
Jujur, sempat terbesit dalam pikiranku bahwa anak itu benar-benar anaknya Mas Ilham. Namun aku lekas-lekas menepisnya.
Aku tidak boleh terpengaruh. Tidak boleh. Mas Ilham tidak mungkin berzina, dalam keadaan terpaksa sekalipun tidak akan mungkin, apalagi tidak sengaja.
Tapi walau bagaimanapun juga dia manusia biasa, Zahra, kata suatu suara di benakku.
Duuuh... setan, jangan pengaruhi aku. Kulafalkan istighfar di dalam hati.
"Sabar," bisik Mas Ilham.
Aku mengangguk. Dan di sampingku, Mbak Indah merangkulkan tangannya di pundakku. "Ayo, kita masuk."
"Oh, ini istrinya Mas Ilham, ya?" tanya ibu berbaju putih. "Cantik, ya. Pasti Mia senang sekali punya ibu sambung kayak Mbaknya."
Oh, hatiku mencelos. Nama anak itu Mia. Pasti Islamia, seperti nama almarhumah ibunya, pikirku. Dan aku dianggap sebagai ibu sambung untuknya.
Sabar... Mas Ilham pasti punya penjelasannya, Zahra. Kalaupun semua yang kudengar ini adalah kebenaran, toh, itu adalah bagian masa lalu Mas Ilham. Tapi tidak, Mas Ilham menjaga betul dirinya dari perbuatan maksiat. Dia tidak mungkin berzina. Seperti yang dia jelaskan dulu, Islamia mengalami pemerkosaan, dan bukan hamil karena Mas Ilham. Aku harus percaya padanya. Harus.
__ADS_1
Tanpa sadar, aku sudah melangkahkan kakiku dan sudah mencapai teras depan rumah Umi Windari. Rupa-rupanya beliau sedang di dalam kamar mandi, membersihkan si kecil yang baru saja pup di pampersnya.
Setelah beres dengan si kecil, Umi Windari pun cepat-cepat menjawab salam dari belakang -- supaya kesannya di rumah itu ada orang dan tamu tidak keburu pergi karena mengira rumah itu kosong.
"Maaf, Nak," kata beliau setelah membuka pintu. "Umi lagi sibuk di belakang. Si kecil pup."
Semua orang tersenyum. Lalu, menuruti Mbak Indah yang mencium hormat tangan Umi Windari lalu cium pipi kanan dan cium pipi kiri, aku pun melakukan hal demikian, dan kami berkenalan. Aku ingat, si ibu dan anak kecil itu ada di resepsi pernikahan kami waktu itu. Masih terngiang dalam ingatanku kalau waktu itu si Mia kecil menangis rewel karena kepanasan di tengah-tengah keramaian. Si kecil yang cantik. Dia lucu dan imut. Rambutnya panjang, berkulit putih, ada lesung pipi di pipi kanan dan pipi kirinya. Setelah besar nanti, dia pasti akan menjadi gadis yang cantik, secantik almarhumah ibunya.
"Ayo, monggo masuk," kata Umi Windari mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya, lalu beliau permisi ke dapur untuk menyediakan minuman dan camilan, disusul oleh Mbak Indah, sementara Mas Muslim menyibukkan diri dengan Mia.
Dan sekarang, aku hanya berdua dengan Mas Ilham, duduk di ruang tamu.
"Apanya?" tanyaku balik, suaraku gemetar.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?"
Aku menggeleng. "Lebih baik aku menunggu penjelasan saja," kataku.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi sebelum kujelaskan, aku ingin mengajukan pertanyaan lebih dulu."
Mataku kembali berkaca. "Apa?" tanyaku.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang? Kamu percaya padaku, atau...?"
Kali ini aku mengangguk. "Tidak bisa kupungkiri, Mas," kataku. "Mau tidak mau terbesit pemikiran... ya... pemikiran yang negatif."
"Kamu tidak percaya padaku?"
Entah, tapi aku menggeleng. "Hatiku ingin percaya. Tidak tahu kenapa, aku ingin percaya pada Mas. Dan aku cenderung percaya. Aku harap aku benar, Mas."
"Alhamdulillah."
"Em."
"Tapi...."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Kenapa kamu tidak bisa percaya kepadaku seutuhnya, seperti rasa percayaku kepadamu yang tidak bercelah sedikit pun? Kenapa?"