Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Nyesss...!


__ADS_3

"Katakan, bagaimana caranya?"


"Yakin kamu bertanya? Kurasa kamu tahu."


"Mmm-hmm... dan kurasa, bagimu... tidak ada yang lebih manis daripada aku, bercinta denganku. Benar, kan?"


"Seratus persen benar sekali. Jadi...?" Mas Ilham tersenyum hangat. Tangannya mulai bergerilya dengan nakal.


Teeeeet...!


Suara bel berbunyi berkali-kali, menjeda kemesraan di antara kami yang baru saja hendak kami mulai.


"Ada tamu."


"Siapa yang datang malam-malam begini?"


"Entahlah," kata Mas Ilham. "Biar aku yang cek. Kamu tunggu di sini."


Aku mengangguk, mematuhi perintah suamiku. Tetapi, beberapa saat kemudian, suara Mas Ilham dari ruang bawah tangga terdengar memanggilku.


"Ada temanmu," kata Mas Ilham saat aku keluar dari kamar dan melongo ke tangga.


Pasti Puspita, pikirku. Siapa lagi. Tapi ada apa sampai malam-malam begini dia mesti datang langsung ke rumahku?


Kusingkirkan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benakku sementara aku menuruni anak tangga.


"Hati-hati," kata Mas Ilham. "Pelan-pelan."


Aaah... kehamilan ini membuat Mas Ilham semakin perhatian dan semakin memanjakan aku. "Iya, Mas... tenang saja. Aku hati-hati, kok."


"Kamu langsung ke depan. Biar aku yang ambilkan minum."


Nah, loh?

__ADS_1


"Biar aku saja, Mas...."


"Biar aku. Kamunya ke depan."


"Serius, ya, tidak apa-apa?"


"Santai, Sayang."


"Oke. Terima kasih, Mas."


Ah, baiknya suamiku. Aku pun lekas menuju ruang tamu.


Tepat seperti dugaanku, yang datang adalah Puspita. Dia langsung berdiri dan memelukku saat kami bertemu muka.


"Kamu ke mana saja, sih, seharian? Aku sudah bolak balik ke sini sejak tadi sore," celotehnya. "Ditelepon juga ndak bisa."


Hehe. Aku nyengir. "Maaf, Bestie, ponselku disita Mas Ilham. Dan tadi itu kami berbuka puasa di rumah mertuaku."


"Pantas saja."


"Yeee... pakai nanya. Akulah yang harus nanya kamu. Kamu tidak apa-apa, kan? Aku dengar gosip itu, lo. Aku jadi khawatir...."


Aku manggut-manggut. "Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, kan?"


"Syukurlah, Bil."


"Ya, Mpus. Alhamdulillah."


"Aku minta maaf, ya. Gara-gara aku--"


"Tidak apa-apa," potongku. "Aku tahu kamu tidak bermaksud buruk."


"Thanks, Bil. Aku juga tidak menyangka akan seperti ini. Aku juga sudah konfirmasi ke Yunita, katanya... dia cuma mau tanya ke Mas Imam soal usia kehamilanmu. Dia berpikir kalau...." Puspita menunduk sejenak. "Kamu mengertilah apa maksudku. Ya, kurasa itu wajar karena dia kan masih gadis, belum pernah hamil. Dia belum mengerti soal perhitungan soal usia kandungan. Jadi... ya begitu. Aku benar-benar minta maaf, ya?"

__ADS_1


Aku yang sedari tadi diam untuk menyimak, ternyata bisa panas juga. Tetapi aku tidak ingin membiarkan diriku terbakar oleh api emosi. Mungkin saja alibi Yunita benar. Tetapi, mau dipandang dari sudut mana pun, yang ia lakukan itu salah. Bahkan, dia seakan memang sengaja menyulut api dengan bensin. Api pun berkobar dan tertiup angin dengan kencang.


"Nah, minumannya," kata Mas Ilham yang tahu-tahu muncul tepat waktu. "Ada yang panas dan ada juga yang dingin. Pilih saja mana yang cocok untuk kalian."


Jiaaah... aku jadi lupa dengan amarahku tadi. "Aku mau es," kataku.


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak. Tidak baik untuk ibu hamil. Nanti kamu sakit perut."


Puspita tersenyum. Dia jadi mesem-mesem melihat kemesraan kami. "So sweet sekali kalian," katanya.


Dalam sejenak, aku jadi teringat masalah rumah tangganya dengan suaminya. Aku jadi tidak enak padanya.


"Omong-omong, kamu kenapa kemarin ke klinik? Kamu... hamil?"


Ya Tuhan... matanya malah berkaca. Tetapi, dengan sigap, Puspita langsung menyekanya. "Ya," katanya. "Tapi ketuk palu hakim terlanjur memutus pernikahanku. Aku baru tahu kalau aku hamil."


"Tapi itu kan tetap tidak sah, Mbak," sela Mas Ilham yang kini duduk di sampingku.


Ssst... aku tahu kenapa dia tidak mau pergi. Dia mau mengontrol obrolan kami dan memastikan langsung keadaanku: supaya emosiku tetap stabil.


"Saya tahu, Mas. Tapi kan suami saya yang sengaja tidak datang ke pengadilan. Itu artinya... dia benar-benar setuju dengan perceraian kami."


Aku berdeham. "Maaf, Pus. Apa... dia tahu kalau kamu hamil?"


Puspita menggeleng, dan ini membuat Mas Ilham spontan beristighfar, hingga aku melotot dan mencubit pahanya. "Jangan begitu...," bisikku.


"Saya tahu, kok, yang saya lakukan ini salah. Tapi... sebenarnya, sewaktu saya belum tahu kalau saya hamil, saya sempat bertemu dia, dan waktu itu saya mual. Jadi... dia curiga. Dia bertanya apakah saya hamil, dan... dia juga langsung bertanya saya hamil dengan siapa."


Nyessss... melesak hatiku. Kali ini aku yang menutup mulut karena aku yang beristighfar. Pasti sakit sekali rasanya dibegitukan oleh orang yang amat sangat kita cintai.


"Sebab itulah, sewaktu saya tahu kalau saya hamil, saya memutuskan untuk merahasiakan kehamilan ini darinya." Puspita terisak, untuk sesaat emosinya membuat dirinya menangis. Tapi, mungkin karena dia sudah terbiasa dengan kepahitan itu, jadi dia bisa segera menguasai dirinya kembali. "Sudahlah," katanya. "Aku tidak mau bersedih lagi. Dan lagi, aku sudah memutuskan untuk pindah keluar kota. Besok, pagi-pagi sekali aku akan berangkat."


What? Aku terbengong-bengong. Ya Allah, Pus. Apa tidak mau berpikir matang-matang lebih dulu?

__ADS_1


Tapi nyatanya mulutku terkunci. Lidahku kelu. Ini bukan saat yang tepat untuk menasihatinya. Hatinya tengah terluka begitu dalam. Tetapi...


Bagaimana kelak dengan nasib dan nasab anakmu, Pus? Dia yang akan menjadi korbannya.


__ADS_2