Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Tester Pertama


__ADS_3

Tetapi, saat aku keluar dari kamar mandi, Mas Ilham ada di dalam kamarku. Ia duduk di ujung tempat tidurku dengan posisi punggung agak membungkuk dan kedua lengan bertopang di atas paha. Dia nampak sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu belum turun?" tanyaku.


Dia menggeleng dan tersenyum tipis. "Tidak enak kalau turun sendiri," katanya. "Nanti Abi dan Umi bertanya sesuatu, aku tidak tahu mesti menjawab apa."


Aku mengangguk paham.


"Bagaimana? Sudah lebih baik?"


Aku mengangguk lagi.


"Sini dulu," katanya seraya menepuk permukaan ujung tempat tidurku, menyuruhku duduk di sampingnya.


Aku menurut, dan menunduk.


"Zahra, tatap aku."


Tapi aku tak berani, bukannya takut karena merasa bersalah. Bukan. Aku hanya tidak berani karena belum tahu bagaimana karakter Mas Ilham jikalau menghadapi situasi seperti yang kami alami saat ini. Aku takut jika tersirat ketidakpercayaan di matanya terhadapku.


"Baiklah," kata Mas Ilham. Karena aku hanya menunduk, Mas Ilham yang akhirnya melorot ke lantai, berlutut di hadapanku, lalu mendongak memandangiku. "Nanti di depan Abi dan Umi, wajahmu jangan begini. Kamu harus ceria. Sebagaimana Zahra yang mereka tahu hari ini sangat bahagia. Oke?"


Ketiga kalinya, kuanggukkan lagi kepalaku, walau aku tidak yakin apa aku bisa memasang wajah ceria di depan Abi dan Umi dalam keadaan yang tidak beres seperti ini. Aku juga tidak ingin mereka sampai tahu kalau ada konflik baik besar ataupun kecil di dalam rumah tanggaku.


Dengan perasaan yang masih mengganjal, Mas Ilham menundukkan pandangannya sejenak, lalu ia kembali menatapku -- tatapan yang lebih dalam dan mengiba. "Apa kamu mencintaiku, Zahra? Coba tanyakan pada hati kecilmu."


"Mas...," kataku. Aku berhasil menatap kedua matanya. "Tanpa perlu menelisik hatiku lebih dalam, aku tahu aku mencintaimu. Demi Allah, aku sangat mencintaimu. Tolong, jangan ragukan aku, Mas? Jangan ragukan aku."


Mas Ilham tersenyum, lalu ia tegak bertopang lutut di hadapanku. Seraya menangkup tulang pipiku dengan kedua tangannya, ia mendekat ke wajahku -- menciumku: dari kening, lalu ke hidung, dan berlanjut ke bibirku.


Manis sekali. Dapat kurasakan kedua tangan Mas Ilham beralih menangkup belakang kepalaku, dan satu tangannya lagi melingkar di pinggangku. Gairahnya bangkit. Dan...


Entah bagaimana, aku mendapati diriku terbaring di bawah kungkungannya. Terhimpit tubuhnya yang besar dan bobotnya yang berat. Gemetar, tapi nyaman. Bahkan ternyata aku pun memeluk tubuh kekarnya dengan erat.


"Aku percaya padamu," kata Mas Ilham. Senyumnya merekah, lalu ia menciumku lagi. Dan....


Hoaaaaa... hatiku tergelitik di dalam ketika lidahnya yang selalu bertutur manis itu menyelinap masuk ke rongga mulutku, dan, tangannya, tangan kekar dengan bulu-bulu lebat di lengannya itu menelusup ke balik jilbab panjangku. Menyentuh dan membelai kulit leherku hingga aku merinding karena sentuhan buku-buku jemarinya.


"Terima kasih, Mas. Asalkan kamu percaya kepadaku, itu sudah cukup bagiku. Aku--"


Tok! Tok!


Aaaaa... suara ketukan Umi di pintu menyetop segalanya.


"Nduk," panggil Umi. "Makan malam dulu, yuk?"


Bila mau makan hidangan yang ini dulu, Umi....


Euw...!


"Iya, Umi, sebentar," sahut Mas Ilham.


"Cepat, ya," kata Umi lagi. "Sudah ditunggu Abi."


"Ya, Mi."

__ADS_1


Dan, Mas Ilham jadi cekikikan tanpa menyingkir dari atasku, membuatku malu menyadari posisi kami yang tengah bertindihan.


"Well, anggap saja ini tester. Kita akan segera pulang."


Tapi ia tetap tak beranjak, masih menatapku lekat-lekat. "Mau begini terus? Atau mau turun untuk makan?" tanyaku.


