Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Teror


__ADS_3

Tok! Tok!


Aktivitasku mengajar terpotong. Dengan tiba-tiba, satpam sekolah mengetuk pintu ruang kelas dan memanggilku.


"Ada apa, ya, Pak?" tanyaku.


"Maaf, ada yang ingin bertemu dengan Ibu."


"Siapa?"


"Katanya suami Ibu. Sekarang beliau sedang menunggu Ibu di post satpam."


Mas Ilham? Ada apa? Meski bertanya-tanya, aku lekas mengiyakan dan berterima kasih kepada Pak Satpam yang sudah menyampaikan informasi itu kepadaku. "Minta tolong suruh suami saya menunggu sebentar, ya, Pak."


Pak Satpam mengangguk dan segera permisi, sementara aku, aku mesti menitipkan kelas dulu kepada sang ketua kelas supaya dia dan teman-temannya tetap diam di dalam kelas selama aku pergi ke post satpam.


Sesampainya di post satpam, betapa terkejutnya aku bahwa yang menungguku di sana bukanlah Mas Ilham. Dan sebaliknya, justru Mas Imam yang ada di sana.


"Keterlaluan kamu, Mas. Kamu mengaku-ngaku sebagai suamiku?"


Dengan kesal, aku pun lekas pergi dari sana. Tetapi, langkahku malah tertahan oleh tarikan dari tangan Mas Imam. Dia menyentakku kuat ke arahnya.


Parah! Sebenarnya aku tidak ingin menimbulkan keributan sedikit pun, tapi sayangnya, tindakan Mas Imam terhadapku selalu membuatku ketar-ketir. Rasa panik seketika membuncah di benakku dan aku terpaksa berteriak memanggil satpam.


"Tolong usir orang ini, Pak. Dia bukan suami saya."


"Jangan begitu, Bil. Aku ingin kita bicara baik-baik."


"Tidak ada lagi yang perlu dibahas, Mas! Pergi kamu!"


Kusentak tanganku, dan seperti biasa, ketidakseimbanganku dengan sepatu berhak ini membuatku terpental sendiri.

__ADS_1


Dengan gerak cepat, Mas Imam menghampiriku yang mendarat di lantai. "Sori, kamu tidak apa-apa, kan, Bil?"


"Pergi...!"


"Bila, tolong. Kita bicara dulu baik-baik."


"Pergi...!"


"Tidak akan, Bil. Aku tidak akan--"


"Pak Satpam! Jangan cuma menonton!"


"Eh, oh, sori, Bu."


Kesempatan. Sewaktu Pak Satpam memegangi Mas Imam, di saat itulah aku menggunakan kesempatan itu untuk meninggalkan tempat.


Sambil mengatur napas, aku yang tengah berdiri di toilet ruang guru pun segera menghubungi Mas Ilham, menceritakan kejadian barusan. Besar atau kecil masalahku, Mas Ilham mesti tahu. "Aku takut, Mas," kataku. "Dia nekat sekali datang ke sini dan mengaku sebagai suamiku."


"Ssst... tenangkan dirimu, Sayang. Pokoknya kamu hati-hati. Aku akan menjemputmu lebih cepat supaya kamu nggak lama nunggunya. Pokoknya sekarang kamu fokus, tetap mengajar dengan profesional. Oke?"


Tapi teap saja, itu yang mesti kulakukan. Kuhela napas dalam-dalam, lalu mengiyakan perkataan Mas Ilham. Aku mesti kembali ke kelas dan melaksanakan kewajibanku.


Namun, gangguan itu tak kunjung berakhir. Di dalam kelas pikiranku bertambah kacau sebab Mas Imam malah menghubungiku via chat.


》 Aku masih di depan gerbang. Aku menunggumu, Bila. Ini kesempatan baik untuk kita pergi. Please... ikutlah bersamaku. Aku menjanjikan kebahagiaan untuk kita. Kita rajut mimpi kita kembali, Bil. Ayo, kita pergi sekarang.


Ya Tuhan... aku mesti bagaimana lagi menghadapinya? Dia bodoh, atau justru berlagak bodoh? Mau kublokir, ya percuma, dia pasti akan menghubungiku dengan nomor lain. Tapi bila kudiamkan, kehadirannya di depan gerbang sekolah itu amat sangat mengganggu. Aku tidak ingin dia nekat menungguku sampai jam sekolah berakhir dan nantinya dia menjadi bahan perhatian satu sekolah yang akhirnya bisa menimbulkan gosip. Aku juga tidak ingin dia bertemu dengan Mas Ilham saat Mas Ilham menjemputku nanti. Maka kuputuskan untuk membalas pesan whatsapp-nya.


