
"Kita akan bahas hal ini nanti, setelah mengantarkan semua undangan," kata Mas Ilham seraya memasang sabuk pengaman. Dia pun memutar kunci kontak dan melajukan mobilnya.
Aku hanya mengangguk, Laila dan Laili yang duduk di belakang juga tidak mengatakan apa pun. Kami sama-sama tahu kalau hal ini adalah urusan pribadi di antara kami berdua dan tak mesti dibahas di depan orang lain, termasuk di depan kedua sepupuku itu.
Sesuai rencana, setelah mengantarkan semua sisa undangan tanpa sisa, Mas Ilham membelokkan mobilnya ke pelataran parkir sebuah kedai es krim.
"Dik, Mas Ilham mau mengobrol dengan Mbak Zahra, ya. Kalian nanti duduknya di meja lain tidak apa-apa, kan?"
Mereka berdua mengangguk paham. "Iya, Mas," kata Laila.
"Oke. Thanks, Ladies. Kalian boleh pesan apa pun di dalam. Jangan malu-malu."
Laila dan Laili berusaha menyunggingkan senyum, dan mereka sudah membuka pintu dan hendak keluar ketika Mas Ilham mencegat tanganku. Dapat kurasakan cengkeraman tangannya yang kuat saat jemarinya melingkar di lenganku: makna tersirat, dan sama sekali bukan untuk menyakiti.
"Kita bicara baik-baik, ya? Tolong? Aku tidak ingin kehilanganmu, Zahra."
Aku mengangguk, dan lekas membuka pintu di sampingku saat Mas Ilham melepaskan tangannya dariku.
Di dalam kedai, Mas Ilham memesankan es krim cokelat untukku dan rasa vanila untuk dirinya sendiri, serta membebaskan Laila dan Laili memilih pesanan mereka sendiri. Kemudian, dia sengaja menunggu es krim kami terhidang baru ia membuka suara.
"Cokelat bisa membuatmu rileks," katanya.
"Bisa langsung ke intinya saja, Mas? Please?"
"Sayang...," katanya lembut. "Jangan salah paham. Memang, antara aku dan temanmu tadi -- kami pernah berkenalan, seperti perkenalan kita waktu itu. Tapi di pesantren. Makanya aku tidak tahu kalau itu tadi rumahnya. Sumpah, aku bahkan lupa namanya walaupun masih ingat pada wajahnya. Tolong, ya, percaya padaku. Pihak keluargaku sudah mengkonfirmasi kepada H. Junaidi kalau kami tidak menerima perjodohan itu. Demi Allah. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya langsung pada Umi. Atau mau kuteleponkan sekarang?"
Praktis aku menggeleng. Masa aku mesti bertanya langsung pada ibunya?
"Tidak usah, Mas," tolakku.
Aku tahu, dengan mudah aku bisa percaya pada penjelasan Mas Ilham. Tidak mungkin juga Kiai Rahman akan mempertaruhkan kehormatan keluarganya dengan menggantungkan jawaban atas perjodohan antara anaknya dan seorang gadis yang mengharapkan cinta dari anaknya itu. Tapi bukan itu masalahnya.
"Katakan kalau kamu percaya padaku, Zahra?" Dia menatapku teramat dalam. Menyampaikan harapan.
Aku pun mengangguk. "Aku percaya," kataku. "Tapi, seperti yang kita lihat tadi, Yunita begitu mengharapkanmu, Mas."
"Maaf, tapi itu diluar hak dan kuasaku untuk memutus harapannya. Hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati, bukan aku. Aku hanya bisa menyampaikan -- maaf, penolakanku atas perjodohan itu. Dan aku berhak untuk itu. Aku berhak menentukan untuk menerima perjodohan itu atau tidak. Aku memiliki kebebasan mutlak untuk memilih. Bahkan, Abi dan Umi tidak pernah memaksaku."
Lagi. Aku mengangguk. "Aku tahu," jawabku. "Dan masalahnya bukan itu, Mas."
__ADS_1
"Lalu apa?"
Aku menunduk. "Terus terang, Mas, yang kutakutkan di sini cuma satu, dengan adanya perempuan lain yang mengharapkanmu, aku takut nanti kamu akan berpoligami. Aku--"
"Zahra... inshaallah, aku bukan lelaki yang seperti itu. Aku akan cukup hanya dengan satu perempuan. Satu istri sampai mati. Tolong jangan meragukanku, Zahra."
Hmm... sebegitu yakinnya dia. Bukankah kemungkinan itu akan selalu ada?
"Kalau nanti kamu berubah?"
"Inshaallah tidak."
"Kalau iya?"
"Mungkin saja kalau kamu ikhlas." Dia nyengir.
"Aku tidak akan pernah ikhlas, Mas...," rengekku.
"Itu berarti aku tidak akan pernah berpoligami, Sayang."
Aku merengut. "Tetap saja ada kemungkinan."
Aku hanya takut. Kuseka air mata yang menggenang. Aku benci menjadi seorang anak yang tumbuh besar sebagai korban masa lalu. Mestinya aku bisa hidup normal tanpa bayang-bayang air mata Umi yang kusaksikan hampir setiap malam.
