Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Pahit Manis Cinta


__ADS_3

"Bil, ini kunci motormu," kata Mas Farid seraya menyodorkan kunci motor itu kepadaku.


Kening Mas Ilham langsung mengerut. Aku lupa mengatakan pada Umi kalau motorku dibiarkan saja di rumah. Sebab, Mas Ilham tidak mengizinkanku membawanya. Kami sudah membahas hal ini di telepon sewaktu kami dipingit. Maksudku, sewaktu kami memingit diri kami sendiri. Hehe.


Yap, meski sudah kubilang kalau itu motor pribadiku dan kubeli dengan uangku sendiri, Mas Ilham tetap tidak mengizinkan. Biarkan saja katanya untuk di rumah, mana tahu Laila dan Laili lebih membutuhkannya, sekalian untuk transportasi mereka ke sekolah, dan supaya memperkecil pengeluaran Abi juga. Jadi, Abi cukup mengeluarkan uang untuk membelikan bensin yang pasti jauh lebih hemat ketimbang mengeluarkan uang untuk ongkos naik angkot pulang-pergi mereka berdua. Sedangkan aku, Mas Ilham berjanji dia akan mengantar dan menjemputku setiap hari. Walaupun mungkin dia akan terlambat beberapa menit atau karena macet sekalipun, dia akan tetap menjemputku. Bahkan siang ini, Ikram, adik lelaki Mas Ilham akan mengantarkan sepeda motor Mas Ilham, supaya ketika macet, mau cepat dan buru-buru, atau untuk dipakai sekadar perjalanan dekat, atau juga kalau dia sedang berhalangan mengantarku, misalnya-- naudzubillah, kalau dia jatuh sakit, aku bisa memakai motornya saja.


Tapi, aku paham sekali kalau sebenarnya Mas Ilham ingin mengambil alih semua tanggung jawab atas diriku ke pundaknya, dan itu juga untuk menjaga hubungan kami supaya tetap harmonis katanya.


"Jangan biarkan profesi kita menjadikan diri kita sibuk dengan urusan masing-masing. Setidaknya, dengan mengantar dan menjemputmu, aku ikut andil dalam mendukung pekerjaanmu. Aku ingin selalu ada untukmu, Zahra," katanya kala itu.


Lalu, aku bertanya kepadanya, "Bagaimana kalau nanti hal itu malah memberatkanmu?"


"Sepanjang aku ikhlas demi cintaku padamu, aku tidak akan pernah mengeluh."


Euw... gombal...!


"Tenang saja, Abi mendidik anak-anaknya untuk selalu memuliakan keluarga. Abi juga selalu mencontohkan kepada kami untuk memuliakan pasangan. Jadi, inshaallah, kupastikan aku tidak akan pernah mengeluh."


Aku paham. "Bagaimana kalau kamu bosan?" tanyaku. "Mungkin setelah sebulan, dua bulan, atau setahun, dua tahun, mungkin kamu akan bosan."


"Bagaimana bisa aku bosan padamu? Kamu semanis itu." Dia cekikikan.


Gemas deh aku dibuatnya. Saking gemasnya, pingin kugigit ponselku kala itu.


"Tenang saja," katanya lagi. "Kalaupun aku sampai bosan. Tidak akan pernah kukatakan, apalagi kutunjukkan. Aku pria sejati, dan janjiku -- janji pria sejati. Aku dididik untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Pegang kata-kataku."


Oh... manisnya....

__ADS_1


Kata-kata Mas Ilham membuatku yang kala itu belum dinikahi jadi kepingin cepat-cepat menjadi istrinya. Aku ingin segera menjadi ratu di hatinya dan menjadi wanita teristimewa baginya. Tentu saja, selain ibunya dan saudari perempuannya.


Dan mungkin, kata-katanya yang membuai itu yang membuatku lupa menyampaikan obrolan kami waktu itu kepada Umi.


Ih, padahal mah karena Zahra tidak sabar mau dinikahi Mas Brewok, ya kan? Ngakuuuuu....


Atau karena terlalu tak sabar menantikan malam pertama?


Ckckck!


Intinya aku lupa mengatakannya kepada Umi.


"Dibawa pulang saja, Mas," kataku pada Mas Farid. "Untuk Laila dan Laili sekolah."


Mas Farid mengangguk, lalu ia pun berpamitan setelah sedikit mengucapkan kata-kata sanjungan kepadaku. Kebiasaan. Begitulah Mas Farid terhadapku.


