
Keesokan harinya kami bangun siang dan memesan sarapan lewat layanan kamar. Sarapan menjelang jam sepuluh pagi. Bagaimana tidak bangun siang jika Mas Ilham memanfaatkan momen bulan madu ini untuk bermesraan denganku di setiap kesempatan? Bahkan setelah subuh.
Mas Ilham tahu kalau sebaiknya jangan tidur lagi setelah waktu subuh, tapi tak apa katanya karena ini momen santai kami dan ia ingin menemaniku tidur. Sebabnya, jika kurang tidur, akunya yang akan ngedrop. Mas Ilham pengertian. Dia bersedia menemaniku di tempat tidur sembari memelukku, hingga akhirnya dia pun ikut tertidur bersamaku.
Well, aku makan waffle Belgia dengan beberapa butir stroberi. Mas Ilham makan omelet jamur dan keju, kentang goreng, sosis, roti panggang, pai, dan kopi. Haha. Banyak sekali, ya, makannya. Isi ulang energi yang sudah terkuras habis? Eh?
Sesudah mandi, aku bersantai di kamar dalam balutan mantel kamar putih empuk milik hotel, sementara kami memutuskan akan malakukan apa di sepanjang sisa pagi, berhubung acara syukuran yang diselenggarakan oleh teman Mas Ilham itu nanti siang, sekitar pukul dua waktu setempat.
Tidak ada rencana, begitulah akhirnya. Kami hanya akan bermalas-malasan hari ini. Untuk jalan-jalannya besok-besok saja kata Mas Ilham. Aku setuju, apa pun yang dia inginkan.
"Nah, kalau kita tinggal cukup lama di sini, bagaimana? Kamu setuju juga, tidak?"
Aku memiringkan kepalaku ke kiri dan menghela napas dalam-dalam. "Maksudnya? Memangnya seberapa lama?"
__ADS_1
"Mungkin sebulan, dua bulan, atau lebih. Sampai kita bosan, sampai kamu rindu dan minta pulang. Bagaimana?"
Sebentar. Aku berpikir sejenak, dan akhirnya kupikir itu rencana yang cukup baik. "Tapi bagaimana dengan pekerjaan Mas Ilham di pesantren?"
"Gampang. Nanti aku tinggal bilang pada Abi kalau aku belum bisa aktif karena aku masih mau di sini bersama istriku tersayang."
Uuuh... so sweet....
Aku mengangguk setuju. Jadi, kami pun berdiskusi di mana kami akan tinggal. Mas Ilham sudah memikirkan semuanya, katanya. Dia akan mengajakku tinggal di Mill Valley untuk sementara, bertetangga dengan temannya itu. Di sana ada sebuah rumah mungil yang tidak ditempati karena pemiliknya baru pindah beberapa waktu lalu. Kami akan menyewanya untuk sementara.
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa kamu mau kita tinggal lama di sini?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang...." Dia mengulurkan tangan, menarik pinggangku hingga aku tertarik dan berada dalam pelukannya. "Aku suka di sini, sebab... aku bisa melihat istriku setenang dan senyaman ini. Dan kamu bahagia."
Ah, Mas Ilham... bisa saja dia. Pasti nyamanlah kalau dia menempatkan aku di tempat yang fasilitasnya tercukupi, dan ada dia sebagai penyempurna segalanya. Termasuk di Mill Valley yang berada di seberang Golden Gate Bridge, yang kami kunjungi pada siang harinya.
Hari itu langit jernih, sewarna dengan air, angin yang bertiup kencang menarik mobil kami ke kiri dan menggembungkan layar-layar perahu-perahu di bawah jembatan serta membuatnya meluncur melintasi teluk.
"Indah, ya?" kataku. "Aku suka pemandangannya."
Mas Ilham tersenyum. "Tidak akan seindah ini bila tidak ada kamu di sisiku."
"Ih, gombal! Dasar kamu ini, ya."
Aku tersenyum-senyum, dan senyumku semakin mengembang karena kelakuan romantis nan konyol Mas Ilham yang meraih dan mencium punggung tanganku. Kan malu pada supir yang duduk di balik kemudi.
__ADS_1
Huh! Kucoba mengalihkan perhatianku dengan pemandangan yang kami lewati saat kami keluar dari 101 di Stinson Beach dan mengikuti rambu-rambu sejauh kurang-lebih lima kilometer menuju Mill Valley, ada sebuah kota yang cantik di sana, lengkap dengan pasar, gedung bioskop, toko-toko kecil yang menjual suvenir dan macam-macam pernak-pernik, sejumlah restoran Itali, dan toko buku merangkap kafe. Ada segerombolan pesepeda gunung sedang berkumpul di lapangan, dan hampir setiap orang yang kulihat pasti menuntun anjin* ataupun anak kecil. Udaranya segar. Kelihatannya tinggal di sini memang menyenangkan.
Ah, di mana pun asalkan bersama Mas Ilham, aku akan menganggapnya seperti surga. Dia membuat duniaku begitu indah. Sempurna.