
Hari ini Mas Ilham belum salat magrib plus isya di masjid. Dia masih ingin mengimami salatku di rumah. Lagipula aku belum terbiasa sepenuhnya di rumah baruku itu, aku masih ngeri kalau mesti ditinggal sendirian, belum lagi siang tadi aku dihadapkan dengan sedikit gangguan dengan datangnya anggota kepolisian yang membuatku sport jantung. Ngeri.
Malam itu, setelah salat isya, Mas Ilham mengajakku makan malam. Masih ada ayam bakar dan sambal penyet sisa tadi siang yang dibawakan lebih oleh Mbak Indah. Jadi makan lauk itu saja kata Mas Ilham. Sebab, sore itu, sewaktu aku bertanya dia kepingin makan apa, Mas Ilham bilang kalau istrinya ini tidak perlu memasak makan malam. Cukup panaskan lauk yang masih ada.
Sore itu Mas Ilham juga mengatakan kepadaku bahwa dalam menu makanan yang mesti kusiapkan, tidak mesti mencerminkan kesederhanaan, masak saja apa yang kepingin kumasak, selagi dia mampu mencari rizki untuk kami dan kami tidak memaksakan diri, aku boleh membeli apa pun dan boleh memasak apa pun. Hemat perlu, tapi tidak boleh pelit terhadap diri sendiri. Namun, aku juga tidak boleh berlebihan, tidak boleh berfoya-foya, plus tidak boleh mubazir.
"Artikan itu dengan bijak," katanya.
Duuuh... halus, ya? Intinya mesti bijak, deh! Gitu aja!
"Dan, seperti yang telah kita sepakati di awal perkenalan kita waktu itu, kita mesti selalu terbuka terhadap satu sama lain. Tidak ada yang boleh ditutupi, apa pun itu. Apa pun, tanpa terkecuali."
Kata-kata Mas Ilham memicu ingatanku tentang pesan whatsapp dari Mas Imam tadi siang, aku belum memberitahukan hal itu kepadanya. Jadi...
"Apa termasuk hal seperti ini?" tanyaku, kusodorkan ponselku kepadanya.
Dengan fokus, Mas Ilham membaca pesan itu, dan dia berterima kasih karena aku sudah terbuka kepadanya. "Tapi kamu tidak memikirkan soal ini lagi, kan? Jangan biarkan hal ini membebani pikiranmu." Mas Ilham menutup ponselku dan mengembalikannya kepadaku.
Aku mengangguk. "Tidak akan," kataku sedikit berdusta. Karena dalam benakku aku yakin kalau Mas Imam mungkin tidak akan berhenti dengan kelakuan-kelakuannya yang meresahkan itu. Tak bisa kupungkiri, obsesi Mas Imam terhadapku membuatku merasa ngeri.
Ah, untuk apa juga aku memikirkan hal itu? Kuputuskan untuk mengubah topik pembicaraan.
"Mas, ingat tidak dengan janji kita mau membahas soal jawaban istiqharahmu? Kamu bilang mau bahas itu sebelum... malam pertama kita. Tapi nyatanya kamu langsung nyosor juga."
Praktis Mas Ilham terkikik. "Situasinya begitu, sih. Jadinya langsung. Bagaimana bisa aku menolak istriku yang sudah siap sedia mengajakku menunaikan kewajiban? Mencari pahala kan memang mesti disegerakan."
Uuuh... Mas Ilham membuatku merona. "Kamu ini, ya... kemarin malam kan aku tidak bilang apa-apa. Kamu saja yang tahu-tahu mau menggendongku dan membawaku ke kamar."
"Memangnya aku mesti mengartikan apa lagi kalau di malam pengantin itu istriku yang berhijab sudah melepaskan jilbabnya di depanku? Itu kan sama saja kamu memberikan kode 'cari pahala, yuk?' -- mana mungkin aku menolaknya, ya kan?"
Dan kali ini jemariku kembali kehilangan kemampuannya. Rasa malu sekaligus rasa geli di dalam diri membuatku memerah, namun aku juga tak bisa berhenti tertawa. Kulepas sendokku dan aku menutup wajah. Memang itu tujuanku kemarin malam, kan?
"Cari pahala, yuk?"
__ADS_1
Eh?
"Bercanda kamu, Mas. Habiskan dulu makanan ini kalau memang mau. Kan tidak boleh mubazir."
Ckckck! Menang!
"Hmm... yang sudah pintar mengembalikan kata-kataku. Awas saja setelah makanan ini habis."
Iyuuuh... aku terkikik geli. "Dijedah dulu, dong, Mas...," rengekku. "Makanannya diturunin dulu. Masa mau langsung?"
"Mau bagaimana lagi? Hanya dengan melihatmu, hasratku tak tertahan, Zahra."
Aku mendelik. "Kan, kan... mulai deh gombal...! Kita kan mesti membahas soal jawaban istiqharah itu dulu. Aku penasaran, tahu!"
"Oke, nanti, ya. Di kamar saja. Habiskan dulu makananmu."
