
Sebelum keberangkatan kami untuk berbulan madu, aku dan Mas Ilham menghabiskan waktu untuk mengurusi administrasi di tempat mengajar masing-masing. Aku sudah matang dengan keputusanku untuk berhenti mengajar dan langsung menyelesaikan urusan administrasi di sekolah tanpa berlama-lama. Aku hanya berpamitan dengan guru-guru dan staf sekolah dengan ala kadarnya saja. Aku tidak ingin mengobrol panjang lebar dengan siapa pun. Dengan alasan bahwa Mas Ilham menungguku di gerbang depan, aku bisa menghindari setiap orang yang ingin berbasa-basi panjang denganku. Maaf, aku hanya takut kalau pembahasan yang awalnya sepele itu akan berujung ke satu arah. Tentang kemalangan itu. Aku tidak mau.
Setelah selesai urusanku, aku menemani Mas Ilham ke madrasah tempat ia mengajar. Sama, untuk resign. Dalam tahun ajaran baru ini, Mas Ilham ingin memenuhi janjinya kepada Abi untuk membantunya di pesantren. Mas Ilham sudah memberitahuku dan sudah meminta izinku, dan aku mengiyakan. Tentu saja. Namun, nanti, sepulang kami dari bulan madu.
Pada hari berikutnya, kami ke pesantren. Sementara aku menunggu di rumah Umi, Mas Ilham mengurus administrasi kepegawaiannya sebagai staf baru di pesantren. Berkat bantuan Mas Farid, semuanya bisa berjalan mulus tanpa kesulitan yang berarti. Jadi, sisa hari itu kami gunakan untuk makan siang bersama keluargaku. Meski tidak harus, tetapi Mas Ilham tetap meminta izin pada Abi dan Umi untuk mengajakku ke luar negeri, tempat yang masih ia rahasiakan dariku tapi tidak ia rahasiakan pada anggota keluarga kami yang lain. Lalu, sore harinya kami berkunjung ke rumah orang tua Mas Ilham, sekadar untuk makan malam bersama, termasuk dengan keluarga kecilnya Mbak Indah. Dan hari itu, aku bagaikan melihat adegan kehangatan dalam sinetron: bagaimana seorang anak lelaki yang bersikap begitu mesra dengan ibunya. Yah, indah sekali melihat Mas Ilham memeluk Umi dari belakang sewaktu Umi menata lauk di depan meja.
__ADS_1
"Doakan Ilham, ya, Umi. Semoga bulan madunya happy, terus Zahra bisa cepat hamil lagi."
Umi tersenyum. Sambil tangannya berhenti sejenak dari aktivitasnya, ia membelai wajah Mas Ilham tanpa menoleh, Umi mengaminkan. "Tanpa kamu minta, Umi akan selalu mendoakanmu, Leh. Pasti Umi doakan."
Ya Tuhan... aku kepingin nanti kalau aku punya anak lelaki, anakku bisa bersikap semesra dan sehangat itu kepadaku. Pun, jika kelak aku punya anak perempuan, aku ingin ia dan ayahnya bisa seakrab dan sehangat hubungan Abi Rahman dan Mbak Indah. Aku pernah melihat Abi merangkulkan tangannya di pundak Mbak Indah sewaktu mereka memerhatikan anak sulung Mbak Indah sedang bermain di halaman, atau melihat Mbak Indah yang sedang berbicara dengan Abi, sepertinya sedang meminta sesuatu, dia bicara manis seraya berdiri di samping Abi dan merangkulkan tangannya di sekeliling pinggang Abi. Aku tidak tahu waktu itu mereka membicarakan soal apa, tapi ketika Abi mengangguk, Mbak Indah terlihat begitu senang, sampai-sampai ia berjinjit dan mengecup pipi Abi. Begitu juga sebaliknya, aku pernah melihat Abi mengelus kepala putrinya itu dan mengecup sisi keningnya dengan sayang.
__ADS_1
Iri, itu yang pernah kurasakan sewaktu melihat pemandangan itu. Sebabnya, aku tidak pernah sebegitu dekat, apalagi sebegitu hangat dan mesra dengan ayahku. Yah, kalau dari segi penolakan, aku yang salah, karena aku yang menolak. Tapi kan akarnya dari Abi.
Ups! Sori, tidak usah dibahas. Cukup aminkan doaku dan doamu, doa kita semua untuk memiliki istana yang hangat dan dengan penghuninya yang begitu akrab dan harmonis.
Aamiin....
__ADS_1