Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Cinta Yang Sempurna


__ADS_3

"Maaf, Umi," kata Mas Ilham. Dalam hitungan detik kemudian, Mas Ilham menaruh tas pakaian Umi ke atas kursi paling dekat, lalu ia berjalan ke arah benda-benda menjijikkan itu yang posisinya di dekat jendela samping yang terbuka, lalu memunguti barang bukti kelaknatan itu. "Ini bekas semalam. Kelupaan. Zahra mual sepagian, jadi belum sempat beberes rumah. Belum sempat bersih-bersih," dustanya pada sang ibu, lalu ia menutup jendela di belakang kursi itu dan lekas pergi ke belakang untuk membuang kedua benda menjijikkan yang kini ada di tangannya.


Aku sungguh terharu, suamiku rela berbohong hanya untuk menyelamatkan aku.


"Ya Allah, Nduk. Tapi kamu baik-baik saja, kan?" tanya Umi kepadaku. Tersirat kekhawatiran di wajah tuanya. Padahal, memang benar aku mual setiap hari, tapi tidak begitu parah. Paling hanya di pagi hari, dan bahkan itu tidak membuat puasaku terganggu.


Tetapi, aku pun terpaksa mengangguk mendengar Umi melontarkan pertanyaan itu kepadaku -- dalam artian: aku terpaksa mengiyakan kebohongan Mas Ilham. Satu-satunya sikap bijak yang bisa ia lakukan demi istrinya ini dan demi keutuhan rumah tangga kami, dia rela berbohong kepada ibu kandungnya sendiri.


Yap, tidak apa, walaupun kami mempermalukan diri kami sendiri, setidaknya ini lebih baik daripada ibu mertuaku itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kami.


"Alhamdulillah. Jangan khawatir, ya. Kamu nikmati saja proses kehamilannya. Inshallah berkah," imbuh ibu mertuaku itu seraya merangkulkan tangannya di pundakku.


Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk, dan dengan susah payahnya aku menahan tangis supaya tidak tumpah. Yah, sama seperti sebelumnya: bukan cengeng, tapi ini wujud dari rasa takutku atas kepercayaan suamiku yang lagi-lagi mesti melewati masa uji. Untunglah pada detik yang hampir bersamaan, ponsel Umi berbunyi. Abi yang menelepon. Jadi, aku bisa permisi kepada Umi dan pergi ke kamar.


Oh, air mataku tumpah jua. Lagi-lagi aku menangisi beratnya ujian Tuhan terhadapku. Ingin aku berkata kepada-Nya bahwa aku sudah tidak kuat. Tapi aku tahu bahwa aku tidak boleh lemah.

__ADS_1


Sesampainya di dalam kamar, kulepaskan hijabku dan kutaruh di atas tempat tidur, sementara aku segera ke kamar mandi, mencuci wajahku di wastafel -- berharap air mataku berhenti mengalir. Namun, tidak bisa. Aku mesti menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk menangis di pojokan, sampai akhirnya Mas Ilham menyusulku dan membuka pintu kamar mandi yang tidak kukunci.


"Hei, jangan menangis...," pintanya yang melihatku sesenggukan di lantai kamar mandi. Mas Ilham menghampiri, menaruh kedua tangannya di bahuku lalu menarikku bangkit. Dia menatap dalam kedua mataku dengan tangan kokoh masih memegangi bahuku. "Jangan bersedih. Aku tidak ingin melihat air mata kesedihan di matamu. Aku percaya padamu, Zahra."


Aku menggeleng. "Tapi aku sudah tidak kuat, Mas," kataku. "Aku lelah terus-terusan difitnah seperti ini. Ini terlalu--"


"Ssst... jangan bicara seperti itu, Sayang. Zahraku itu wanita yang kuat. Seorang ibu dan istri yang hebat. Wanita tangguh. Sini, Mas peluk?"


Hiks! Suamiku... aku pun menyuruk ke dalam pelukannya.


Aku mengangguk, mengiyakan. Lalu, Mas Ilham melepaskan pelukannya dariku dan mengusap air mataku.


"Eh, sebentar dulu." Mas Ilham mengangkat daguku, meneliti leherku. "Sayang, ini ada bekas merah di lehermu."


Argh! Dia membuatku kembali panik dan ketar-ketir ketakutan.

__ADS_1


"Ini kan bekas semalam, Mas. Bekas kamu...."


"Iya, iya... aku tahu...."


"Lah, terus...?"


"Sini, mau kutambahi lagi."


Hmm... edan...!


Dan akhirnya aku kembali tertawa cekikikan ketika Mas Ilham mengecup mesra tengkuk leherku, kemudian ia berkata pelan di telinga, "Tapi sayangnya kamu mesti menunggu. Nanti, ya, setelah kita berbuka. Sabarlah sebentar, Sayang."


Ih, dasar suamiku. Kelakuannya konyol sekali, tapi aku cinta....


I love you forever, Mas Ilham....

__ADS_1


__ADS_2