Aamiin....


Ah, senangnya dalam hati menerima perhatian luar biasa dari kedua belah pihak keluarga yang teramat menyayangi kami. Termasuk dalam urusan pangan yang mereka berikan untuk kami. Walaupun yang dibawakan itu sama seperti barang-barang yang sudah kami beli sendiri di pasar, tidak apa-apa, karena yang terpenting adalah nilai cinta dan kasih sayangnya yang teramat istimewa.


Umi dan Mbak Indah membantuku menyusun semuanya ke dalam lemari dapur dan ke dalam kulkas. Aku juga tidak perlu masak untuk makan siang ini, sebab Mbak Indah membawakan lauk dari pondok makannya untuk kami semua makan siang. Sementara kami sibuk di dapur, Mas Muslim dan Mas Ilham pergi ke halaman belakang. Mau petik kelapa muda katanya untuk jualan. Mumpung ada Ikram yang bisa membantu memanjat pohon kelapa dan beberapa orang pekerja kebun sebagai tenaga upahan, biar cepat selesai dan semua kelapa muda siap panen meluncur turun dari pohonnya.


"Kamu jangan ikut manjat," kata Mas Muslim pada Mas Ilham. "Takut capek. Simpan saja tenagamu untuk nanti malam."


Ih, ternyata para alim bercandanya juga seperti itu, ya. Aku jadi ikut terkekeh mendengarnya.


"Omong-omong, memangnya kamu benaran bisa naik pohon kelapa, Mas?" tanyaku.

__ADS_1


Dia mengangguk. "Jangankan naik pohon kelapa, naik kamu saja aku bisa."


Eit dah, di depan semua orang dia bicara seperti itu. Guyon sih guyon, Mas. Tapi kamu membuatku seperti kepiting rebus....


Dan sampai detik itu aku sangat bahagia. Tapi sayang, kebahagiaan itu mesti terusik sedikit. Pada saat Mas Ilham dan para lelaki itu pergi ke masjid untuk salat jumat, dua orang polisi datang ke rumah kami untuk menjemput Mas Ilham.


"Ada apa, ya, Pak? Kenapa dengan suami saya?" tanyaku. Aku cemas bukan main dan sudah berpikiran yang aneh-aneh. Jangan-jangan Mas Ilham....


Segera kutepis pemikiran yang tidak-tidak itu.


Yap, akhirnya, salah seorang polisi yang tubuhnya lebih gempal dari rekannya, menjelaskan bahwa Mas Ilham akan dimintai keterangan atas tuduhan penganiayaan terhadap Mas Imam.


Ya Tuhan, bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku shock mendengarnya. Aku takut hukum berlaku tidak adil terhadap suamiku dan malah memihak pada Mas Imam yang jelas-jelas dialah yang bersalah dalam hal ini. Dan lebih dari itu, aku sangat malu kepada ibu mertuaku dan kakak iparku. Aku takut mereka menilaiku buruk: baru sehari menikah tapi sudah membawa masalah untuk Mas Ilham.


Setelah kedua petugas polisi itu berpamitan untuk mencari Mas Ilham di masjid terdekat, aku pun ingin menyusul mereka -- terlepas dari apa pun yang bisa ataupun tidak bisa kulakukan, aku tidak tahu. Yang aku tahu saat itu aku ingin mencegah kedua polisi itu membawa Mas Ilham, meskipun kusadari, mungkin yang kulakukan itu akan sia-sia belaka.


Tetapi, langkahku terhalang oleh Umi dan Mbak Indah. Sebagai gantinya, mereka meminta penjelasanku atas apa yang sebenarnya terjadi?


Apa yang mesti kukatakan? Malu itu sudah bermahkota di atas kepala.


Ya Tuhan, kenapa Engkau terus mengujiku? Bukankah ini pernikahan yang Engkau ridhai? Pernikahan yang membuat semua pihak bahagia? Lantas kenapa jadi begini?


Untuk sesaat aku mengkufuri nikmat dari-Nya.


Istighfar, Zahra....


Aku menangis dengan segala rasa takut yang membuncah di dalam hati. Tapi, aku berusaha meyakinkan diri, segalanya akan baik-baik saja. Mas Ilham akan baik-baik saja. Aamiin... aamiin....

__ADS_1


__ADS_2