
Ah, andainya kami sudah halal untuk saling menyentuh, aku tidak keberatan untuk bercinta dengannya di dalam mobil seperti romantisme pasangan-pasangan yang sering kutonton di dalam film-film roman. Perasaanku yang saat ini sudah mengebu-gebu terhadapnya membuatku malah semakin berfantasi liar. Tak bisa kupungkiri, saat dia sedekat ini, saat aku membalas tatapan matanya, senyum manisnya yang tertahan, dan hangat embusan napasnya yang menyapu wajahku, semua itu benar-benar membangkitkan gairah dan menggelitik hasratku. Aku ingin merasakan manis bibirnya, menyentuhnya dengan gila, dan merasakan kekekaran yang ia punya. Sungguh tersiksa rasanya, rasa hormatku pada hubungan yang suci ini, membuatku mesti menahan diri. Yeah, terpaksa kutarik juntaian jilbab panjangku untuk menutupi wajah.
"Kamu mau memakai cadar?" canda Mas Ilham sembari menyingkir dari depan wajahku. "Aku kan bilangnya mau menutupi matamu, bukannya menutupi wajahmu."
Aku menggeleng-geleng. "Aku takut kelepasan," kataku. "Imanku kan tidak sekuat kamu. Nanti malah aku yang nyosor kamu. Gimana dong?"
Euw... Mas Ilham malah semakin cekikikan. "Ya sudah, stop bercandanya, ya. Sekarang aku boleh menutup matamu?"
"Untuk apa?"
"Kejutan, Sayang...."
"Apa kejutannya sampai-sampai harus menutup mata segala?"
"Bukan apa-apa, cuma supaya kamu menebak-nebak, kira-kira kamu kuajak ke mana. Tapi jangan kamu sebutkan, ya. Tebak dalam hati saja. Oke?"
Aku masih menggeleng enggan. "Tapi jangan aneh-aneh, ya?"
"Iya... Salsabila Azzahra binti Muhammad Siddiq. Aku masih sanggup menunggumu lima belas hari lagi. Puas?"
Hihi! Aku terkikik. "Santai dong, Mas... santai...."
"Pakai ini," katanya. Ia membuka dashboard di depanku lalu mengeluarkan sebuah bandana baru yang masih terbungkus plastik.
Ya ampun... aku semakin menggeleng-gelengkan kepala. Niat sekali sih dia. Tapi jujur saja, karena keantusiasannya itu, aku jadi berpikir kalau ia hendak mengajakku ke tempat yang bisa kutebak: antara ke perkebunan bunganya, atau ke rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami seperti yang ia bahas kemarin. Tapi aku tak mencetuskan tebakanku itu kepadanya. Biarlah itu menjadi kejutan tersendiri untukku.
"Siap?" tanya Mas Ilham seusai ia mengikatkan bandana lebar itu ke mataku.
Aku mengangguk. Mas Ilham pun melajukan kembali mobilnya. Sejauh beberapa meter, kami masih melewati jalan aspal yang mulus. Namun berikutnya, aku dapat merasakan bahwa kami sedang melewati jalan setapak yang bergeronjal hingga tubuhku terguncang-guncang sedikit. Aku sedikit khawatir dengan lengan kananku yang baru saja dilepas permanen dari gendongan tangan.
__ADS_1
"Are you okay?" tanya Mas Ilham kali berikutnya saat laju mobilnya sudah berhenti, dan derum mesinnya pun sudah mati.
Aku mengangguk. "I am okay. Lenganku tidak sakit. Apa sekarang penutup mataku boleh dibuka?"
"Belum. Kita keluar dulu, ya. Sebentar."
Ceklek!
Suara pengunci pintu ditekan dan pintu mobil pun terbuka. Detik berikutnya, pintu itu tertutup lagi yang berarti Mas Ilham sudah keluar dari mobil. Berikutnya, suara pintu terbuka pun terdengar di sampingku, disusul suara Mas Ilham yang mengajakku turun.
"Ayo," ajaknya. "Hati-hati." Dia memegang lenganku yang terlindung oleh jilbab, lalu mengarahkan tanganku ke lengannya yang terbungkus kemeja berlengan panjang, namun jemariku tetap bisa merasakan kekuatan pada otot yang tersembunyi di balik lengan kemeja itu. "Sudah siap? Pegangan yang kuat, ya."
Ih... modus....
"Kamu sengaja, ya, biar kupegang-pegang begini? Hmm?"
