Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Ketika Tuhan Menguji


__ADS_3

Mas Farid segera menggendong Laili dan membawanya ke mobil, sementara Mas Ilham merangkulkan tangannya di sekeliling bahuku dan memaksaku untuk keluar dari sana, khawatir kalau-kalau aku kembali menggilas belalai makhluk yang sudah tidak berdaya itu. Dan itulah yang sebenarnya ingin kulakukan.


Dalam waktu yang cepat, tetangga-tetangga yang curiga setelah mendengar jeritan demi jeritan segera berkerubung di depan rumah. Dengan bantuan warga sekitar pula, Pak Sobirin digelandang ke kantor polisi. Sementara kami segera membawa Laili ke klinik terdekat untuk mengambil tindakan. Takutnya hal buruk itu sudah benar-benar terjadi dan mesti dilakukan antisipasi. Sesampainya di klinik, dengan sigap Mas Farid menggendong lagi tubuh Laili dan membaringkannya di ruang pemeriksaan. Setelah dokter menerima konfirmasi apa yang terjadi pada pasien baru itu, ia pun lekas masuk ke ruang pemeriksaan untuk mengecek keadaan Laili.


Masih dengan bersimbah air mata, aku dan Laila hanya bisa berpelukan. Berharap yang terbaik, namun juga pasrah dalam kecemasan. Sedang di dalam dada, amarah dan kebencian terhadap lelaki biadab itu masih memburu dengan begitu dahsyatnya.


Tetapi, syukurlah, dari pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter terhadap Laili, gadis malang itu dinyatakan dalam kondisi baik. Selaput darahnya masih utuh. Dia masih perawan. Tapi, tentunya ini akan mengganggu psikisnya, dari semenjak datang ke Rembang kemarin, dia bahkan cenderung pendiam dan banyak melamun.


Dan sekarang, setelah Laili sadar, dia tak henti menangis dan masih ketakutan.


"Tenang...," kataku. "Laili tidak apa-apa. Pak Sobirin belum sempat nyentuh kamu, kok. Ya? Percaya pada Mbak. Kamu baik-baik saja. Kamu masih perawan, Sayang."


Laili mengangguk-angguk, masih bersimbah air mata dan gemetar. "Bawa Laili ke Rembang, Mbak. Laili takut di sini."


Aku balas mengangguk, tapi sayang tak bisa secepat itu. "Kamu dengarkan Mbak, ya," kataku seraya memegangi bahu dan menatap fokus kedua matanya. "Kita bisa pulang ke Rembang nanti, setelah kamu memberikan keterangan kepada polisi."


"Polisi? Dia ditangkap polisi?


"Ya."


"Syukurin! Biar membusuk dia di penjara."


"Ssst... tenang, oke? Tenang. Dia sudah dipenjara," ulangku. "Sebab itu kamu harus memberikan keterangan supaya dia dijatuhi hukuman yang setimpal. Oke, Sayang? Kamu paham?"


Dia hanya mengangguk-angguk. Tapi ada antusias yang menyala dari dalam dirinya. "Dia mesti dihukum! Kalau bisa kebiri saja sekalian. Lelaki biadab! Dia ndak pantas jadi seorang bapak."

__ADS_1


"Ya, Sayang. Pokoknya Laili harus kuat. Harus tegar. Bisa?"


Sambil mengusap air matanya, gadis remaja itu mengiyakan. "Ayo, Mbak, kita ke kantor polisi sekarang."


Aku lega. Gadis itu tak menuruti rasa traumanya. Mungkin karena belum terjadi kerusakan fisik pada dirinya. Namun, aku merasa ada sesuatu yang mendorongnya kuat dari dalam, seperti dendam. Dia ingin ke kantor polisi saat itu juga. Bahkan, ia menolak untuk makan siang dulu. Dia keukeuh untuk menuntut keadilan atas dirinya, secepatnya.


Dan, seusai pemeriksaan di kantor polisi itu, rasa penasaranku pun terjawab tatkala Laila yang menemani Laili di ruang pemeriksaan keluar dalam keadaan menangis. Kepada polisi, Laili memberikan keterangan kalau apa yang terjadi pada dirinya hari ini, adalah kali ketiga Pak Sobirin melecehkannya.


"Laila bersalah, Mbak." Dia menangis sesenggukan. "Laila ndak tahu apa yang terjadi pada Laili sebelumnya."


Aku mengernyit, bingung. "Jadi yang kemarin itu bukan yang pertama? Yang kamu pergoki itu, itu bukan yang pertama?"


