Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Humoris


__ADS_3

Hangatnya sinar mentari pagi sudah menyapa dari atas sana saat Mas Ilham mengajakku mencari sarapan pagi. Sama seperti pakaian yang kukenakan, Mas Ilham juga hanya mengenakan kaus santai berlengan panjang. Entah kenapa, aku suka melihatnya seperti itu. Sikap dan penampilan santainya membuat penglihatanku begitu adem. Menenangkan. Bahkan, menurutku dia terlihat dua kali lebih tampan dari dia yang biasanya. Serius. Lihat saja kalau tidak percaya.


Well, kembali ke topik. Kami tidak pergi jauh-jauh, hanya ke warung makan di dekat pasar dan makan nasi uduk. Mas Ilham bilang, soal sarapan, dia bukan tipe pemilih. Aku bisa memasakkan apa saja untuknya, dan dia pasti akan memakannya. Yang simpel-simpel pun tidak apa-apa. Walau itu sekadar nasi uduk, bubur dari beras, atau sekadar telur dadar pun tidak apa. Atau bahkan segelas teh pun sudah cukup.


Aku nyengir. Aku tidak akan setega itu juga kali, ah. Masa cuma segelas teh? Minimal ada mie instan, dong...! Hihi!


Yang pasti aku akan rajin membuatkan sarapan untuknya. Karena seperti yang kami sadari, jam mengajar kami berdua di sekolah tidak akan memungkinkan untuk kami bisa makan siang di rumah, kecuali pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada hari libur nasional tanggal merah, atau seperti pada hari jumat di mana Mas Ilham libur mengajar di pesantren, dan aku hanya mengajar sampai jam sebelas siang di SMA. Jadi, secara rutinnya, aku hanya akan bisa memasakkan makan malam untuk kami berdua, makan malam bersama yang pasti bisa kami lakukan setiap malam. Yap, kami sudah sepakat untuk hal ini. Mas Ilham tidak akan memintaku untuk berhenti mengajar.


Setelah menghabiskan nasi uduk masing-masing, plus beberapa pisang goreng yang dimakan oleh Mas Ilham -- yang katanya untuk mencukupi asupan tenaganya supaya kembali maksimal, ia pun langsung mengajakku belusukan di pasar, membeli sayur, bumbu-bumbu dapur, dan berbagai sembako untuk rumah tangga kami.


Ecieee... yang sudah berumah tangga. Lagaknya, seolah aku ini jago masak saja.


"Kan segala sesuatunya itu bisa dipelajari, Sayang," ujar Mas Ilham sewaktu aku mengatakan kepadanya bahwa kemampuan memasakku sangat minus. Kami sedang berjalan kaki dari warung tempat kami sarapan menuju ke area belakang pasar tempat pedagang sayur berkumpul. "Rata-rata perempuan memang seperti itu. Tapi nanti lama-lama pasti jago, kok. Aku percaya padamu. Kamu pasti bisa menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik."


Jiaaah... itu rayuan, atau bujukan supaya aku semangat belajar memasak? Hmm?


"Memangnya iya?" tanyaku balik. "Kamu tahu dari mana kalau perempuan rata-rata seperti itu?"


Dia mengangkat bahu. "Tahu, dong...! Mbak Indah dulu begitu. Umi dulu juga begitu katanya. Tapi karena niat mereka yang tulus untuk membahagiakan suami, mereka sekarang jago tu memasak. Kamu pasti akan begitu juga, ya kan? Niatkan saja dulu, demi aku, dan demi cintamu padaku."


Euwww... Mas Ilham... manis sekali, sih! Teh tawarku tadi saja kalah manis. Saking tawarnya malah pahit. Hihi!


"Iya, Mas," kataku. "Aku akan belajar. Demi kamu, demi cintaku kepadamu, dan demi baktiku kepadamu. Tenang saja. Aku pasti bisa," kataku dengan percaya diri yang tinggi, ikut berlebay-lebay ria meladeninya.


Dia tersenyum. "Terima kasih, Cinta."


"Ih, mulai gombal...."


Lagi, senyum menawan membelah wajahnya. "Harap maklum, Sayang, namanya juga pengantin baru."


"Kalau sudah lama?"


"Aku akan tetap seperti ini. Inshaallah."

__ADS_1


"Kupegang janjimu, ya...."


"Em, silakan. Asal kamu selalu berbakti kepada suami, juga kepada kedua orang tuamu."


Oh, menyerempet....


