Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Minggu Kelabu


__ADS_3

Hari minggu adalah hari terakhir masa bebasku dan Mas Ilham sebelum kami kembali menyibukkan diri di dunia pendidikan. Hari itu sebenarnya kami berencana untuk belanja perlengkapan rumah tangga, yaitu barang-barang yang berguna namun belum kami miliki. Tetapi, rencana tinggal rencana. Aku baru saja selesai berhias ketika tepat pada jam delapan pagi -- Mas Ilham memanggilku dari ruang bawah tangga.


"Ada apa, Mas?" tanyaku.


"Ada teman-temanmu," sahutnya.


"Hah? Teman? Siapa yang datang?" Aku pun bergegas menuruni anak tangga.


Mas Ilham mengedikkan bahu. "Temanmu yang kemarin itu. Aku minta mereka menunggu di ruang tamu."


Mas Ilham pun memilih santai di halaman belakang sementara aku berjalan ke ruang tamu.


Entahlah. Sebenarnya aku tidak berniat untuk tidak memuliakan tamu, tetapi... begitu aku melihat Yunita duduk di ruang tamu itu, hatiku jadi tidak nyaman. Kemarin ia tidak datang ke acara pernikahanku, dan kurasa itu lebih baik. Tapi sekarang, dia malah datang ke rumah. Untungnya dia datang bersama Puspita. Jadi, rasa tidak nyaman itu sedikit bisa kuatasi.


Setelah sedikit berbasa-basi menanyakan kabar satu sama lain dan cuap-cuap yang hanya sekadarnya, termasuk mendengar penjelasan dari mereka kalau mereka tahu alamat baruku dari Umi, di mana kemarin mereka ke rumah Umi, tapi aku tidak ada di sana, jadi mereka meminta alamat baruku kepada Umi -- aku pun manggut-manggut lalu meminta kedua tamuku itu menunggu, sementara aku ke dapur dan mengambilkan minuman plus camilan yang juga ala kadarnya -- sirup rasa jeruk dan aneka buah dingin dari lemari es. Maklum, aku tak pandai memasak kue dan kami belum keluar dari rumah selain dari pasar kemarin, walau sekadar untuk belanja kue atau camilan ringan. Jadi, apa boleh buat. Hanya buah-buahan dingin itu yang ada dan yang bisa kusuguhkan kepada mereka: kedua tamuku yang datangnya mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Omong-omong, ada apa nih? Bukan mau ngajak hangout, kan?" candaku sambil nyengir.


Yunita dan Puspita kompak menggeleng dan berkata tidak. "Cuma mau silaturrahim, sekaligus mau minta maaf karena kemarin kami tidak datang ke acara pernikahanmu," Puspita menjelaskan.


"Ya," timpal Yunita membenarkan. "Kamu sih, kok menyelenggarakan resepsi pernikahan bukan di hari libur. Bagaimana kami bisa datang? Lagi sibuk-sibuknya, pula. Tapi omong-omong, selamat, ya. Belum terlambat, kan?"

__ADS_1


Aku tersenyum seraya mengangguk, walaupun terkesan aneh. Sebabnya, Yunita seperti santai sekali saat ini. Aku merasa itu tidak wajar, mengingat pertemuan terakhir kami sewaktu aku mengantarkan undangan ke rumahnya waktu itu. "Tidak apa-apa. Baru tiga hari. Eh? Hari ini hari ke empat, ding."


"Iya. Lagi hangat-hangatnya, kan?"


"Hu'um," sahutku, sedikit tidak enak hati.


"Tapi awas, lo, jangan sampai lama-lama nasibmu kayak si Mpus yang baru saja melayangkan gugatan cerai."


Aku tertegun, terkejut tepatnya. Sementara, di depanku, Puspita melayangkan tatapan keberatan kepada sepupunya itu. Matanya mendelik lebar kepada Yunita.


"Ada apa, Pus?" tanyaku penasaran.


Puspita menggeleng, dan mendadak memijat-mijat pelipisnya. "Sudahlah, Bil. Cerita begini tidak baik didengar oleh pengantin baru. Daripada nanti kamu jadi parno."


Kali ini Puspita mengedikkan bahu. "Menurutmu kenapa coba? Tentu saja karena masalah perselingkuhan, Bil. Dia melakukannya lagi."


Awalnya Puspita masih terlihat tegar, namun kemudian suaranya mulai tercekat dan air matanya mulai berlinang. "Kelakuan Mas Dion kumat lagi. Aku ndak ngerti lagi harus bersikap bagaimana lagi, Bil. Aku ndak tahu."


Aku merasa harus diam dulu, membiarkan dia bercerita tanpa mesti kupotong perkataannya. Selain itu, juga karena aku bingung harus berkomentar apa di tengah situasi seperti ini. Ini bukanlah kejadian pertama. Di zaman kuliah di semester terakhir, beberapa kali Puspita bertengkar lewat sambungan telepon dengan Mas Dion yang waktu itu sudah menjadi suaminya. Dan karena itu pula, skripsi Puspita jadi agak terhambat pengerjaannya. Puspita bercerita bahwa masalah lama itu ternyata belum rampung benar.


