
sesuai rencana, Mbak Fitria pun berpesan kepada Mas Ilham untuk mampir ke apotek saat kami dalam perjalanan melaju pulang.
"Ada resep obatnya? Biar saya yang turun," kata Mas Ilham menawarkan diri.
Mbak Fitria menggeleng. "Biar saya saja," sahutnya. "Tidak ada resep dokternya. Kalian tunggu saja di mobil."
"Hati-hati, Mbak," ujarku.
Mas Ilham tersenyum, dan mulai gesrek saat kami hanya berduaan di dalam mobil. "Kiss me, please? Aku kangen dicium olehmu."
Iyuuuh... cengiran edannya pun mengembang sempurna. Lalu...
Dia menyosor kepadaku, membuatku engap karena ciumannya yang dahsyat.
"Katanya minta dicium?"
"Oh, iya, ya. Harusnya kamu yang menciumku."
"Hmm... modus, kan? Biar dapat double, begitu?"
Dasar... Mas Ilham, dia pintar sekali mengambil kesempatan. Dia membuatku gemas. Jadi... kugigit bibirnya setelah aku memberikan ciuman panas kepadanya.
"Oh, Sayang, aku tidak sabar kita sampai ke rumah."
Hmm... suamiku sungguh edan.
"Terima kasih sudah menunggu...," seru Mbak Fitria yang baru saja membuka pintu dan masuk ke mobil. Lalu, dia mengerling kepadaku.
Ya Tuhan... testpack itu membuatku tak sabar menunggu pagi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Aku jadi deg-degan. Hingga besok paginya...
__ADS_1
Aku terbangun sebelum subuh, Mas Ilham masih tertidur lelap di sampingku. Kemudian, dengan gerak perlahan, aku pun turun dari tempat tidur, kuambil testpack-ku dari dalam tas dan aku bergegas masuk ke kamar mandi.
Tapi tidak semulus itu, kawan....
Sewaktu aku hendak membuka bungkusan testpack itu, tiba-tiba Mas Ilham mengetuk pintu kamar mandi. Nyaris saja aku terlonjak.
"Sayang, kamu di dalam?"
"Em, ya, Mas...."
"Cepat, ya. Aku kebelet."
Hufth, ya sudah. Mengalah dulu. Kusimpan kembali testpack itu ke saku piyamaku, kubuka pintu dan aku keluar dari kamar mandi. Kubiarkan Mas Ilham yang menuntaskan hajatnya lebih dulu.
Setelah menunggu beberapa saat, Mas Ilham pun keluar dari kamar mandi. Dengan matanya yang masih mengantuk, ia kembali ke tempat tidur, dan aku kembali masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan ritual uji kehamilanku.
Tetapi, lagi-lagi tidak semulus itu.
Praktis aku kaget. "Ada apa, Mas?" tanyaku, volume suaraku pun tak kalah keras dari suara Mas Ilham tadi.
Hening.
"Mas?"
Hening, keheningan yang membuatku mesti keluar dari kamar mandi, meninggalkan testpack yang masih terbungkus dan air seniku yang sudah terlanjur tertampung. Ketika membuka pintu kamar mandi, aku mendapati Mas Ilham terdiam dengan ponsel di tangannya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Emm... ada yang meninggal."
__ADS_1
"Siapa?"
"Temanmu."
"Temanku? Si--siapa?" tanyaku.
Jujur, aku takut kalau yang dimaksud oleh Mas Ilham itu adalah Puspita. Sebab, nama itu yang terbesit di dalam benakku. Aku deg-degan. Tapi tidak. Puji syukur yang meninggal bukanlah Puspita.
"Yunita."
"Oh," kataku spontan. "Syukurlah, kukira tadi--"
"Sayang?" Mas Ilham menatapku heran.
"Eh? Em, maaf, Mas. Aku tidak bermaksud...."
Ah, aku tidak bermaksud apa-apa. Tidak bermaksud senang, apalagi bersyukur. Tidak sama sekali. Itu hanya sikap spontanku, kekhilafanku sebagai manusia biasa, manusia yang minus walaupun aku sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
"Maaf, Mas. Aku...."
"Ucapkan...?"
"Innalillahiwainnailaihiraaji'un. Maaf, aku khilaf."
Mas Ilham mengangguk. "Dia meninggal bersama suaminya Puspita."
"Apa?" Aku terbelalak. Kaget bukan main. "Bagaimana bisa? Kok...?"
Mas Ilham mengedikkan bahu. Lalu menyodorkan ponselnya ke tanganku. Ada kiriman screenshoot potongan berita dari Mas Muslim via whatsapp tentang berita peristiwa naas itu. Dalam berita itu dikabarkan bahwa dua insan itu ditemukan tewas di dalam mobil si lelaki setelah mobil yang terparkir di pinggir jalan itu tertabrak oleh sebuah truk yang dikemudikan oleh seorang supir yang sedang mabuk berat akibat pengaruh alkohol. Dan yang membuat peristiwa semalam itu heboh adalah: kedua korban meninggal itu dalam keadaan polos dan ditemukan tewas dalam posisi bertindihan -- terjepit di kursi belakang.
__ADS_1
"Astaghfirullah...."
Speechless....