"Inshaallah," kataku. "Aku akan...."


"Kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa. Hanya...."


"Teringat Abi dan Umi? Kamu sudah berbakti, kok. Buktinya, kamu mau berkenalan denganku."


Aku mengangguk. Aku tahu itu benar: karena baktiku kepada Umi, aku sekarang sudah menikah dengan lelaki pilihan kedua orang tuaku. Tapi kepada Abi...? Sudah cukupkah aku berbakti kepadanya? Kurasa, jauh -- jauh dari kata cukup. Bahkan sampai saat ini, pintu maafku atas poligami yang ia lakukan -- masih saja tertutup, dan tak akan pernah terbuka. Meski ini hanya menyangkut pada tindak "poligaminya" dan bukan pada hal lain.


Setidaknya, mungkin mulai sekarang aku tidak akan membangkang lagi kepada Abi, sebab sekarang aku sudah menikah. Dan ternyata, dengan menikah, aku lega, sebab penanggung jawab atas diriku sekarang bukan lagi di pundak Abi. Sudah ada Mas Ilham yang menggantikan, dan, aku yakin kepadanya aku akan menjadi istri yang berbakti, dan aku akan selalu menurut kepadanya.


"Aku percaya kamu wanita yang berbakti."


"Mmm-hmm... sebab baktimu itu kita sampai ke titik ini," bisiknya mesra. "Kita sampai ke pernikahan, dan...."


Plak!


Mas Ilham terkikik-kikik karena kupukul bahunya. Aku mendelik tajam. "Mas...," kataku kemudian, aku merengek manja. "Jangan bahas-bahas itu, ih. Aku malu...."


"Memangnya aku bahas apa?" tanyanya.


Dengan menggeleng-gelengkan kepala dan menyembunyikan rona malu di wajahku, aku berjalan cepat meninggalkan Mas Ilham di belakangku. Aku baru berhenti ketika sampai di lapak salah satu pedagang sayur. Sambil memilih-milih berbagai macam sayuran, kusadari, Mas Ilham memerhatikanku dengan mata hitam pekatnya. Dan, cengiran edan di wajah tampannya itu tak kunjung meredam.


"Daripada memerhatikanku seperti itu, mending kamu bantu aku pilih-pilih, kamu sukanya apa saja?"


Dia menunjuk. "Itu," katanya.

__ADS_1


"Terong?" tanyaku seraya memusatkan perhatianku pada tumpukan terong ungu yang panjang dan mengilat, lalu mengambilnya satu.


Yap, tanpa kutahu, Mas Ilham sekarang sudah berdiri rapat di belakangku. "Pegang yang erat, Zahra," bisiknya.


Ya Tuhan... aku terkikik-kikik. Nyaris saja terong di tanganku itu kupukulkan ke bahunya. "Yang serius, dong, Mas... jangan bercanda terus...," rengekku pelan.


"Siapa yang bercanda, Sayang?" sahutnya, tak kalah pelan dengan suaraku. "Pegang yang erat supaya tidak lepas. Dan pikiranmu jangan gesrek."


Kuhela napas dalam-dalam, berusaha menguasai diri dan mengatur pikiranku ke frekuensi yang semestinya. "Well, benar, ya, kamu suka?"


"Em, karena kamu suka, aku juga suka."


"Ya Allah, Mas...."


"Apa, Sayang...?"


"Hmm... mau beli apa lagi?" tanyaku.


"Timun. Pilih yang besar, kencang, lurus dan jangan yang bengkok."


Ya Tuhan, kenapa, sih, aku ini? Aku berusaha menahan tawaku, tapi tidak bisa. Aku nyaris ngakak di tengah-tengah pasar.


"Aku nyerah, Mas. Kamu saja yang pilih."


Si nenek yang sudah sepuh, yang masih mencari rizki dengan cara berdagang sayur di pasar itu, ikut terkikik-kikik memerhatikan kami. "Pengantin baru, ya, Mbak e?" tanyanya.


Aku pun mengangguk, rona malu jelas mewarnai pipiku.


Si nenek tersenyum, sambil menyodorkan nampan di tangannya, dia pun bertanya, "Ndak sekalian beli toge, Mbak e?"


"Borong, Sayang...."


Eh?

__ADS_1


Ya Tuhan, suamiku yang rada-rada gesrek itu tak henti membuatku tertawa. Humoris sekali, sih, dia. Membuatku semakin cinta.


__ADS_2