
Aku dan Mas Ilham berangkat pada esok harinya. Hari kamis pagi tanggal 4 Agustus. Sampai kami tiba di parkiran Bandara pun, aku masih belum tahu ke mana tujuan kami. Namun setelah di dalam, setelah ikut antrian panjang, aku baru tahu kalau Mas Ilham hendak mengajakku ke San Francisco.
Huh! Dasar udik! Aku malah kebingungan sendiri, mau apa ke San Francisco? Kenapa dia mengajakku ke sana? Sejauh itu, ke salah satu kota terbesar di negara Amerika? Wah, ada apa ini? Pikiranku mulai mengembara. Tapi, meski aku bertanya, Mas Ilham tidak memberikan jawaban. Dia hanya tersenyum kepadaku dan memintaku jangan bawel dan jangan rewel. Ikut saja, katanya.
Tetapi aku tidak tahan untuk tidak menyuarakan protesku ketika aku mencari-cari informasi dari internet bahwasanya penerbangan dari Indonesia menuju San Francisco itu butuh waktu berjam-jam dan beberapa kali transit. Apalagi kami berangkatnya dari Rembang. Bayangkan.
"Ya Tuhan, aku takut kalau harus terbang berjam-jam, Mas...."
Mas Ilham malah terkekeh. "Sebab itulah aku tidak memberitahumu ke mana tujuan kita."
"Mas... tapi...."
"Ada aku, Sayang...."
"Terlalu lama terbangnya...."
"Ada aku."
"Aku takut...."
"Ada aku, Zahra. Ada aku. Tenang. Oke?"
Asli, aku kepingin lari.
"Rileks. Hadapi ketakutanmu. Oke? Demi bulan madu impian kita, kamu mau, kan, menemani aku? Hmm? Mau, kan, Zahra?"
Uuuh... Mas Ilham mencium tanganku. Entah bujukan, entah rayuan, yang pasti aku meleleh.
__ADS_1
"Please?"
"Iya. Aku mau."
"Terima kasih, Zahra. Aku mencintaimu."
Oh dunia... betapa indahnya. Sikap romantis Mas Ilham membuat dadaku kembang kempis karena bahagia.
"Sudah, ya. Jangan takut lagi. Sini, Mas Ilham peluk."
Duuuh... auto menyuruk ke dalam dekapannya. "I love you too, Mas Ilham. Zahra juga sangat mencintaimu."
Ah, manjanya aku. Mau bagaimana lagi? Aku amat sangat bahagia bersuamikan pria sesempurna dirinya.
"Dari sekian banyak pilihan tempat, kenapa kita ke San Francisco?"
Mas Ilham nyengir, lalu terkikik geli. "Sebenarnya aku mau mengajakmu ke salju abadi di Puncak Jaya, Papua. Eh, mahal banget ternyata kalau pakai agen perjalanan. Seratus tiga puluhan perorang. Ya emoh! Buang-buang uang. Terlalu berfoya-foya."
Auto pura-pura ngambek.
"Ya iyalah, Sayang. Aku kan bukan sultan." Lalu ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sesuatu. "Uang segitu... mending aku belikan ini. Untukmu, istriku tercinta."
Kembali, hatiku bahagia. Ada banyak bunga berhamburan di dalam dada. Mas Ilham memberiku sebuah kalung cantik. "Untuk aku?" tanyaku bagaikan tak percaya. "Terima kasih, Mas...."
"Nah, kalau ini namanya bukan membuang uang. Ini hanya merubah bentuk uang menjadi perhiasan. Tidak ada ruginya. Malah untung. Beberapa tahun ke depan harganya bisa dua kali lipat dari harga sekarang."
Ya ampun, sekarang aku yang terkikik geli mendengar penuturan Mas Ilham yang jujur dan apa adanya atas pola pikirnya yang amazing itu. Mas Ilham tetap seperti dirinya yang sediakala. Kalau mau menghabiskan uang, baginya, habiskan di jalan Allah. Uangnya habis, pahalanya dapat. Sedangkan untuk perhiasan itu sendiri, dia menganggap bahwa nominal materinya sama sekali tidak berkurang, sebab itu hanya penukaran dua benda, dan itu diberikan kepada istrinya sendiri. Istri bahagia, rumah tangga semakin hangat, dan pahalanya pun dapat. Amazing, bukan? Perhitungan yang realistis.
__ADS_1
Yah, aku maklum. Karena dia bukan semacam artis yang uangnya mengalir hanya dengan tampangnya tersorot oleh kamera dan ia unjuk talenta. Entah untuk akting, menyanyi, ngehost, atau apa pun profesi yang sejenis.
Well, auto simpan perhiasan baru ke dalam tas.
"Aku paham," kataku. "Tapi kan kalau berkunjung ke Amerika Serikat biayanya juga tidak sedikit, ya kan?"
Lagi-lagi Mas Ilham nyengir, lalu dia berkata, "Semua ini paket liburan gratis, Sayang. Maaf, ya."
Hmm... kan... kan....
Aku cemberut. "Jadi...?"
"Ada undangan syukuran temanku di sana. Dia mau aku datang. Jadi, sekalian kita bisa bulan madu gratis. Kenapa mesti dilewatkan? Hmm?"
Hmm... lagi-lagi aku mesti menarik napas dalam-dalam. "Siapa memangnya temannya Mas Ilham itu? Kok loyal sekali?"
"Hamba Allah. Seseorang yang pernah datang kepadaku karena ingin mengenal Islam dan menjadi seorang muallaf. Buah dari kebaikan dan untuk menjaga tali silaturrahim, tidak semestinya ditolak, bukan? Iya, kan, Zahra?"
Masyaallah... aku mengangguk.
"Tapi... bulan madu bersamamu, itu tetap menjadi prioritas yang pertama dan utama. Walaupun kita tidak pergi ke San Francisco, kita tetap akan bulan madu. Ke Jonggol."
Iiiiih... aku mendelik. "Masa ke Jonggol, sih, Mas...?"
"Hanya bercanda, Sayang...."
"Menyebalkan, tahu!"
__ADS_1
"Masa? Tapi aku sangat mencintaimu, Zahra. Senyum, dong, please? I love you."
Uuuh... suamiku manis sekali. Sungguh, dia membuatku semakin cinta.