Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Ujian Lagi?


__ADS_3

Geli-geli gimana... gitu di saat alat untuk USG di klinik menekan-nekan perutku, plus ada rasa nyeri, juga sedikit rasa sakit. Sambil fokus menatap ke layar monitor, dokter kandungan yang mengecek kandunganku menanyakan beberapa hal, termasuk kapan hari pertama siklus bulananku yang terakhir, tanggal dan bulan datangnya menstruasiku sebelum kehamilanku ini.


Sambil mengingat-ingat, aku menjawab, "Rasanya... sekitar tanggal dua puluhan, Dok." Lalu aku menoleh ke kalender di dinding yang waktu itu tepat pada tahun 2016, sambil mengingat-ingat dan mengira-ngira, aku pun ingat waktu itu aku menstruasi pas hari jumat. "Kalau tidak salah tanggal dua puluh dua April," kataku.


Dokter mengangguk-angguk, setelah menginput data-dataku ke komputer, ia menjelaskan kepada kami mengenai kandunganku sesuai yang ditampilkan di layar monitor. Benar, aku positif hamil. Dan aku, juga Mas Ilham, sama-sama tersenyum semringah. Jelas, kami berdua sangat bahagia atas kehamilanku.


Setelah selesai dengan pemeriksaan rahimku, aku dan Mas Ilham kembali duduk di hadapan dokter. Dengan sebuah buku kecil di tangannya, dokter menuliskan beberapa hal sambil menjelaskan bahwa usia kandunganku sudah jalan minggu ke tujuh. Tepatnya enam minggu tiga hari jika tanggal perkiraan menstruasiku yang kusebutkan tadi sesuai dan tidak meleset.


Praktis aku terkejut. "Enam minggu, Dok? Kok bisa? Kami baru menikah satu bulan."

__ADS_1


Ya Tuhan, aku yang kala itu tidak mengerti cara menghitung usia kandungan benar-benar kaget, lebih tepatnya takut dan cemas. Aku takut kalau Mas Ilham akan berpikir yang tidak-tidak: takut kalau ia mengira bahwa aku sudah hamil sebelum dia menikahiku.


Dokter tersenyum, lalu ia menjelaskan kepada kami, "Iya, Bu," katanya. "Kalau menghitung usia kehamilan itu menggunakan minggu bukan bulan, dan menghitungnya itu dari hari pertama Ibu menstruasi terakhir kali, jadi wajar saja kalau usia kehamilan Ibu sekarang ini sudah jalan enam minggu tiga hari."


Aku mengangguk, meski di hati sama sekali belum tenang. Dan praktis aku menoleh kepada Mas Ilham. Dia mengerti akan kekhawatiranku, jadi dia hanya tersenyum sambil menggenggam tanganku erat-erat. "Kami paham, Dok," kata Mas Ilham.


Entah berapa menit kemudian, Mas Ilham menerima secarik kertas resep obat dan vitamin untukku, berikut buku kecil yang mesti kubawa jikalau aku mengecek kandunganku lagi di klinik itu.


"Santai, Sayang. Rileks," tegur Mas Ilham saat kami sudah berada di luar ruangan dokter. "Jangan khawatir, ya. Oke?"

__ADS_1


Aku pun mengangguk, masih terdiam tanpa suara. Kubiarkan Mas Ilham terus menggenggam tanganku dan menggandengku ke apotek. Sesampainya di sana, Mas Ilham menyerahkan resep obat itu ke penjaga apotek, dan di saat itulah kami mulai membahas perihal usia kandunganku yang pasti akan merembet ke banyak hal seandainya Mas Ilham meragukan kehamilanku.


"Aku mengerti, aku paham penjelasan dokter," tutur Mas Ilham lebih dulu -- membuka percakapan di antara kami.


Tak terasa, mataku berkaca. Aku menghambur ke pelukan Mas Ilham. Membiarkan air mataku mengalir dan menunggu lidahku yang terasa kelu ini kembali luwes untuk bicara. Aku mesti menenangkan diriku dan mencerna segalanya. Bukan, bukan aku tidak bisa memahami apa yang dijelaskan oleh dokter, tetapi lebih ke -- ini bagaikan ujian baru lagi bagiku. Ujian yang sama -- tentang kepercayaan Mas Ilham terhadapku: kepercayaan yang sudah berkali-kali diuji, bahkan sejak hari pertama pernikahan kami.


Akankah kami selalu sanggup melewati badai yang datang menerpa? Benarkah Mas Ilham memercayaiku seperti yang ia katakan?


Untuk sejenak aku seolah tidak bersyukur atas kehamilanku yang seakan terlalu cepat. Sungguh, anugerah ini, sekaligus menjadi ujian bagi kami.

__ADS_1


__ADS_2