Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Sempurna


__ADS_3

"Huuuuuh...," napas Mas Ilham tersengal. "Terima kasih, Sayang. Zahraku memang yang terbaik."


Eh, pujiannya masih saja. Senyumnya apalagi, semringah total. Bahagia sekali ia yang sekarang berbaring di sampingku.


Aku, yang masih saja diliputi kebahagiaan hari ini, seketika menggenggam tangan kirinya dengan tangan kananku. Aku menoleh ke samping, tersenyum kepadanya dan berkata, "Terima kasih. Kamu juga yang terbaik. Aku beruntung memilikimu, suami sempurna dan bertanggung jawab. I love you, Mas. Terima kasih sudah mempercayaiku sepenuhnya. Terima kasih juga karena kamu selalu di sisiku di saat semua orang meragukan aku. Kamu benar-benar imam yang sempurna."


"Sudah? Sama-sama."


"Ih... kamu...."


"Kenapa...?"


"Panjangan dikit responsnya...."


Mas Ilham tertawa, nyaris terbahak. "Iya, iya, maaf. Maaf, ya, Sayang."


"Auh ah!"


"Jangan ngambek...."

__ADS_1


"Gimana nggak ngambek kalau kamunya--"


"Ssst...." Dia berbaring menyamping lalu menempelkan jarinya di bibirku. "Maaf. Sekarang aku respons, ya. Sama-sama, Sayangku. Aku juga beruntung memilikimu. Kamu istri terbaik. Terima kasih karena kamu sudah mengurusiku, mengurusi makanku, mengurusi pakaianku, dan semuanya, termasuk membahagiakan aku lahir batin. Demi Allah, aku bahagia, Zahra."


Yap, aku tersenyum kembali. Mode ngambek otomatis off. "Aku juga bahagia, Mas. Jangan pernah berubah, ya?"


Dia mengangguk, kemudian mencium punggung tanganku dengan sayang. "Pasti, Sayang. Inshaallah, Mas Ilham-mu ini akan senantiasa seperti ini. Aku tidak akan pernah berubah."


Ah, senangnya hatiku mendengar respons Mas Ilham. "Janji, ya, cintai aku seperti Abi mencintai Umi."


"Inshaallah. Aku janji, aku akan mencintaimu seperti Abi mencintai Umi. Cinta yang sempurna. Seperti yang selalu diajarkan oleh Abi: mensyukuri kehadiran istri dengan mencintainya dan memuliakannya dengan kesetiaan. Apalagi istri sepertimu, yang menyerahkan segalanya, jiwa dan raganya kepada suami. Aku tidak akan menjadi lelaki berengsek yang sudah mengambil kesucian istri lalu menyia-nyiakannya begitu saja, seperti banyak lelaki yang kamu lihat. Padahal istrinya sudah berusaha selalu menjadi istri yang terbaik. Inshaallah, aku tidak akan pernah seperti itu, Zahra. Please, selalu percaya padaku, ya? Aku ingin hatimu selalu tenang dan kandunganmu selalu sehat."


Euw! Dianya malah cekikikan. "Kamu ini, Sayang. Pasti gara-gara kebanyakan baca novel."


"Ember... udah ah. Aku mau mandi. Lengket." Aku pun bangkit dari posisiku dan lekas turun dari ranjang itu -- ranjang yang selalu dianggap sebagai ranjang pengantin oleh Mas Ilham.


Sudah terlalu malam, aku tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Setelah membersihkan diri dengan mandi wajib, aku segera keluar dari kamar mandi. Lalu...


"Masyaallah... perhatian sekali...."

__ADS_1


Tersanjung aku, ketika aku keluar dari kamar mandi, Mas Ilham baru saja kembali ke kamar dengan segelas susu hangat di tangannya. Susu untuk ibu hamil.


Ya Tuhan... dia benar-benar suami yang penuh kasih, pengertian, dan sangat peduli dengan kehamilanku.


"Untuk istri dan anakku tercinta," katanya.


Ah, Mas Ilham... aku meleleh....


"Terima kasih, Abi...."


"Sama-sama, Umi...."


"Mau peluk...."


Duh, sayangnya dia belum mandi dan masih lengket. Jadi nggak dulu deh.


"Tunggu aku selesai mandi. Mau apa pun kamu, aku jabani. Jangankan sekadar peluk, mau jatah seronde lagi juga hayuk. Dengan senang hati akan kuladeni."


Ckckck!

__ADS_1


Dasar suami gesrek! Cengirannya semakin melebar.


__ADS_2