"Dengarkan aku," sambung Mas Ilham. "Keikhlasan seorang istri itu sangatlah penting, karena kita membina rumah tangga sebagai ibadah. Kalau aku zalim padamu, tidak akan ada keberkahan di dalam rumah tangga kita. Dan bisa saja seperti kamu sekarang yang menentang orang tuamu, itu juga akan terjadi pada anak-anak kita kelak. Demi Allah, aku tidak ingin keturunanku hilang rasa hormat kepada orang tuanya hanya karena kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Tapi mohon maaf, kata-kataku ini tidak bermaksud untuk menghakimi kedua orang tuamu. Kamu mengerti itu, kan?"
Kuanggukkan kepalaku seraya menatapnya. "Aku paham semua perkataanmu, Mas," kataku. "Tapi bagaimana kalau nanti kamu khilaf seperti Abi? Tanpa restu dari anak, tapi dia tetap berpoligami?"
"Kamu berhak menuntut cerai kalau aku sampai menduakanmu. Perempuan berhak bersuara, Zahra. Jangan menjadi lemah dan belajar ikhlas, karena bagiku -- dalam poligami, ikhlas bukan untuk dipelajari. Ikhlas itu mesti dari awal. Karena aku tidak pernah ingin hatimu tersakiti. Demi Allah, aku mencintaimu untuk membahagiakanmu. Mintalah cerai jika nanti aku mengkhianati pernikahan kita."
Ya Tuhan... aku tak pernah ingin dipoligami, dan aku juga tak ingin pernikahanku kelak berakhir dengan perceraian. Tapi, toh aku mesti menyerahkan semua kepada Sang Pemilik Hidup. Aku hanya berharap semoga lelaki yang dijodohkan denganku ini akan sama persis seperti ayahnya: memuliakan istrinya dengan kesetiaan.
Dan itu yang kupanjatkan dalam doaku setiap waktu. Bahkan, dalam satu mimggu menuju pernikahan, aku tak pernah lupa berdoa: kalau memang dia jodohku, aku memohon supaya kami segera halal, terikat dalam akad tanpa halangan. Namun jika ia bukanlah jodohku, aku memohon kepada-Nya untuk membatalkan pernikahan kami, apa pun caranya. Sebab, aku tidak menginginkan sebuah pernikahan yang berujung perceraian.
"Baiklah," kataku. "Untuk hal ini aku akan pasrah. Jika nanti aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untukmu, tapi kamu tetap menduakan aku, aku akan memilih untuk berpisah. Bahkan, walau kamu hanya mengutarakan izin satu kali, aku tidak akan sudi lagi melanjutkan pernikahan kita. Kamu tahu, kan, kalau kepercayaan itu mahal?"
Mas Ilham menyunggingkan senyum. "Iya, Salsabila Azzahra-ku tersayang, aku sangat paham. Bisa kita makan sekarang? Es krimnya mulai cair. Meleleh sepertimu."
Euw...!
__ADS_1
Kuanggukkan kepalaku, dan kubiarkan ia menyendok es krim ke mulutnya. Tapi hatiku belum lega.
"Ada banyak, ya, perempuan yang dijodohkan denganmu?"
Mas Ilham mengatupkan bibirnya. Pasti banyak, pikirku ketika melihat ekspresinya seperti itu.
"Jujur saja, Mas."
"Bingung. Kalau kubilang tidak, kamu pasti tidak akan percaya."
"Jadi ada banyak? Hmm? Kenapa kamu memilihku? Yunita bahkan jelas lebih cantik daripada aku, ya kan?"
Hmm... dia malah tertawa. Menyebalkan!
"Harus kuakui, memang benar, banyak gadis yang lebih cantik darimu. Dan jujur, setiap kali ada rencana perjodohan dari orang tuaku selama setahun belakangan ini, aku selalu menghormati mereka dengan menghadiri setiap kali ada proses perkenalan. Tapi... aku juga menyertakan Allah dalam setiap langkahku. Setiap kali mengambil keputusan, aku selalu meminta waktu selama satu minggu untuk istiqharah, dan kalau tidak ada jawaban, aku segera menyampaikan kepada Abi kalau aku tidak bisa menerima perjodohan itu. Simpel, kok. Tapi percaya atau tidak, kamu satu-satunya perempuan yang sangat tidak antusias untuk bertemu denganku. Bahkan kamu sempat menolak. Tapi demi Umi, aku sampai mesti istiqharah lebih dulu bahkan sebelum aku bertemu denganmu. Dan akhirnya kamu mau bertemu aku. Langsung jatuh cinta lagi."
What?
"Siapa bilang? Nggak, ya... kepedean kamu."
Mas Ilham terkekeh. Lagi-lagi menyebalkan!
"Hanya bercanda, Zahra Sayang."
"Tidak lucu!"
"Tapi kamu lucu. Tembam-tembam gimana gitu."
Ya ampun... aku menggeleng-geleng karenanya. "Well, boleh aku tahu bagaimana Allah menjawab istiqharahmu?"
"Maaf, untuk hal satu itu, itu boleh dibahas nanti kalau kita sudah menikah, supaya penyampaianku tidak salah kalau itu memang jawaban dari Allah, dan, bukan sekadar bisikan yang tidak jelas dari makhluk-makhluk lainnya."
Ah, dia membuatku merengut lagi.
"Jangan ngambek, dong...! Kita kan juga butuh bahan obrolan di malam pengantin nanti, ya kan? Masa mau langsung...?"
Edan!
Langsung apa coba? Lagi-lagi dia membuat wajahku semerah kepiting rebus. Malu, tahu...!
__ADS_1