Dia menggeleng. "Maunya begini," katanya. Lalu bibirnya menempel lagi, menjumput sedikit dan menggigit pelan. "Aku mencintaimu."


"Em." Kubelai bulu-bulu di rahangnya yang akhirnya kesampaian, membuatku tersenyum. "Aku juga mencintaimu. Dan sepertinya kita mesti cepat turun, cepat makan, dan cepat pulang. Iya, kan?"


Ouuuw... dia mencium telapak tanganku. "Yeah, biar bisa cepat pulang," katanya. Barulah ia menyingkir dari atasku lalu menarikku duduk.


Sambil membenahi jilbabku, aku sibuk menahan senyuman.


"Ayo, Kesayangannya Mas Ilham sudah tersenyum lagi. Sudah bisa berhadapan dengan Abi dan Umi lagi."


Oh, sengaja....


Tapi baguslah. Dengan begini aku bisa membawa diriku ke hadapan Umi dan Abi, seoalah tidak terjadi apa pun tadi di antara aku dan Mas Ilham -- tidak ada fitnah atau teror apa pun.


Aku berdiri, menyambut tangan Mas Ilham yang menggandengku dan kami keluar dari kamarku bersama-sama, lalu kami disambut senyum semringah anggota keluarga yang sudah menunggu kami di ruang makan.


"Uuuh... aura pengantin baru," celetuk Laila, membuat Abi dan Umi terkikik-kikik.


Abi yang sangat bahagia hari itu berusaha meredam tawa kecilnya dan berkata, "Ayo, kita makan. Pengantin kita sepertinya tidak sabar untuk berduaan."


"Ih, Abi, mah. Kayak nggak pernah muda."


"Lo... justru karena Abi pernah muda, makanya Abi tahu."


"Sudah... jangan digoda terus," sela Umi. "Mari langsung makan."


Sambil mengontrol hatiku, juga pikiran di otakku agar tak sampai kelewat batas, aku mengambilkan piring untuk Mas Ilham dan mengisi piringnya dengan nasi, lauk, dan lalapan, plus menuangkan segelas air putih untuknya.


Dia tersenyum. "Terima kasih, Sayang," katanya, tanpa malu di depan kedua mertuanya, ia tetap memanggilku sayang.


Makan malam pun berlangsung hangat ditemani obrolan santai yang didominasi oleh Abi dan Mas Ilham, sedang anggota keluarga yang lain menjadi pendengar dan ikut menimbrung dalam tawa.


Aku sudah berusaha seceria mungkin di sepanjang jam makan malam, namun pada saat kami hendak pergi, rasa melow yang meliputi hatiku tetap tak bisa kutahan. Bukan lagi karena aku akan berpisah atap dengan Umi, itu tidak jadi masalah sebab rumah kami tidak terlalu jauh, masih di kawasan rembang juga. Tapi entah kenapa, aku takut kalau fitnah dan teror yang ditujukan kepadaku tak hanya sampai di situ. Aku sangat takut akan hancurnya kepercayaan di antara aku dan Mas Ilham. Aku takut, waktu perkenalan yang sebegitu singkat, membuat ia tak cukup percaya akan tulus dan dalamnya perasaanku terhadapnya. Padahal demi Allah, aku tak mungkin akan bersedia menikah dengan Mas Ilham seandainya aku tidak mencintainya. Aku bukan penganut kepercayaan bahwa cinta bisa datang setelah pernikahan. Bukan. Sebab, dalam setiap langkah dan keputusan besarku di dalam hidup, aku percaya, apa pun itu mesti kulandasi dengan hati dan cinta sebagai awal keikhlasan.


"Sering-sering mampir ke sini, ya," kata Umi. "Jaga anak Umi dengan baik."


Mas Ilham mengangguk. "Inshaallah, Umi. Ilham akan menjaganya dengan baik, dan kami akan sering ke sini."


Aku tersenyum, dan kami kembali berpelukan. Sedangkan Abi tak banyak berpesan, pastilah dia sudah bicara banyak dengan Mas Ilham di belakang kami, sebagaimana aku yang banyak menitipkan pesan kepada Laila dan Laili untuk menjaga dan menemani Umi. Aku bahkan meminta mereka untuk cepat-cepat mengabariku kalau terjadi apa-apa pada mereka semua.


"Selamat berbahagia pengantin baru...!" seru Laila saat mobil Mas Ilham meluncur perlahan dari parkiran. Kami tersenyum dan saling melambaikan tangan.


Di jalan, aku dan Mas Ilham tak banyak bicara. Dia fokus menyetir dan hanya sesekali melirikku sambil tersenyum hingga kami sampai jua di rumah yang ia jadikan sebagai surga kecil untuk kami berdua.


