Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Malam Kedua Bersamamu


__ADS_3

Seperti halnya Mas Ilham, aku pun juga memercayai bahwa benar adanya: aku adalah jawaban istiqharah yang ditunaikan oleh Mas Ilham. Jawaban atas doa dan setiap pinta yang ia panjatkan di setiap malam. Demi Allah, aku juga memercayai hal itu. Kebesaran Allah yang ia tunjukkan dalam peristiwa yang nyata. Menggetarkan hatiku akan betapa besar kuasanya yang menggariskan jalan kehidupan bagi setiap hambanya.


"Tahu, tidak, aku sudah beberapa kali bertemu dengan Umi sebelum aku bertemu denganmu? Bertanya padanya lebih detail tentangmu. Tapi yang kudapatkan bukan sekadar informasi, tapi juga harapan seorang ibu. Jadi, selain untuk diriku sendiri, aku berjuang untuk kebahagiaan banyak pihak. Dan usahaku dalam memperjuangkanmu tidak sia-sia, bukan?"


Ah, Mas Ilham, mulutnya aktif berceloteh, namun tangannya tak kalah aktif mengelus perut dan sekitar pinggulku dengan lembut.


Pun aku, dengan lembut aku meraih ke atas dan menyisirkan jemariku ke dalam tirai lebat rambut Mas Ilham yang hitam. Kemudian, tak mampu menahannya, aku menyusurkan bantalan ibu jariku di sepanjang bibir bawah Mas Ilham yang penuh. Seketika itu, mata Mas Ilham terpejam dan ia mencium jariku dengan lembut. "Tidak ada yang sia-sia, Mas. Kamu mendapatkan hatiku sepenuhnya."


"Aku tahu," bisiknya. Lalu ia menurunkan kepalanya dan membuatku kembali terbaring di atas ranjang. "Mari, kita bercinta seperti orang sakit jiwa," kata Mas Ilham tepat di depan wajahku. Seketika, jantungku mulai berdentam-dentam dan suatu kebutuhan mendasar yang ganas bangkit di dalam diriku saat Mas Ilham menempelkan tubuh polosnya di tubuhku.


Bibir Mas Ilham sempurna, hangat dan teramat manis. Ia menyapukan bibirnya kembali ke tubuhku, menggigit ringan, mengisa* lembut, dan menggesek kulitku dengan brewok di rahangnya. Hidungku mengembang, menghirup aroma musk hangat di tubuh pria perkasa itu.


Dia memanjakanku. Dengan luwes, mulut manis Mas Ilham turun menutupiku dalam ciuman yang kaya oleh rasa cinta. Bibirnya menekan ringan bibirku, mengulu* mulutku dengan hangat. Tapi, ketika aku mencoba memperdalam ciumanku, membuka mulut di bawahnya dan mengelus bibir bawah pria itu dengan lidahku, Mas Ilham malah menarik diri.


Hmm... ponselnya berdering di saat yang tidak tepat.


Mas Ilham berguling ke samping dan mengulurkan sebelah lengan meraih ponselnya di kepala ranjang. "Telepon dari Mas Muslim," gumamnya, lalu ia menggeser opsi terima panggilan.


Aku bergeser ke siku satunya dan menunduk menatap Mas Ilham, mendengar suaranya yang bicara di telepon seraya membiarkan telapak tanganku menyusuri sekitar pinggang lalu naik ke bagian atas tubuhnya, membelitkan jemariku pada rambut-rambut halus yang menutupi dada bidangnya. Bisa kurasakan, panas tubuh Mas Ilham dan kekuatan yang meluap di dalam dirinya, dan itu membuatku bergidik dan gemetar.


Aku tahu Mas Ilham juga merasakannya. Di bawah sentuhanku ia pun bergidik dan gemetar, dan kemudian ia berdeham, suaranya tersiksa yang manis dan dalam. Dia pun tidak tahan dan segera menutup telepon.

__ADS_1


Merasa semakin berani, aku menyentuh titik di dadanya, yang seketika mengeras dan tegang di bawah ujung jariku. Untuk sesaat, aku membiarkan tanganku menggoda dan bermain-main dengan tidak yakin, lalu dengan berani kutemukan ia dengan mulutku. Seperti yang telah dilakukannya kepadaku, aku mengambil satu ke dalam mulutku, ingin tahu bila hal itu bisa memuaskannya.


Itu benar. "Ah, Zahra!" Mas Ilham tercekat.


Dengan malu, kusapukan lidahku di atas tubuhnya dengan ringan, dan jemari pria kekar itu mencengkeram bahuku, menekan ke dalam kulitku. Kembali, pria kekar itu mengeran* lapar, tapi aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin menyiksanya. Sebagaimana ia telah menyiksa diriku.