Laili, yang tadinya dipenuhi semangat untuk mendapatkan keadilan, kini bukannya lega sepenuhnya, tapi ia malah mesti menelan rasa malu juga. Dia menyembunyikan wajahnya dari semua orang.


Buah simalakama. Tidak jujur dan menutupi fakta, maka dia akan merasa sesak sendiri jika pelaku tidak mendapatkan hukuman yang setimpal. Namun, setelah jujur pun, bukan kelegaan yang ia dapatkan sepenuhnya, justru juga mendapatkan rasa malu.


Aku yang mengira cerita itu hanya sebatas itu, malah mengembuskan napas lega dan langsung mengucap hamdalah. "Syukurlah dia ndak maksa. Pemeriksaan dokter tadi tidak mungkin salah, kan?"


"Tapi lelaki biadab itu memaksa Laili, Mbak."


"Lo, maksudnya bagaimana, Laila? Kan Laili...."


"Aku dipaksa ngor*l, Mbak."


Ya Allah, sakiiiiit sekali hatiku mendengar pengakuan Laili. Takdir ini terlalu kejam untuk anak seusianya.

__ADS_1


"Aku ndak bisa menolak. Dia pegang pisau. Aku takut. Aku pengecut. Sekarang aku malah merasa kotor. Mulutku kotor. Aku jijik bahkan pada tanganku sendiri."


Mataku terpejam. Hatiku berang. Mestinya tadi Mas Ilham jangan menghalangiku. Belalai tak beradab itu sudah semestinya dirusak sampai benar-benar tak berfungsi lagi.


Tapi sekarang aku bisa apa? Aku hanya bisa menangis bersama kedua gadis kembar itu. Dan hanya bisa berkata -- kata-kata yang mungkin tak ada pengaruhnya.


"Mbak paham kalau kamu merasa kotor. Hal itu memang pengalaman yang sangat buruk. Tapi semua yang sudah terjadi jangan sampai membuatmu terpuruk. Mbak mohon, kamu masih punya masa depan. Yang kuat, ya. Janji?"


Mas Ilham dan Mas Farid, dari mulut mereka biasanya keluar nasihat-nasihat bijak. Tapi kali ini mereka pun hanya bisa terdiam. Yah, lagipula memang bukan ranahnya. Kadang diam itu emas.


"Sebentar lagi masuk waktu zuhur, kita salat dulu," kata Mas Ilham.


Mas Farid pun bangkit. "Kalian berdua bergantian saja. Jangan tinggalkan Laili sendiri."


"Aku mau mandi saja," kata Laili cepat. "Aku mau salat juga."


Mas Farid mengangguk, lalu ia menoleh ke Mas Ilham. "Kita juga sebaiknya bergantian saja, Mas. Mas Ilham monggo duluan."


Tapi Mas Ilham menolak. Dia menyuruh Mas Farid untuk salat duluan. Dia hendak bicara dulu denganku katanya. Mas Farid pun ke musalla duluan. Sedang Laila menemani Laili mengambil handuk dan pakaian ganti di mobil.


"Mau bicara apa, Mas?" tanyaku membuka percakapan. Aku masih sibuk mengatasi emosiku sendiri, juga air mataku. Aku benar-benar tidak bisa melihat penindasan kaum lelaki terhadap kaum perempuan. Apalagi itu terjadi di dalam ruang lingkup keluargaku sendiri.


Mas Ilham menggeleng. "Aku cuma mau bilang kalau aku sangat bangga padamu. Teruslah kuat, ya. Mereka berdua membutuhkanmu. Kamu yang mesti lebih tegar. Inshaallah, kekuatanmu bisa menjadi kekuatan untuk mereka juga. Tanamkan pada mereka, bahwa musibah itu bukan untuk diratapi. Justru sebaliknya, jadikan musibah itu untuk membuat kalian semua menjadi pribadi yang lebih kuat. Semuanya akan baik-baik saja, Zahra. Ada aku bersamamu. Dan kita akan selalu ada untuk mereka."


Aku mengangguk. Aku percaya kekuatan itu ada di dalam diri kita sendiri. Dan inshaallah, aku akan terus kuat dan menguatkan mereka. Dan aku juga akan berusaha supaya kedua anak yatim itu memiliki masa depan yang cemerlang.

__ADS_1


Aku yakin mereka mampu melewati semua kesulitan ini. Aamiin....


__ADS_2