"Alhamdulillah, sampai," kata Mas Ilham, persis saat mesin mobil berhenti meraung. "Welcome home, My Wife. Bidadari Surgaku."


Ck! Dia mulai kumat.


Aku tersenyum kepadanya. "Terima kasih," ucapku.

__ADS_1


Dengan semringah, Mas Ilham membukakan pintu untukku, lalu mengeluarkan koper pakaianku. Kemudian, digandengnya tanganku dengan mesra dan kami pun masuk ke dalam rumah.


"Ada banyak waktu untuk melihat-lihat, tapi besok saja, ya. Sudah malam."


Aku mengangguk. Dari pintu depan yang sudah kembali terkunci, Mas Ilham menggandengku lagi dan kami menyusuri ruang demi ruang, lalu menaiki sebuah tangga ke lantai atas, ke kamar kami.


Yap, kamar pengantin kami yang indah. Dekorasinya sungguh menawan.


"Kamu suka?" tanya Mas Ilham.


Aku mengangguk, senyumku mengembang sempurna. "Terima kasih, Mas. Ini sesuai dengan kamar pengantin impianku."


"Sama-sama. Apa pun untukmu, Zahra."


Ah, Mas Ilham. Nada bicaranya membuat perasaanku kembali melow. Aku tidak tahan dan langsung memeluknya. "Terima kasih untuk segalanya, Mas. Aku mencintaimu."


Namun, seorang ibu tak bisa dibohongi, dari mataku dia tahu kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sebab itu, ponselku berdering, menjedah kemesraan kami. Umi meneleponku dan bertanya ada apa. Dari suaranya yang pelan, nempak sekali jika ia meneleponku diam-diam di belakang Abi.


Tetapi, aku tak mungkin menjelaskan apa yang terjadi, dan Umi juga tidak memaksaku untuk bercerita. Sebagai gantinya, ia menasihatiku bahwa sebagai seorang istri, aku mesti bijak dalam bersikap. Harus bisa mengatasi masalah, meredamnya, dan bukan malah memperbesarnya. "Ingatlah selalu, Nduk, jangan pernah mengedepankan emosi. Bicarakan segala sesuatunya dengan baik, dengan kepala dingin."


"Yeah, Umi. Bila akan bersikap sepenuhnya seperti Umi. Kecuali pada satu hal itu, ya," kataku, sedikit bercanda.


Aku paham, dan mengiyakan segala wejangan Umi. Setelah berbicara dengannya, aku menyusul Mas Ilham yang keluar dari kamar pengantin kami yang super indah itu. Dekorasi yang membuatku takjub, namun sayang situasinya sekarang seperti ini: keadaan yang sebenarnya membuatku masih tak enak hati pada Mas Ilham. Aku masih takut ia meragukanku.


Please, Zahra, atasi situasi ini.


Kuhela napas dalam-dalam. Aku mesti bisa meyakinkan suamiku sepenuhnya. Dengan gugup, aku membuka koperku, melepas jilbab, mengganti pakaianku dengan gaun tidurku yang baru, dengan model terusan yang nampak lembut, selembut warna merah mudanya yang soft, lalu aku menyisir rambutku.


Aku yakin, aku mencintaimu, Mas. Dan aku sudah terikat denganmu. Aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita.


Huffft... kulangkahkan kakiku keluar dari kamar, rupanya Mas Ilham sedang duduk di ruang tengah, dan lagi-lagi nampak sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu apa, tapi ada ponsel dalam genggaman tangannya.


"Mas," panggilku.


Tertegun. Ia menatapku, dan seakan terpaku.


"Kamu lagi sibuk, ya?"


Tidak ada jawaban.


"Apa aku mengganggu?"


"Oh, tidak, kok. Sama sekali tidak." Dia pun berdiri dan menaruh ponselnya ke atas meja.


"Emm... kenapa kamu diam di situ? Eh, sori. Maksudku... tidak, tidak. Maksudku... begini, kalau kamu masih ada pekerjaan, tidak apa-apa. Aku... aku bisa kembali ke kamar."


Ck! Pengantin baru salah tingkah. Aku langsung berbalik.


"Zahra," panggil Mas Ilham.


Praktis aku mengurungkan langkah kakiku. Lalu, Mas Ilham menghampiriku, dan tahu-tahu ia mencium pipiku, membuatku kembali merona malu. Dan...


Ia berbisik di telingaku, "Biar aku menggendongmu, Zahra."


Aaah... Mas Ilham... romantisnya suamiku. Bagaimana Zahra nggak kelepek-kelepek coba?

__ADS_1


Betapa bahagianya digendong suami ke kamar pengantin di malam pertama. Malam yang indah akan segera dimulai. Malam pengantinku.


I love you, Mas Ilham. Aku sangat mencintaimu.


__ADS_2