancing yang berderet itu karena tanganku tak bisa berhenti gemetar. Aku gugup luar biasa.
"Rileks, Zahra...," ucap Mas Ilham. Senyumnya terus mengembang sementara jari-jemarinya aktif membelai kulitku.
Dan... beberapa kancing atas terbuka. Masyaallah... dada bidang itu dihiasi bulu-bulu halus nan lebat. Senyum semringahku nyaris jadi cengiran lebar.
Huh! Akhirnya selesai juga. Masih dengan tanganku yang gemetar, aku membuka dan melepaskan baju koko itu dari tubuhnya. Lalu, sekilas kulihat, perut seksi Mas Ilham seperti sususan roti sobek yang membuatku gemas, kepingin nyentuh.
"Tinggal satu lagi," bisiknya. "Mau membantuku?"
Dan kali ini aku nyaris terbahak. "Yang itu tolong dibuka sendiri...," rengekku.
"Well, baiklah," katanya. Dia bangkit dari atasku dan turun dari ranjang. Sambil membelakangiku, Mas Ilham melepaskan ikat pinggangnya, lalu pengait celananya, ritsleting, dan... menurunkan celananya tanpa terkecuali.
Kemudian, sebelum kembali berbaring di atasku, ia menoleh, dan itu praktis membuatku spontan memalingkan wajahku darinya.
Ckckck! Malu, ketahuan memerhatikan dan memandangi tubuhnya dengan hasrat.
Jadi, di saat aku berpaling itulah ia kembali merangkak ke atas tubuhku dan aku tak sempat melihat dirinya seutuhnya. Namun, walau tak sempat melihat, sesuatu yang membuatku tegang itu sudah menyentuh kulitku tatkala Mas Ilham menumpangkan keseluruhan bobot tubuhnya di atasku. Sesuatu yang hidup dan mendamba.
Ya Tuhan... aku mendadak panas dingin melihat Mas Ilham tersenyum nakal.
"I love you," bisiknya. "Ilham datang kepadamu, Zahra. I... want... you... know."
Dag!
Dig!
__ADS_1
Dug!
Dan kemesraan lebih lanjut itu pun dimulai.