
"Umi, sebaiknya Umi kabari Abi," kata Mbak Indah yang masih merangkulku di sofa.
Umi pun menuruti saran anak sulungnya itu. Dan saat itulah, Mbak Indah kembali menanyaiku apa yang sudah terjadi.
"Kamu bisa cerita pada Mbak. Jangan sungkan," katanya.
Mbak Indah memang perempuan bijak dan pengayom. Sebab itu, aku cepat akrab dan tak sungkan terhadapnya. Tapi jujur saja, yang kuingat waktu itu aku hanya mengatakan garis besarnya saja apa yang sudah terjadi: tentang Mas Imam yang hendak memaksaku ikut dengannya yang akhirnya memicu pertarungan tak seimbang antara Mas Ilham dengan Mas Imam. Dan itu pun karena Mas Imam yang terus berusaha melawan, padahal Mas Ilham sudah memintanya pergi baik-baik. Aku menjelaskan hal itu dengan terbata-bata kepada Mbak Indah. Emosiku jadi labil, aku sedang takut dan memikirkan banyak hal.
"Sudah," kata Mbak Indah kemudian. "Kalau benar seperti itu, polisi tidak punya alasan untuk menahan Ilham. Dan pasti dia cuma dimintai keterangan. Yang polisi main tahan tanpa kejelasan itu cuma di sinetron, kok. Di dunia nyata tidak begitu. Kecuali... kalau Ilham melakukan tindakan kriminal semisal mencuri yang ada bukti dan saksinya. Kan ini nggak. Ini hanya perkelahian, Ilham cuma mempertahankan haknya dan melakukan kewajibannya untuk melindungi istrinya. Lagipula, pasti ada banyak saksi di TKP nanti. Polisi mesti menyelidiki lebih dalam dulu sebelum ia menahan seseorang. Yakin, semuanya akan baik-baik saja. Sudah, ya. Tenang. Lagipula, nanti Mas Muslim pasti ikut ke kantor polisi dan menjamin kebebasan untuk Ilham. Percaya pada Mbak, oke? Kita berdoa saja untuk kebaikan Ilham."
Huffft...! Ada sejumput rasa lega di dalam hatiku meski belum sepenuhnya. "Ya, Mbak. Tapi... selain memikirkan Mas Ilham, Bila juga takut, Mbak."
"Takut apa? Inshaallah, semua akan baik-baik saja."
Aku mengangguk seraya menyeka air mata. "Em, aku harap... begitu. Tapi...."
"Apa?"
"Aku takut kalau... Abi dan Umi...?"
"Abi dan Umi tidak akan berpikiran yang macam-macam. Percaya, deh," kata Mbak Indah yang begitu mengerti jalan pikiranku, bagaikan seorang saudari kandung, lalu ia tersenyum. "Jangan khawatir, Abi dan Umi itu orang tua yang bijak. Mereka tidak akan menyalahkanmu. Inshaallah, mereka menyayangimu sebagaimana mereka menyayangi anak-anak mereka sendiri. Jadi... kamu tidak perlu mengkhawatirkan tanggapan mereka atas sebab-musabab masalah ini. Rileks, Bila."
Lagi. Aku mengangguk.
__ADS_1
"Mbak beritahu, ya. Sesungguhnya, Abi dan Umi sangat bersyukur atas kehadiranmu. Kamu itu bagaikan mata air surga yang menyejukkan bagi Ilham. Bagi jiwanya yang pernah kehilangan. Bahkan Mbak bisa mengatakan kalau sebelumnya Ilham itu seperti padang tandus sejak... mungkin kamu sudah tahu tentang almarhumah Mia? Islamia, calon istri Ilham sebelum kamu."
Walaupun aku tidak tahu banyak, bahkan aku baru tahu namanya Islamia, tapi ucapan Mbak Indah tidak membuatku kaget. Justru sebaliknya, aku antusias mendengarkan penuturannya, dan ini juga memicu ingatanku tentang penjelasan Mas Ilham mengenai jawaban istiqharahnya yang ia janjikan namun belum sempat kami bahas. Tentu saja, karena gairah asmara yang menggebu-gebu itu, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermesraan. Yeah, kemesraan khas pengantin baru. Aku jadi tidak ingat kalau kami hendak membahas soal itu setelah kami menikah.