"Aku pikir, dia sudah tidak lagi melakukan hal yang paling kubenci itu. Ternyata... ternyata Mas Dion masih melakukannya. Dengan perempuan lain, pula. Aku sudah ndak kuat menanggung semua ini." Tangis itu kian keras terdengar.

__ADS_1


Yeah, amat sangat disayangkan sebenarnya. Puspita dan Mas Dion berpacaran sejak pertama Puspita masuk kuliah, sementara Mas Dion waktu itu sudah menyusun skripsi. Setelah sekian lama berpacaran, Mas Dion menikahi Puspita saat Puspita baru hendak menyusun skripsinya, sementara Mas Dion sendiri waktu itu sudah bekerja di perusahaan milik orang tuanya. Waktu itu, bukannya dibantu supaya skripsi sang istri bisa cepat selesai, mereka berdua malah sering bertengkar karena Mas Dion sering keluar bertemu gadis lain di saat Puspita mesti bermalam di kost setelah dia bertemu dosen pembimbing skripsinya di kampus.


Aku masih ingat betul kalau dulu itu pernikahan mereka diselenggarakan dengan sangat meriah. Pasangan pengantin berbahagia itu selalu tersenyum semringah. Tamu-tamu undangan tiada henti berdatangan. Pokoknya hari itu menjadi hari bahagia Puspita dan Mas Dion.


Kebahagiaan mereka berlipat ketika setahun kemudian sewaktu Angela, bayi perempuan nan cantik hadir di tengah keluarga mereka. Puspita pun baru saja diwisuda waktu itu, beberapa hari sebelum ia melahirkan. Mas Dion pun kemudian diberikan posisi tinggi oleh ayahnya, sang pimpinan perusahaan, dan tentu saja berpenghasilan tinggi, ditambah lagi Puspita pun ikut bekerja di sana dengan jabatan yang tak kalah bagus dengan suaminya. Sehingga, secara finansial, mereka amat sangat berkecukupan. Yap, rasanya, tak ada alasan bagi mereka untuk berkubang dalam kesedihan.


Tapi sekitar setahun kemudian, putri semata wayang mereka meninggal. Ia menjadi korban tabrak lari sewaktu bermain di sekitar rumahnya. Sejak saat itulah kata Puspita, keadaan rumah tangganya mulai timbul keretakan. Mas Dion mulai sering telat pulang, bahkan sering pulang pagi, dan pernah juga tidak pulang berhari-hari. Dan, akhirnya Puspita mengetahui alasan di balik perubahan sikap Mas Dion. Dia berselingkuh, dan kali ini benar-benar berselingkuh alias teman ranjang, bukan sekadar teman dekat atau teman hangout seperti yang sudah-sudah.


Tetapi, dengan kesabaran hatinya, Puspita menerima permintaan maaf suaminya, meskipun hatinya tak akan pernah kembali merasa utuh dari kehancuran itu.


"Sebenarnya, Mas Dion berjanji akan memperbaiki segala sesuatunya. Dia bilang bahwa dia menyesal atas kekhilafannya itu. Tapi sekarang, siapa yang menyangka aku akan kembali menangis karena ulah Mas Dion yang kembali berbuat sama?"


Duh....


Sedih sekali hatiku mendengar cerita Puspita pagi itu, sehingga moodku langsung down maksimal. Serasa teriris sembilu. Aku jadi malas pergi keluar untuk belanja perabot, aku malah menghabiskan hari minggu itu dengan meringkuk di pelukan Mas Ilham, menceritakan apa yang menimpa Puspita yang sudah jatuh tertimpa tangga. Ia kehilangan anaknya, dan mesti menerima kenyataan bahwa suaminya berselingkuh. Bukan hanya sekali, tapi sudah sekian kali. Sehingga, Puspita sendiri pun sudah tidak tahan dan melayangkan gugatan cerai.


"Aku takut mengalami hal seperti itu," kataku pada Mas Ilham.


Hmm... dia malah tersenyum. Apa dia tidak tahu kalau hatiku begitu mencelos setelah mendengar cerita Puspita?


"Jangan ragukan kesetiaanku, Zahraku. Kalau hatiku mudah berpindah ke wanita lain, aku tidak perlu menunggu Allah menjawab istiqharahku dan memilihkanmu sebagai jodohku. Iya, kan? Percaya padaku, aku sangat mencintaimu. Dan, demi Allah, aku akan memuliakanmu dengan kesetiaanku. So, rileks dan tenangkan dirimu. Oke? Aku sangat mencintaimu." Satu kecupan hangat mendarat di keningku.

__ADS_1


Ya Tuhan... Mas Ilham. Puji syukur, alhamdulillah, Mas Ilham selalu bisa meyakinkanku dengan kata-katanya yang manis dan menenangkan.


__ADS_2