《 Pergilah, Mas. Aku tidak akan ikut denganmu. Sampai kapan pun, tidak akan pernah. Aku sudah bersumpah di hadapan Allah, aku akan menghargai suamiku, dan juga menghargai pernikahan kami. Tolong, lupakanlah aku.


Conteng dua terkirim, dan langsung menghijau.

__ADS_1


Astaghfirullah. Praktis aku menyadari kekeliruanku. Aku tak semestinya membalas pesan whatsapp dari lelaki lain tanpa memberitahu suamiku lebih dulu dan meminta izinnya. Bukan, bukan aku sok taat pada suami. Tapi, bagaimanapun juga, aku sudah berjanji pada Mas Ilham untuk hal-hal seperti ini, aku mesti minta izin padanya lebih dulu. Tapi lagi-lagi aku tak sengaja melanggar aturannya. Akan kujelaskan nanti saja, pikirku.


》 Sumpah demi apa, Bil? Kamu rela mengorbankan dirimu dalam perjodohan itu?


Tahan, Bil... tidak usah dibalas.


Ting!


》 Ayo, Bil. Saat ini ada kesempatan baik untuk kita pergi dari sini. Aku menunggumu di sini, Bila....


Gilaaaaa...!


Lelaki itu tidak bisa diberi penjelasan apa pun.


《 Pergilah. Aku tidak akan pernah ikut denganmu. Kalau kamu tidak mengerti tentang suami dan pernikahan yang mesti kujaga dan kuhormati, terserah! Kamu boleh tidak mau percaya pada hal itu. Terserah kamu! Tapi aku akan tetap setia kepada suamiku dan setia pada pernikahanku. Selama suamiku setia dan mencintaiku, aku akan menjaga keutuhan rumah tanggaku -- apa pun yang terjadi di antara kami. See? Aku sangat mencintai suamiku. Aku sama sekali tidak terpaksa menikah dengannya. Dan aku tidak akan pernah mengkhianati suamiku hanya demi kembali ke masa laluku. Selain itu juga, aku tidak ingin mempertaruhkan nama baik kedua orang tuaku. Aku juga tidak mau kehilangan pekerjaanku. Jadi, please... pergilah, Mas. Jangan mengorbankan banyak pihak hanya karena obsesimu terhadapku. Kamu dibutakan cinta. Kamu tidak lagi mencintaiku dengan tulus. Sadar, Mas, aku ini istri orang. Aku wanita yang sudah bersuami. Tolooooong... tolong dengan sangat, aku mohon jangan ganggu aku lagi. Paham, kan? Wassalam.


Terkirim. Conteng dua dan menghijau, dan, seketika itu juga kumatikan ponselku. Aku berharap dia akan pergi dari depan gerbang. Sungguh aku tidak ingin dia bertemu Mas Ilham saat Mas Ilham datang menjemputku nanti. Lagipula, aku takut dia kembali menjebak Mas Ilham dalam perkelahian dan ujung-ujungnya nanti dia akan melaporkan Mas Ilham lagi ke pihak berwajib atas tuduhan tindak penganiayaan seperti kemarin.


Menyebalkan!


Rileks, Bila... rileks. Lupakan soal ini. Konsentrasi mengajar. Itu kewajibanmu. Oke?


Tok! Tok!


Satpam yang tadi kembali mengetuk pintu ruang kelas.


"Ada apa, Pak?"


"Maaf, ada titipan surat, Bu. Ini, dari--"


"Terima kasih," potongku cepat setelah menerima secarik kertas dari tangan Pak Satpam.

__ADS_1


Malas aku mendengar pemberitahuan, apalagi bertanya itu surat dari siapa. Jelas aku tahu siapa pengirimnya. Dan, tebakanku benar. Tidak meleset sama sekali: itu surat dari Mas Imam.


Kamu menyakiti hatiku, Bil. Tapi tidak apa-apa. Aku memaklumi. Aku tidak akan marah kepadamu karena aku tahu kalau kamu pun merasa serba salah dengan situasi sekarang ini. Tapi, aku bersumpah atas nama Tuhan, kamu milikku, dan kamu pasti akan kembali kepadaku. Apa pun dan bagaimana pun caranya aku akan merebutmu kembali darinya. Aku akan membawamu pergi untuk membahagiakanmu. Tunggu aku. Aku pasti akan menepati janjiku untuk menikahimu. Aku sangat mencintaimu, Salsabila.


__ADS_2