"Mbak tahu, Ilham merasakan kesedihan yang mendalam sebelum dia bertemu denganmu. Yah, walaupun dia berusaha terlihat seakan dia baik-baik saja selama ini, walau dia berusaha tidak menunjukkan kesedihannya, tapi kami semua tetap bisa merasakannya. Ilham hanya berusaha menjadi pribadi yang tidak kehilangan imannya di saat hal yang menyakitkan itu menimpanya. Tapi, setelah ada kamu, kamu bisa menilai sendiri bagaimana Ilham yang belakangan ini, ya kan? Denganmu, dia seperti menemukan belahan jiwanya kembali. Kamu bisa merasakannya, bukan? Dari sekian banyak perempuan yang Umi dan Abi pilihkan, Allah memilihkan kamu untuk Ilham. Jadi, Umi dan Abi tidak mungkin membencimu hanya karena masalah sepele ini. Percaya pada Mbak, ya. Kami semua menyayangimu, em?"
Aku mengangguk lagi. Aku menerima apa yang dituturkan oleh Mbak Indah dengan baik. Bahkan, ingin rasanya aku bertanya tentang calon istri Mas Ilham itu kepada Mbak Indah. Tapi aku menyadari sekarang bukanlah saat yang tepat. Dan lagipula, Mas Ilham melarangku untuk bertanya perihal gadis itu. Seraya mengusap sisa-sisa air mataku dengan rasa syukur, kuanggukkan lagi kepalaku dan Mbak Indah tersenyum melihat kelegaan yang melingkupi jiwaku.
"Semuanya akan baik-baik saja, Dik. Bahkan kalau perlu, kamu bisa melaporkan balik si Imam itu. Dia memaksamu untuk ikut bersamanya, sama saja dia ingin menculikmu, ya kan?"
Aku mengagguk-angguk lebih cepat. Kurasa Mbak Indah benar, hingga aku berkata aku ingin pergi ke kantor polisi saat itu juga.
"Tunggu. Ini sudah masuk waktu zuhur. Salat dulu, oke? Sabar...."
Ya Tuhan... aku beristighfar dalam hati, juga merasa salut pada keluarga Mas Ilham -- atas didikan kedua orang tuanya, anak-anak mereka bisa memiliki jiwa yang begitu tenang. Sedangkan aku?
"Hei, kamu baik-baik saja, kan?"
"Ya, Mbak. Aku...."
"Jangan melamun."
"Em."
__ADS_1
Dan benar saja, detik itu, Ikram pun pulang sendiri dari masjid. Kekakuan antara ia dan kami semua sudah menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Mas Ilham diminta polisi ke polsek. Mas Muslim yang menemaninya," ujar adik iparku itu. "Tapi katanya kita tunggu saja di rumah."
Aku menggeleng menatap Mbak Indah. Aku ingin ke kantor polisi, aku tidak ingin hanya menunggu dalam kecemasan. "Mbak, aku mau--"
"Kita salat zuhur dulu, oke?" potong Mbak Indah cepat. Lalu dia memanggil Umi yang tengah menelepon Abi di dapur.
Sementara, di saat aku berusaha tenang, ponselku berdenting. Ada pesan whatsapp masuk.
》 Aku akan mencabut laporanku terhadap lelaki itu dengan satu syarat. Kamu mesti menceraikannya dan pergi bersamaku. Dengan begitu semuanya akan baik-baik saja. Kita akan bersama selamanya. Please, kita wujudkan impian kita untuk bersama. Ikutlah bersamaku, Bila. Aku sangat mencintaimu.
Bedebah! Biadab! Brengsek! Bajingan! Lelaki sialan! Kurang ajar!
Ingin sekali aku mengumpat keras dan mencetuskan segala sumpah serapah untuknya, si pengirim pesan whatsapp itu. Sungguh, yang dimiliki Mas Imam bukan lagi cinta, tapi obsesi yang dipicu oleh rasa sakit hati.
"Nduk?"
Aku tertegun mendengar suara Umi. Tak bisa kupungkiri, jantungku serasa ingin melompat keluar dari dalam dada. Rasa khawatir yang sebelumnya sempat meredup, sekarang kembali merasuk hanya karena Umi memanggilku.
Dengan takut aku menatap Umi, bersiap-siap untuk menjelaskan dan meminta maafnya atas apa yang menimpa anak lelakinya yang disebabkan olehku dan masa laluku.
"Ayo salat, Nduk. Zuhur."
__ADS_1
Oh, hati... kenapa mesti suuzhan?
"Ya, Umi." Aku pun beranjak dari tempatku -- dengan hati gelisah.