Mas Ilham tertawa. "Duh, Sayang... otakmu isinya negatif semua, ya? Kamu pegangnya jangan aneh-aneh. Tanganmu jangan meraba ke mana-mana. Hanya berpegangan pada lenganku. Paham?"
"Iya, Mas...," kataku. "Jangan khawatir. Aku tidak akan lancang meraba-raba, apalagi membelai brewokmu."
Hah!
Dia semakin terkikik. Aku yakin mata hitamnya pasti sampai berair karena tawanya yang riang. "Kamu jatuh cinta padaku karena brewokku? Iya?"
Eh?
Memang iya. Tapi tidak sepenuhnya begitu juga kali. Lagi-lagi aku terkikik. "Aku mencintaimu karena Allah, Mas. Brewok dan kesempurnaan fisikmu hanya mendukung. Tapi juga penting, sih. Aku kan cantik. Tidak salah, kan, kalau aku juga mau punya pasangan yang tampan?"
"Jadi aku tampan? Tidak perlu dijawab, ding. Aku tahu kalau aku tampan."
__ADS_1
Ck!
Dia percaya diri juga ternyata.
Well, aku menurut, setelah keluar dari mobil, kuikuti langkah kaki Mas Ilham yang berjalan pelan di sampingku. Setelah lumayan jauh, dia memperbolehkan aku untuk membuka penutup mataku.
"Masyaallah... cantik. Indah sekali."
Bagaimana aku tidak berdecak kagum? Seperti dugaanku, Mas Ilham mengajakku ke perkebunan bunga miliknya. Saat mataku terbuka, aku langsung terpesona melihat keindahan bunga-bunga berwarna-warni di sekelilingku. Ada berbagai macam jenis bunga, termasuk yang paling kusukai: mawar, anggrek, dan lili dari berbagai macam jenis. Ada yang ditanam di dalam pot-pot khusus untuk tanaman hias, dan ada juga yang dibiarkan tumbuh langsung di atas permukaan tanah, katanya itu khusus untuk bunga-bunga yang dipetik, lalu dirangkai menjadi buket bunga.
Yeah, betapa indahnya pemandangan di sekelilingku. Aku suka berada di sana dan itu cukup ampuh mengalihkan perhatianku. Bahkan terpikirkan olehku saat itu, kalau nanti aku sudah sah menjadi istrinya, ia pasti akan sering mengajakku ke taman bunga yang sangat indah ini.
Betapa beruntungnya kau, Zahra, batinku. Masa depan bersama Mas Ilham seakan benar-benar menjanjikan penebusan atas semua luka dan kekeliruanku di masa lalu.
"Setelah pulang dari sini jangan murung lagi, ya?" kata Mas Ilham di telingaku. Dia berdiri teramat dekat di belakangku. Dan meski terlindung jilbab, aku merasa tengkuk leherku sampai merinding karena kedekatannya itu. "Aku sangat mencintaimu, Zahra. Aku tidak suka melihat kesedihan menaungi wajahmu. Tolong, lupakanlah beban-beban di benakmu. Fokus saja pada pernikahan kita. Aku ingin pengantinku fresh, dan paling cantik di hari H nanti. Seperti yang selama ini selalu kubayangkan. Demi Allah, aku mengagumi keindahanmu, Zahra."
Gleg!
Kuteguk salivaku sendiri. Aku bahagia atas romantisme dari rangkaian kata-katanya, namun aku juga merasa tidak enak hati mendengar permintaan yang baru saja ia ucapkan itu. "Ya," kataku. "Aku janji, aku akan fokus pada acara pernikahan kita, dan aku akan membuang jauh-jauh semua perasaan... yang kacau itu."
"Kupegang janjimu, ya. Semua yang sudah terjadi, itu bukan salahmu. Sudah takdir. Dan yakinlah ini kehendak yang Mahakuasa."
Aku mengangguk, lalu tersenyum. "Tolong, sedikit menyingkir. Nanti aku tidak tahan ingin memelukmu. Kan berabe."
"Sabar, Sayang. Hanya lima belas hari lagi. Setelah itu, inshaallah, kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Pengantinku."
Boleh pingsan, tidak?
Aku meleleh digombali terus. Mas Ilham bahkan lebih romantis dibandingkan aktor di dalam film. Yap, betapa ia -- sepenuhnya seperti sosok lelaki idamanku. Kekasih yang mampu menggelitik kedalaman hasratku.
__ADS_1
Sungguh, aku juga mencintaimu. I love you, Mas Ilham.