Ya, ini adalah khayalanku, dan aku bermaksud bersenang-senang di dalamnya. Lagipula, ini menjadi satu kesempatan untuk menikmati, untuk belajar, dan aku bermaksud melakukan keduanya.


Seolah ditarik oleh kekuatan yang tak bisa ditahan, jemariku menyusuri celah di antara kakinya. Hasratnya bangkit di antara jemariku, menyeruak dari penutup selimut merah jambu, lurus, kuat, dan berdenyut.


"Boleh aku merasakannya?" tanyaku ragu-ragu.


"Oh, Tuhan," Mas Ilham berbisik, satu tangannya menyelinap turun ke dalam rambutku, dengan lembut membuai kepalaku. "Sayang, eummm, berhenti...."


Tapi ia tidak bergerak untuk menghentikanku. Dia terus mengeran*, menikmati dengan penuh gairah.


Aku menariknya dalam-dalam di kehangatan mulutku. Untuk menyeimbangkan diri, aku menyelinapkan satu tangan di sekitar pahanya.


Yeah, mula-mula memang terasa canggung, lalu lebih yakin, saat irama belaian itu terbangun. Masih membuai belakang kepalaku, Mas Ilham membiarkan tangan satunya mencengkeram bahuku, jemarinya mengencang tak beraturan di kulitku. "Ya Tuhan, Sayang," ia berbisik, kata-katanya tercekik. Pahanya mengencang, pinggulnya menyentak maju dengan mendesak.


Tiba-tiba, jemari yang sebelumnya membuai dengan lembut kepalaku tiba-tiba mengepal di kulit kepalaku, menarik ikatan rambutku.

__ADS_1


"Stop, Yang...!" dengan serak dan kasar ia berbisik.


Aku menengadah untuk melihat kepala Mas Ilham tersentak ke belakang, mulutnya membuka dalam jeritan tercekat tanpa suara. Dalam satu gerakan menuntut yang cepat, dia mengangkatku naik dan mendekapku. Dengan canggung, kakiku tersangkut selimut. Aku terhuyung dan jatuh tertelungkup di atas tubuh Mas Ilham.


Dan kemudian, aku tak mengingat bagaimana persisnya, Mas Ilham menyeretku turun ke lantai. Dengan mendesak dan tanpa bicara, kebutuhan yang mendasar dan tanpa ampun, ketidaksabarannya tampak nyata. Dengan geraman jantan, dia merentangkan tubuhku dengan jemarinya. Merasakan sentuhannya, aku bergidik, membuka diri baginya dan menatap matanya yang menyala liar.


Secara naluriah, aku melingkarkan satu kaki di pinggang Mas Ilham dan menariknya turun. Dan, gila! Dia memasukiku dalam satu sentakan keras, dengan kasar mendesakkan dirinya ke dalam, menumpukkan tubuh di atasku dengan satu tangan. Otot lengan dan lehernya mengencang saat dia menghunjamkan dirinya ke dalamku bagaikan pria yang kerasukan.


Kemudian, matanya terpejam rapat. Kepalanya menengadah, tersentak berulang kali. "Ah, Zahraaaaa...," suaranya parau, dengan berapi-api memompa dirinya ke dalam diriku, mendorongku ke belakang. Aku merasakan ujung kepalaku tergesek di lantai. Pria perkasa itu mendesakkan diri dengan gila kepadaku, menghentak-hentak hingga aku pun menjerit menanggung nikmat. Dan akhirnya, Mas Ilham mendesakkan dirinya untuk terakhir kali, lalu roboh terkulai, gemetar di dalamku, juga di atas tubuhku.


Dengan gemas, aku menekankan bibirku pada kulit lembap leher Mas Ilham dan kurasakan ia menelan ludahnya dengan tegang. "Oh, Sayang. Are you okay?"


Aku mengeluskan telapak tanganku menenangkan di punggung Mas Ilham. "I am okay. Aku sangat menyukai kegilaanmu."


Tawa kecil Mas Ilham terdengar. Dia menguburkan wajahnya di rambutku yang kini tergerai liar acak-acakkan. "Maaf," engahnya. "Kamu membuatku tidak bisa mengendalikan diri. Membuatku kecanduan dan merasa seperti orang gila."


Dengan menahan tawa, aku menyapukan bibirku di dasar lehernya. "Kurasa aku tersanjung."


Dengan kikuk, Mas Ilham mengangkat dirinya dan menunduk menatap wajahku untuk waktu yang lama. "One more, please? Aku masih punya cukup tenaga untukmu. Kamu masih sanggup, kan?"


Hah! Dasar edaaaaan...!

__ADS_1


__ADS_2