
"Saya terima nikah dan kawinnya Salsabila Azzahra binti Muhammad Siddiq dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Alhamdulillah. Aku mengembuskan napas yang tanpa sadar telah kutahan sedari tadi. Setelah kata sah dari para saksi terucap, ada kelegaan yang begitu besar kurasakan dalam tetes air mata. Namun rasa gugupku tetap tak bisa berkurang. Terlebih, setelah Mas Ilham berbalik menghadapku yang duduk di belakangnya, kegugupan yang kurasakan bukan lagi dalam wajah pucat seperti anemia, melainkan -- aku tak bisa mengendalikan senyumanku yang terus mengembang setelah mata kami bertemu pandang. Sungguh, siang itu, mungkin aku dan Mas Ilham menjadi pasangan pengantin yang paling konyol yang pernah ada. Senyum kami sama sekali tidak bisa ditahan. Semakin aku mengulum senyumku, semakin bibirku hendak merekah bersamaan dengan pipiku yang semakin merona. Bukan hanya senyuman, jemariku bahkan tak henti bergetar saat Mas Ilham menyentuh tanganku dan menyelipkan cincin kawin ke jari manisku. Pun sebalikya, saat aku menyelipkan cincin ke jari manis Mas Ilham, nyaris saja aku menjatuhkan cincin itu karena rasa nervous yang sulit kukendalikan. Setelahnya, rasa gugup itu malah semakin jadi saat aku mencium punggung tangan Mas Ilham dan ia mencium keningku. Ciuman pertamanya, yang membuatku gemetar, seperti ada sengatan listrik yang menyetrumku dari dalam.
"Aku mencintaimu. Terima kasih sudah bersedia menjadi pasangan halalku," bisik Mas Ilham saat itu, di depan banyak orang di sekeliling kami. "Demi Allah, Zahra, kamu sangat cantik. Kamu adalah bidadari yang dikirimkan Allah khusus untukku."
Ya Allah, kepingin nangis saking harunya. Aku sekarang sudah menjadi istrinya, dan aku suka akan pujiannya. Pujian seorang suami kepada istri yang ia cintai. Dan, pernikahan ini, sesuatu yang tak pernah kusangka, aku bisa jatuh cinta dan menikah dengan seseorang yang -- belum dua bulan aku mengenalnya. Dan rasa haru-biru itu semakin menguasaiku tatkala aku dan Mas Ilham sungkeman kepada keempat orang tua kami. Bahagiaku sempurna, aku menikah dengan lelaki yang kucintai dan yang mencintaiku, plus dengan doa dan restu dari kedua orang tua kami masing-masing.
Terima kasih atas anugerah istimewa ini, ya Allah. Terima kasih.
Aku beruntung, aku terhindar dari kekeliruan. Terhindar dari pernikahan tanpa restu. Terhindar dari pernikahan yang terpaksa karena dipaksa, ataupun yang terpaksa direstui oleh kedua orang tuaku -- yang aku yakin, pastilah kebahagiaannya tak akan sesempurna seperti yang kurasakan saat ini.
__ADS_1
Terima kasih hati, karena kau tak salah memilih.
Dan saat itu aku yakin sepenuhnya: apa pun yang akan terjadi di dalam pernikahan kami suatu hari nanti -- itu adalah suatu ketidaksempurnaan dari diri kami sendiri, baik dari aku ataupun dari diri Mas Ilham sendiri, dan, sama sekali bukan kesalahan dalam mengambil keputusan di awal pernikahan.
Yap, pernikahan ini diselenggarakan di masjid pesantren, pada hari kamis, jam dua siang. Setelah akad yang khidmat itu, prosesi acara pernikahan kami dilanjutkan di gedung aula, dengan dekorasi sederhana dan menawan: ada banyak bunga berwarna-warni yang menghiasi ruang berlatar serba putih itu. Prosesi sederhana yang diisi dengan pengajian dan ceramah seputar pernikahan. Setelahnya, sebagaimana acara pernikahan pada umumnya, berupa sesi foto dan ucapan selamat dari para tamu yang menghampiri kami di pelaminan, diiringi latar musik-musik islami. Abi mau mengalah dalam hal ini, ia tak melarang keinginanku yang meminta lagu-lagu pop dalam romansa religi sebagai latar belakang beberapa sesi acara, termasuk di akhir acara yang ditutup dengan santap sore bersama, di mana setelah itu lambat laun para tamu undangan mulai berkurang ketika azan asar berkumandang.