Haddeh! Alamat ditunda lagi ini mah. Di kamar nanti Mas Ilham pasti bakal langsung menyambarku dengan ganas dan liar. Dia akan bertingkah seperti hewan buas yang sedang kelaparan.
Dan itu benar, kalau saja aku tidak pandai menggunakan kesempatan, entah kapan jawaban istiqharahnya itu berhenti membuatku penasaran.
"Cepatlah, Sayang," bisiknya, lalu ia mengecup tengkuk leherku.
Argh! Dia membuatku merinding.
"Bagaimana bisa cepat selesai kalau kamu mengganggu konsentrasiku? Kalau aku gagal fokus, bisa pecah semua perabotan ini, Mas."
Tak ada sahutan. Sebaliknya, aku mendapatkan satu gigitan plus *sapan manis darinya yang juga bermulut manis. Tepat di tengkuk leherku.
Eummmmm... enak, sih. Nikmat. Ada rasa geli-geli yang gimanaaaaa gitu. Geli-geli tapi asyik.
"Mau kubantu?" tanyanya yang berbicara di leherku.
Ya ampun... sengajanya dia mengembuskan napas hangat itu ke kulit leherku.
__ADS_1
"Tidak perlu," kataku seraya memegang piring di tanganku erat-erat dan mencucinya, sehingga beberapa menit kemudian, cucian piring yang sebenarnya hanya sedikit itu beres juga. Lalu...
Edan! Mas Ilham langsung menggotongku di pundaknya dan membawaku ke kamar. Aku memekik heboh dibuatnya.
"Kamu kan punya janji mau jawab pertanyaanku. Dosa, lo, menunda-nunda janji begitu. Aku tidak ikhlas dan merasa diremehkan."
Ck! Berhasil, dan untungnya Mas Ilham tidak tersinggung.
"Hmm... lebih dosa menolak suami, lo, Sayang."
"Siapa yang menolak? Aku bukannya menolak."
"Ya sudah kalau begitu--"
"Tapi kan ada yang mesti diurutkan dan didahulukan, Mas. Kalau kita bercinta habis-habisan seperti orang sakit jiwa, nanti pasti capek dan kepingin langsung istirahat. Janjimu jadi molor lagi. Begitu saja terus."
Well, Mas Ilham mengalah. "Tapi sambilan, ya. Buka dulu...."
Ampuuun... hahaha! Dasar edaaaaan...!
Mas Ilham menarik-narik gaun tidurku hingga aku mengalah. Dia merasa puas berhasil membuatku polos, lalu ia pun memoloskan dirinya sendiri.
"Sini...," pintanya, ia memintaku merapatkan diri di dalam dekapannya, di dalam selimut, dengan tangannya yang bergerilya nakal. Dia tak henti meraba-rabai tubuhku.
Well, biarkanlah. Toh, dia pengantin baru yang sedang edan-edannya. "Jadi, apa jawabannya? Bagaimana kamu bisa yakin kalau aku adalah jawaban istiqharahmu? Hmm?"
"Mudah saja," kata Mas Ilham. "Siang itu Abi menyampaikan niatannya untuk menjodohkan aku dengan anak kenalannya. Dia memberitahuku namamu, lalu Umi memberitahuku tentang hal-hal lainnya, tidak terkecuali tentang ketidakbersediaanmu bertemu denganku. Tapi, Umi memintaku untuk istiqharah dulu selama masa menunggumu untuk mengiyakan pertemuan itu. Sebab itu aku istiqharah lebih dulu walau kita belum bertemu. Dan... paginya, setelah salat subuh, aku membuka televisi. Persis di saat acara siraman rohani baru dimulai. Dan kamu tahu apa temanya? Salsabila, Mata Air Surga."
Masyaallah, aku berdecak kagum mendengarnya.
"Tapi...," kata Mas Ilham melanjutkan, "aku tidak serta merta percaya begitu saja. Siapa tahu itu hanya kebetulan. Jadi, besok malamnya aku istiqharah lagi. Dan yang kedua ini masyaallah. Besok paginya Mbak Indah mampir ke rumah. Demi Allah, dia belum tahu perihal perjodohan itu. Karena memang, selain memberitahuku, Abi dan Umi tidak pernah memberitahukan siapa pun setiap mereka berniat menjodohkan aku. Dan... kamu tahu, pagi itu Mbak Indah baru saja pulang dari cek kandungan di rumah sakit. Katanya, hasil USG-nya menunjukkan inshaallah janinnya perempuan, lalu dia mengatakan kalau dia sudah menyiapkan nama untuk calon anaknya. Salsabila Azzahra."
Hah? Aku tercengang tak percaya.
__ADS_1
Lalu Mas Ilham menatapku dalam-dalam. "Demi Allah, Zahra, bagaimana aku tidak yakin bahwa kamu adalah jawaban istiqharahku -- kalau pada saat mendengar nama itu -- demi Allah, hatiku berdebar begitu hebat. Aku bisa merasakan kalau kamulah orangnya."