Lega rasanya, pada pukul setengah lima sore, setelah tidak ada lagi tamu-tamu yang hendak bersalam-salaman dengan pengantin, aku dan Mas Ilham bisa segera meninggalkan tempat. Sebelum ia membawaku pulang ke rumah kami sendiri, kami pulang dulu ke rumah Abi untuk berpamitan kepada kedua orang tuaku. Secara pribadi, Mas Ilham hendak meminta keikhlasan Abi dan Umi untuk membawaku bersamanya, tinggal berdua di rumah kami sendiri, sedang aku diminta duluan ke kamar untuk bersih-bersih, berganti pakaian, dan salat asar.
Tidak tahu bagaimana dan apa saja yang mereka bicarakan, Mas Ilham menyusulku ke kamar bahkan sebelum aku selesai mandi. Aku sampai kaget ketika keluar dari kamar mandi, aku melihat ia duduk di ujung tempat tidurku. Meski terbalut handuk, aku spontan melompat masuk lagi ke kamar mandi dan menutup pintu. "Kamu bisa keluar dulu, tidak? Aku tidak membawa pakaian ganti...," seruku dengan gugup.
Tarik napas, Zahra... jangan nervous, oke?
__ADS_1
Kuberanikan diri membuka pintu dan melihat Mas Ilham yang sekarang berdiri tepat di hadapanku. Handuk yang tadinya kupakai untuk membungkus rambutku, kini kugunakan untuk membungkus kepala, dan menutupi pundak, leher, hingga ke dadaku.
Tak pelak, melihatku seperti itu, Mas Ilham malah jadi cekikikan. "Kita sudah halal, Sayang...," ujarnya.
"Iya, aku tahu. Tapi kan rambutku belum disisir. Aku malu...," sanggahku dengan alibi yang kutahu itu kurang tepat. Tapi mau bagaimana lagi? Hiks!
Sambil menahan tawanya, Mas Ilham berkata, "Ya sudah, cepat berpakaian, sisir rambut, dan pakai mukena. Tunggu aku, ya. Kita salat berjamaah."
Aku mengangguk. Kemudian, dengan handuk kecil dan pakaian ganti di tangannya, Mas Ilham masuk ke kamar mandi. Dan setelah itu, sesuai rencana, setelah berpakaian, menyisir rambut, aku mengenakan mukena. Setelah Mas Ilham menyelesaikan mandinya, kami pun salat asar berjamaah. Salat pertama kami sebagai pasangan halal, suami istri yang sah. Salat pertamaku sebagai makmumnya, dan ia menjadi imamku. Salat pertamaku -- yang diimami seorang Ilham.
Jujur saja aku tidak mengerti salat apa saja yang kami lakukan selain salat asar, bahkan doa-doa apa yang dipanjatkan oleh Mas Ilham aku juga tidak tahu. Aku hanya mengikuti setiap gerakan salatnya, dan mengaminkan setiap doanya. Toh, dia sudah menjadi imamku, dan setiap doanya, pastilah doa yang terbaik untuk pernikahan kami yang suci.
__ADS_1
Selesai salat itu, Mas Ilham membalik badan menghadapku. Dengan duduk bersilah dan sambil tersenyum, ia langsung meraih dan menggenggam tanganku, dan sesi tersenyum-senyum seperti tadi sekarang terulang lagi. Bahkan, dadaku serasa kembang-kempis menyadari tatapannya yang menusuk. Ya Tuhan, hatiku malah jadi berdebar tak karuan. Aku nervous lagi.
Terima kasih Umi, terima kasih Abi, aku bahagia -- sangat-sangat bahagia. Demi Allah, aku mencintai Mas Ilham.